
Hiks hiks.
Suara isak tangis Milea, hanya hatinya yang mampu menjerit, air matanya bukan sekedar kesedihannya tapi juga adalah teman yang menemaninya dalam kesakitan yang dirasa.
Cukup lama Milea menangis bersedih, entah di jam berapa ahirnya Milea tertidur, melewati malam yang panjang.
Ketika pagi tiba, Milea yang baru bangun tidur, belum beranjak turun, masih duduk melihat ke arah sofa tempat itu rapi, berpikir Leonardo tidak tidur di sana semalam.
Milea menghela nafas panjang, pagi ini Milea akan kembali bersikap seperti biasanya, tidak akan memikirkan kejadian yang semalam, diingat pun hanya akan membuat hati sakit, Milea lebih milih berdamai dengan takdir.
Dengan langkah malas Milea berjalan menuju kamar mandi, mencuci muka, dan sekalian mengisi bathtub untuk Leonardo mandi.
Milea keluar dari kamar mandi, di luar sudah ada Leonardo, pria itu hanya diam seperti biasanya, berharap pria itu akan minta maaf, sampai lebaran monyet sepertinya tidak mungkin pikir Milea, kemudian berjalan pergi menuju lemari pakaian.
Menyiapkan pakaian kerja, setelah semua disiapkan Milea milih keluar kamar, menuju lantai satu, di sana Milea melihat pelayan yang lagi bersih-bersih, ingin ikut bersih-bersih seperti dulu tapi takut membuat masalah baru.
Milea hanya bisa tersenyum, kini berjalan ke halaman depan, melihat tanaman bunga-bunga yang sedang di siram, tidak lama kemudian Sekertaris Alan datang membawa mobil.
Apa Tuan dan Nyonya semalam melakukan, batin Alan saat melihat leher Milea banyak tanda merah.
Milea bingung saat melihat pelayan ketika bertemu dengannya senyum malu-malu kemudian menunduk.
Apa ada yang aneh dengan aku, gumam Milea. Tidak mau ambil pusing Milea lebih milih masuk ke ruang dapur.
Sampai di sana para pelayan dapur juga melakukan hal yang sama, tapi Milea tidak pedulikan menganggap mereka hanya iseng saja.
Mereka juga tidak ada yang berani meledek Milea, meski melihat tanda merah di leher Milea.
Masakan yang sudah matang Milea pindah ke meja makan, di sana sudah ada nasi, sayur, susu, lauk, masih ada satu yang kurang yaitu buah.
Pagi ini Leonardo mau sarapan dengan sandwich, Milea melihat cara Pak Ahmad membuat sandwich untuk Leonardo, bibir Milea menyebik merasa gampang cuma gitu doang pikirnya.
__ADS_1
Pasti rasanya sama aja, aku malah pernah bikin bareng sef Arman, tapi kalo aku disuruh buatkan tidak mau, pura-pura tidak bisa saja lah, malas di susahin dia, batin Milea sembari terus melihat sandwich buatan Pak Ahmad.
Setelah sandwich untuk Leonardo sudah jadi, Milea membawanya ke meja makan.
Tidak lama kemudian Leonardo dan Ibu Alenta masuk ke ruang makan, Milea menarikan kursi untuk Leonardo duduk.
Setelah semuanya memakan sarapannya, Ibu Alenta makan dengan nasi dan sayur, Milea makan dengan bubur, Leonardo makan dengan sandwich.
Leonardo melirik Milea, tergelak tawa kecil saat melihat leher Milea hasil karyanya, mungkin arti tawanya itu bangga.
Leonardo juga diam tidak memberitahu Milea untuk menutupi lehernya, biarlah semua orang melihatnya pikir Leonardo, mode pamerannya mulai muncul, pamer hasil kecupan.
Selesai sarapan pagi Leonardo langsung berangkat kerja, Milea langsung masuk ke dalam rumah, setelah barusan mengantar Leonardo sampai halaman rumah.
Saat Milea dari halaman berjalan masuk melewati ruang tamu, Ibu Alenta melihat Milea karena posisi duduk di sana, rambut Milea yang diikat tinggi serta memakai kaos oblong, mengekspos jelas lehernya yang banyak tanda merah.
Ibu Alenta sampai terbelalak matanya, untung saja posisinya saat ini duduk, bila berdiri bisa langsung ambruk karena sangking terkejutnya.
Menatap kesal, tangannya terkepal, dirinya bukan tidak tahu itu tanda apa, Ibu Alenta sudah berpikir jauh bila Milea dan Leonardo sudah anu anu.
Sedangkan Milea yang saat ini sudah berada di dalam kamar mandi, seketika menjerit melihat lehernya yang banyak tanda kecupan, tadi pagi saat cuci muka Milea tidak fokus memperhatikan lehernya.
"Mengapa seperti ini ih ih!" Milea kesal menggosok warna merah di lehernya menggunakan tangan namun malah membuat warna lehernya makin merah, apa lagi kulitnya yang putih.
"Mengapa hasil jejaknya seperti ini." mendekatkan lehernya ke cermin. "Dia sudah seperti drakula, lihatlah hasil jejak gigitannya" imbuhnya lagi seraya terus memperhatikan hasil kecupan itu.
Milea menghela nafas kasar, tidak ingin buang waktu, ahirnya milih segera mandi.
Hanya butuh waktu sepuluh menit Milea sudah selesai mandi, kini sedang berpakaian, setelah itu duduk di kursi depan meja rias, demi tidak ingin dilihat dua temannya di toko roti, Milea menaburi lehernya dengan bedak supaya tidak jelas warna merahnya.
"Milea kamu jangan membuat dia marah, jangan pedulikan hatimu bila lagi kesal dengan dia, atau kamu mau berakhir seperti ini," bicara sendiri seraya terus mengingatkan diri sendiri.
__ADS_1
Milea merasa kapok dibuat lehernya merah oleh Leonardo, tiba-tiba teringat para pelayan yang tadi senyum-senyum aneh padanya.
Aaaaa! Milea menjerit mengacak lagi rambut yang sudah disisir rapi, malu benar-benar malu yang saat ini Milea rasakan.
Pasti mereka melihatnya, hah mau ditaruh mana muka aku, batin Milea mendadak bingung dan malu mau turun ke bawah jika bertemu pelayan lagi.
Melirik jam tangannya sudah hampir pukul delapan, itu artinya Milea harus berangkat kerja saat ini juga.
Milea membuang nafas berat, meraih tas yang selalu ia bawa, buang rasa malu turun ke bawah, sampainya di lantai satu Milea berlari cepat tidak mau di sapa para pelayan, masih merasa malu.
Sampai detik ini Milea masih menggunakan ojek online untuk berangkat kerja, kode-kode mau dibelikan mobil sepertinya belum tercium, sekuriti menutup kembali gerbangnya setelah Milea keluar pergi bersama Abang ojek.
Sampai di tengah jalan, sekitar lima belas menit lagi akan sampai di toko roti Milea, namun tiba-tiba suara sepeda motornya dret dret, kemudian mati dan berhenti.
"Pak kenapa motornya?" tanya Milea seraya menepuk pundak Abang ojek, kemudian turun dari atas motor.
"Mogok Neng," jawab Abang ojek setelah mengecek motornya.
Milea menghela nafas panjang, tempat toko rotinya masih jauh, mau jalan juga tidak mungkin.
Dari tempat Milea berdiri saat ini ada sebuah mobil yang sedang melaju, pengemudinya menatap ke arah Milea yang merasa kenal dengan Milea, dan setelah mobilnya semakin mendekat pria di dalam mobil itu tersenyum setelah jelas melihat siapa yang saat ini berdiri.
Milea bingung saat tiba-tiba ada mobil bagus berhenti di depannya, posisinya saat ini di pinggir jalan.
Pria itu menurunkan kaca mobilnya, seketika Milea tahu siapa yang membawa mobil itu.
"Milea kamu mau kerja, mari aku antar," ucapnya dengan tersenyum ramah.
Milea awalnya menolak merasa tidak enak hati, tapi pria itu memaksa Milea sampai turun dari mobil untuk menjemput Milea.
"Terimakasih Tu-Tuan," ucap Milea mengangguk kecil.
__ADS_1
"Hansen, panggil aku Hansen."
Milea mengangguk lagi, mobil kemudian melaju menuju tempat kerja Milea.