Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 100. Mengharukan.


__ADS_3

Dua Minggu kemudian.


Di rumah sakit.


Hari persalinan Milea telah tiba, sebentar lagi penerus Armada Group akan lahir ke dunia.


Dan tetap seperti keinginan awal Milea bahwa wanita calon ibu itu ingin melahirkan normal.


Lantai VVIP sudah di jaga dengan ketat.


Sementara itu di ruangan bersalin semua peralatan dan kesiapan tim dokter sudah sempurna tinggal menunggu.


Situasi panik memenuhi ruangan.


"Dimana yang sakit katakan padaku," pinta Leonardo, bahkan pria itu saat ini berlutut di samping pembaringan istrinya, Milea tergelak kecil memamerkan giginya. Dia sudah mengalami kontraksi awal pembukaan. Pinggangnya sudah berdenyut secara konstan.


Tapi ini berbeda dengan saat ia mengalami kontraksi mendadak. Rasa sakitnya jauh terasa lebih ringan dan stabil. Hingga ia sendiri juga merasa bingung. Kok tidak sesakit seperti yang hatinya siapkan untuk menunggu hari ini. Walaupun tetap terdengar rintihan menyayat di telinga Leonardo.


Setiap orang mengalami proses kontraksi dan pembukaan jalan lahir yang berbeda. melakukan olah raga fisik ringan dan senam hamil bisa membantu dalam proses persalinan. Milea rutin melakukannya dalam Ahir bulan ini, karena dia pun tidak bisa pergi kemana pun. Apa karena itu ya? Milea berspekulasi sendiri. secara, kesiapan dia sudah siap.


Ayah dan ibunya yang sudah datang tadi memberikan support luar biasa untuknya, apa lagi saat sang Ayah menyentuh kepalanya dan memberikan semangat.


Dan sekarang ada orang panik yang berlutut di sampingnya, tanpa pedulikan tatapan terheran dari dokter dan perawat yang ada di dalam ruangan.


"Aku masih bisa menahannya Tuanku, duduklah ngapain berlutut begitu." Menepuk tempat tidur di sampingnya.


Kontraksi melahirkan itu unik ya, sakitnya sesuai frekuensi. jadi kalau sedang tidak kontraksi. milea masih bisa tertawa-tawa sambil menggoda kepanikan Leonardo. tapi kalau mulai terasa sakit dia akan, memegang pinggir tempat tidur, menggigit bibirnya, lirih suara rintihan terdengar. begitu selalu berulang.


"Mengapa kau tahan-tahan, kalau sakit katakan sakit." mengusap keningnya sendiri frustasi. menggulung kemejanya sampai ke siku.


perawat juga tim dokter yang berdiri di dekat pintu menahan nafas, antara geli sendiri bercampur takut. selama ini yang mereka tahu dari sosok Leonardo adalah apa yang dibungkus media. namun melihat situasi seperti sekarang rasanya semua penampilan yang ditunjukkan selama ini hanyalah polesan media belaka.


"Katanya sakitnya luar biasa tapi kenapa kau tidak menangis." Ahirnya duduk, sambil mengusap bahu menyalurkan cinta.


Leonardo menoleh pada tim dokter dan perawat yang sedang menunggu siaga. "Apa karena mereka?"


Singnn, suhu udara ruangan menjadi naik beberapa derajat karena lirikan tajam Leonardo.

__ADS_1


"Ini tidak ada hubungannya, aduh, mulai lagi berdenyut lagi." Milea memiringkan tubuh ke kiri sesuai instruksi dokter. menggigit bibirnya erangan kecil yang menahan rasa panas yang menjalar di pinggangnya.


"Mana, mana yang sakit." Kembali berlutut, mengusap pinggang Milea yang berdenyut. Milea mengerang kecil tapi tangannya mencengkram pinggiran tempat tidur dengan erat.


begitu yang terjadi berulang kali, tenang sebentar, erangan kecil menyusul kemudian. berjalan bergantian saling mengejar.


ketika melihat gurat wajah milea dan mengkerut, seluruh saraf di kepala Leonardo seperti langsung tersentak kaget. dia bisa merasakan kesakitan itu menjalar di kulitnya.


Sampai ahirnya tiba waktunya Milea harus mengejan untuk membantu calon bayi keluar.


Leonardo sigap berdiri di samping Milea, menggenggam tangan Milea, air mata Leonardo sudah membasahi pipi, apa lagi saat Milea harus berteriak dengan sekuat tenaga, Leonardo semakin kuat memegang tangan Milea seolah memberikan kekuatan untuk wanitanya.


Sampainya tiba Milea harus mengejan kuat Leonardo sampai ikut bersuara, reflek karena mendengar Milea mengejan dan bersamaan itu suara tangis bayi terdengar.


Hah, Leonardo dan Milea langsung bernafas lega, rasanya di dalam perut Milea langsung plong, Leonardo mengusap keringat di dahi Milea, dan menghujani kecupan demi kecupan di wajah wanita yang sudah melahirkan penerusnya.


"Terimakasih sayang, terimakasih ... Terimakasih hiks hiks." Leonardo berbisik di telinga Milea sembari menangis terisak.


Milea tidak bisa menjawab dengan kata-kata, perlahan tangannya terangkat mengusap punggung suaminya yang bergetar itu, Milea juga meneteskan air mata, sungguh luar biasa bahagianya menjadi seorang Ibu, Milea ingin mengatakan seperti itu, tapi bibirnya tak kuasa, hanya air mata sebagai jawaban bahwa Milea bahagia terharu.


Leonardo menatap wajah Milea dan mencium kening Milea begitu dalam.


Leonardo menoleh melihatnya, hatinya berdesir, tangannya masih berpegangan dengan tangan Milea.


Tidak lama kemudian setelah bayi di bersihkan, suster langsung memberikannya pada sang Ibu untuk diajari menyusu dini.


Milea bahagia sampai tidak terasa malah menangis saat tubuh mungil nan lucu itu berada di dadanya, di dekapannya. ternyata bayi kecil itu cukup pintar sudah mulai bisa menyesap pelan-pelan.


Jemari putih yang menggemaskan itu menggenggam jari telunjuk Milea, sungguh saat ini Milea sangat bahagia.


Leonardo mengusap lembut punggung bayi itu yang masih lembut, hati Leonardo ada perasaan bergejolak tidak menentu.


"Aku mencintai kalian." Leonardo tersenyum melihat kedua kesayangannya.


Tiga jam kemudian.


Milea sudah di pindahkan ke ruang rawat, di sana juga ada baby yang lagi tidur di pangkuan Milea, semua orang kumpul di dalam ruangan ini.

__ADS_1


Ada Arga, ada Ayah Roni, Ibu Fera juga Tamara. Dan Sekertaris Alan. Mereka semua melihat bayi kecil yang lucu itu.


Ayah Roni mendekati Milea, mencium puncak kepala Milea dan bergantian mencium puncak kepala sang cucu. "Selamat Nak. Sekarang kamu telah menjadi Ibu."


"Terimakasih Ayah." Milea membalas ucapan ayahnya.


"Kita Vidio call ibu ya," ucap Leonardo yang duduk di sebelah Milea.


Tidak lama kemudian sambungan telepon Vidio call terhubung, seketika wajah sang ibu yang Leonardo rindukan telah terlihat, sudah lama pergi meninggalkan mereka berdua dan tidak pulang-pulang.


"Ibu, lihatlah cucu ibu sudah lahir." Leonardo mengarahkan kamera hp ke tepat ke wajahnya anaknya.


Di sana Ibu Alenta menangis, di saat sang cucu lahir tidak bisa menemani karena masih berada di Australia.


"Selamat sayang kamu sudah menjadi Ayah, dan Lea selamat juga sayang kamu sudah menjadi Ibu," ucap Ibu Alenta di seberang sana melalu sambungan Vidio call, suaranya terdengar serak, jelas saat ini Ibu Alenta menangis.


"Terimakasih Ibu, cepatlah pulang kami menunggu Ibu," ucap Milea penuh harap.


Setelah mendapat anggukan kepala Ibu Alenta sambungan telepon dimatikan.


Leonardo kembali menyimpan hp nya, Leonardo memeluk pundak Milea, matanya melihat wajah bayinya yang sangat tampan hidung mancung serta alis tebalnya mirip sekali dengan milik Leonardo.


"Dia sangat tampan sayang." Leonardo bicara lirih. Dan saat itu juga bayi mungil itu mengeliat seolah memberi respon ucapan ayahnya.


"Hahah, lucu sekali dia." lanjut ucapnya kali ini sambil mencium pipi Milea.


Pokoknya tidak pedulikan masih ada keluarga di ruangan ini, Sekertaris Alan sampai geleng-geleng kepala melihat Leonardo yang main cium-cium istrinya.


Saat Leonardo mau mencium pipi Milea lagi, wanita itu menghentikannya seraya menatap wajah Leonardo. "Berikan nama buat dia, jangan malah asyik cium-cium aku."


Leonardo tergelak tawa kecil, karena terlalu bahagia sampai melupakan belum memberikan nama untuk bayinya.


"Aku memberi nama Elang ... Aku berharap sama dia kelak dewasa lebih baik dari aku."


Selesai bicara Leonardo kembali memeluk Milea bahkan kali ini mencium bibir Milea.


Begitulah suasana yang terjadi di ruang rawat Milea setelah melahirkan si kecil. Semua orang tidak ada yang protes melihat tingkah Leonardo.

__ADS_1


TAMAT.


__ADS_2