Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 94. Keluarga Milea berkunjung.


__ADS_3

Matahari mulai tenggelam, malam pun mulai menyambut, orang-orang yang beraktivitas dalam pekerjaannya mulai beristirahat.


Tapi sepertinya di kediaman Ayah Roni masih pada sibuk, mempersiapkan untuk datang ke rumah Leonardo sang menantu satu-satunya saat ini.


Di dalam kamar Tamara, gadis itu yang paling lama berdandan, padahal mau bertemu Leonardo yang tidak mungkin pria dingin itu menatapnya, tapi Tamara mempersiapkan diri dengan sempurna.


Memoles wajahnya dengan make-up tebal, siapa pun yang melihat pasti langsung bilang wow.


Ibu Fera, Arga, juga Ayah Roni yang saat ini sudah siap dan menunggu di ruang tengah sampai merasa geram karena Tamara tidak keluar-keluar juga.


"Bu, panggil Tamara Bu kita sudah mau kemalaman," ucap Ayah Roni memerintah Ibu Fera sembari melihat jam tangannya.


"Anak itu memang menghambat waktu," umpat kesal Ibu Fera sembari berjalan menuju kamar Tamara.


Sementara Arga hanya menghela nafas berat sudah paham sama sifat kakaknya yang satu ini, selain manja juga pasti suka cari perhatian, apa lagi di sana ada suami kak Lea nya yang tampan.


"Perasaan Milea tidak seperti itu apa bila mau diajak keluar." Ayah Roni tiba-tiba membanding-bandingkan.


Dih baru tahu, batin Arga mengejek Ayah Roni yang selama ini tidak pernah peduli dengan kak Lea nya.


Sementara itu dua wanita di dalam kamar saat ini malah ribut-ribut.


Ibu Fera memukul bahu Tamara. "Tamara! ayo ini sudah malam nanti sampai sana kemalaman Tuan Leonardo keburu istirahat!" geram Ibu Fera sama Tamara yang malah asyik berdandan.


"Sebentar Bu. Dikit lagi selesai," ucap Tamara yang masih saja tidak peduli dengan kekhawatiran ibunya.


"Ah sudah lah kamu Ibu tinggal!" geram Ibu Fera yang langsung keluar dari kamar tersebut.


"Ayah berangkat saja sekarang, tinggalkan Tamara anak itu masih lama," ucap Ibu Fera di ruang tengah.


Ayah Roni dan Arga langsung bangkit dari duduknya dan mereka bertiga langsung berjalan keluar menuju halaman rumah.


Setelah masuk ke dalam mobil dan siap mau dijalankan, Tamara dari arah pintu berteriak.


"Ayah tunggu!" Tamara berlari menuju ke arah mobil.

__ADS_1


"Lama sekali!" maki Ibu Fera pada Tamara namun gadis itu hanya tertawa.


Mobil ahirnya berjalan tepat saat ini pukul setengah delapan malam, semua ini terulur waktunya karena menunggu Tamara yang lama berdandan.


Tiga puluh menit, mobil sampai di rumah utama milik kediaman Leonardo, rumah megah dan mewah satu-satunya di komplek perumahan ini.


Saat mobil memasuki gerbang utama semua mata menatap kagum melihat indahnya bangunan rumah yang megah itu.


Pepohonan yang di rawat indah terdapat lampu hias yang menyala, memberi kesan indah di malam hari.


Saat ini semua sudah keluar dari dalam mobil, siap berjalan masuk ke dalam rumah. Pelayan datang menyambut mereka dan sekalian mengantarkan masuk.


Saat kaki Arga menginjak lantai teras rumah itu, hatinya berdesir memikirkan bagaimana perasaan Kak Lea pertama kali masuk rumah ini.


Terlihat indah bagi yang ingin masuk tapi terlihat seperti penjara dunia bagi yang tidak ingin masuk, melihat betapa ketatnya penjagaan rumah ini, siapa pun yang menjadi tawanan tidak akan bisa keluar.


Itulah yang Arga pikirkan sampai ahirnya Milea menjadi istri Tuan Leonardo pria dingin dan kejam yang ditakuti banyak orang.


Semoga kak Lea bahagia, doa Arga sebelum kakinya melangkah masuk di ruang tamu, dan duduk di sofa yang sudah disediakan.


Ibu Fera yang ingin menjilat bersikap sok manis jadi gagal setelah melihat wajah judes Ibu Alenta.


Pelayan datang lagi mengantarkan minuman juga kue kering untuk para tamu, setelah itu kembali ke belakang lagi.


Tokoh utama yang ingin ditemui belum nongol juga, Milea dan Leonardo saat ini masih berada di dalam kamar.


Leonardo sedang menyisir rambut Milea, wanita itu baru saja selesai mandi, biasa Leonardo membuat mandinya Milea jadi lama.


Katanya biar cepat mandi bareng, tidak tahunya malah jadi lama karena mandi plus-plus.


Kesal rasanya Milea karena Ayah dan ibunya sudah menunggu, namun mau bagaimana lagi, mau memarahi Leonardo juga tidak mungkin, mana berani Milea.


"Tuanku sudah cukup, ayah dan ibu sudah menunggu," ucap Milea dengan suara manja, karena biasanya Leonardo akan nurut apa bila Milea bicara manja-manja.


Tuh kan benar Leonardo langsung berhenti menyisir rambut Milea, dan berganti menarik hidung Milea dengan gemas.

__ADS_1


"Ayo turun," ucap Leonardo seraya menggenggam tangan Milea diajak keluar bersama.


"Aku mau memberi pelajaran untuk ayahmu juga ibumu, dan biarkan saja dia menunggu," bisik Leonardo di telinga Milea yang saat ini mereka sudah berjalan turun menapaki anak tangga.


Ya, Leonardo sudah tahu tentang keluarga Milea yang berlaku tidak adil sama Milea, sejak Milea kecil sampai Milea dewasa.


Setelah Milea dan Leonardo sampai di ruang Tamu semua orang matanya tertuju pada Milea juga Leonardo.


Pria tampan dan wanita cantik itu seketika jadi pusat perhatian walaupun memakai baju rumahan.


Dih mereka tidak memakai baju bagus, lihatlah Milea cuma pakai dress biasa dan Tuan Leonardo hanya memakai kaos lengan pendek dan celana jins selutut, seperti tidak menghargai kedatangan kami, batin Tamara mencibir.


Milea menyalami Ayah Roni.


Ayah Roni malah memeluk Milea dengan menangis. "Selamat, selamat atas kehamilanmu, Nak."


"Iya Ayah terimakasih sudah berkunjung," ucap Milea tulus sembari membalas pelukan Ayahnya.


Milea berganti menyalami Ibu Fera.


Ibu Fera juga melakukan hal sama mengucapkan selamat atas kehamilan Milea. Sampai Milea menyalami Arga dan berganti Tamara.


Setelah itu Milea kembali duduk di samping Leonardo, pria itu melingkarkan tangannya di pinggang Milea seraya menjatuhkan kepalanya di bahu Milea.


Leonardo malah pamer kemesraan yang tidak tahu tempat, padahal ada Arga yang dibawah umur batin Milea.


Tapi semua orang malah tertawa melihat tingkah Leonardo yang gemesin seperti kucing.


Bersatunya dua keluarga ini hanya bincang-bincang tentang keluarga, Ibu Alenta ikut menimpali juga walaupun tidak banyak bicara, Leonardo juga ikut bicara dan malah membuat lelucon.


Ya begitulah ahir malam pertemuan itu, setelah Ayah Roni bersama keluarganya pulang tepat pukul sembilan malam. Milea masuk kamar lebih dulu.


Ibu Alenta mengajak Leonardo bicara berdua di ruang kerja Leonardo.


"Ibu mau bicara apa!" ucap Leonardo dingin seraya menjatuhkan tubuhnya di sofa secara dramatis, tangan kanannya mengusap rambutnya ke belakang, matanya melirik Ibu Alenta yang masih berdiri.

__ADS_1


"Kharisma kembali, Ibu mau peringatkan sama kamu untuk hati-hati sama dia," ucap Ibu Alenta tulus.


__ADS_2