
Selama mengikuti pelajaran sekolah hari ini, Arga tidak semangat sama sekali, bawaannya malas, semua itu karena teringat ucapan ayahnya yang memintanya pindah sekolah ke luar negeri.
Mau dipaksa seperti apa pun aku tetap tidak mau! batin kesal Arga seraya menekan pena di atas meja dengan begitu kuat sampai pena itu ujungnya rusak.
"Arga kamu kenapa?" Ibu guru mendekati Arga, dan seketika suara ibu guru tadi mengundang perhatian semua murid.
Seorang Arga murid pintar dan cerdas, tidak pernah berantem dan berbuat kesalahan, terkenal sempurna, ditambah wajah tampan menjadi nilai plus.
Seorang guru sampai bertanya kenapa? itu ada tanya besar.
"Sedari tadi Ibu perhatikan kamu tidak semangat belajar." Ibu guru terus menatap lekat sembari melipat tangannya di depan dada.
Arga hanya diam, tidak menjawab juga tidak menggeleng.
"Jika ada masalah jangan di bawa ke sekolah ya Arga." Ibu guru kembali ke kursinya semula.
Arga ada masalah, masalah apa ya kira-kira, seandainya saja Arga mau cerita sama aku, pasti sudah aku bantu, batin Bella yang saat ini menatap Arga dengan perasaan penuh khawatir.
Setelah jam sekolah sudah usai, semua murid bersiap untuk pulang, termasuk Arga, namun Arga keluar kls paling ahir setelah para temannya yang lain pada keluar.
Saat Arga tiba di parkiran, berdiri tepat di samping mobilnya, suara Bella menghentikan gerakan tangannya yang mau membuka pintu mobil.
"Arga."
"Arga, kamu sedang ada masalah ya? maaf bukannya aku sok ikut campur, tapi jika kamu mau aku siap mendengarkan semua cerita kamu." Bella berdiri tepat di depan Arga, sesekali menyelipkan rambutnya yang tertiup angin ke belakang telinga, dilihat dari sisi mana pun tetap cantik.
"Terimakasih." Arga langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalam sana.
Bella hanya mampu menelan ludah sembari melihat mobil yang Arga kendarai berjalan mulai keluar dari area sekolahan.
Bella berjalan menuju gerbang, di luar sana sudah ada sopir yang menunggunya.
"Pak Maman, aku mau ke mall dulu ya, anterin ya," ucapnya setelah berdiri di depan sang sopir.
__ADS_1
"Baik, Non."
Bella masuk ke dalam mobil, tidak lama kemudian mobil pun melaju memasuki jalan raya, di dalam mobil Bella bersandar seraya melihat ke arah jalanan, pohon-pohon di pinggir jalan berlarian cepat seiring mobil berjalan.
Kenapa sih Arga selalu jutek sama aku, jadi bingung, dan anehnya kenapa aku menyukainya, batin Bella seraya menghela nafas panjang.
Sementara Arga, pria itu tidak langsung pulang, saat mengingat masih ada waktu untuk bertemu Milea, Arga lebih milih menemui kakaknya itu sebelum kakaknya pulang.
Menempuh sekitar dua puluh menit mobil Arga sampai di area tempat toko roti Milea, setelah mobil terparkir sempurna, Arga menyembul keluar dan langsung berjalan cepat menuju toko roti.
"Mau bertemu Kak Lea."
"Kak Lea ... kak Lea ... ada adik tampan ini ..." teriak Nindi sembari menggodai Arga, tapi yang digodain tetap diam, tertawa enggak jutek iya.
Milea datang, Arga langsung menarik tangan Milea keluar, membawa sang kakak ke taman seberang jalan sana.
"Ada apa Dek, kenapa kamu menarik tangan Kak Lea dan berjalan cepat-cepat." Milea mengusap pergelangan tangannya, kini keduanya sudah duduk di bangku taman.
"Sudah-sudah tidak apa-apa," ucap Milea seraya menatap mata Arga yang terlihat sayu seperti banyak beban berat yang sedang adiknya itu pikirkan.
Arga menatap lurus ke depan, wajahnya berubah dingin, aura hangat yang barusan diperlihatkan untuk Milea tiba-tiba menghilang berganti dingin dan marah.
"Ayah meminta aku untuk pindah sekolah ke luar negeri Kak, dan aku tidak mau, hanya karena alasan supaya aku pintar dan sebagai penerus perusahaan Ayah!" Arga bicara dengan suaranya yang berapi-api sangat marah.
Milea mengusap lengan Arga, supaya amarah adiknya itu sedikit mereda.
"Pokoknya aku tidak mau Kak, tidak mau!" Arga tangannya memukul pinggiran bangku di taman.
"Arga hentikan! hentikan!" Milea memeluk Arga. "Jangan menyakiti dirimu sendiri, Kakak mohon hentikan." Milea menangis memeluk Arga dari samping, paling tidak bisa melihat orang lain yang marah sampai menyakiti diri sendiri, bagi siapa pun itu, Milea tidak bisa melihatnya.
Apalagi ini Arga yang melakukannya, seketika Milea merasakan sakit yang adiknya rasakan.
"Apa yang membuat kamu menolak pergi ke luar negeri?" tanya Milea seraya menyibak rambut Arga ke belakang.
__ADS_1
"Perusahaan itu milik Kak Lea, karena Kak Lea yang menyelamatkan perusahaan ayah dari lilitan hutang, dan aku tidak berhak jadi penerus untuk perusahaan itu!" suara Arga masih terdengar marah, nafasnya naik turun dengan cepat.
"Jika begitu ... Kakak berikan perusahaan itu untuk kamu, pergilah mencari ilmu di luar negeri supaya adikku yang tampan ini menjadi pria hebat." Milea tersenyum seraya mengeratkan pelukannya.
"Kak Lea-."
"Pergilah mencari ilmu."
Arga hanya bisa diam mendengar ucapan Milea, dirinya tidak menyangka bila Milea malah memberikan perusahaan itu untuk dirinya, sampai ahirnya mereka berpisah karena Arga harus pulang ke rumah.
Sore itu setelah pembicaraan dengan Arga, Milea duduk melamun di dalam toko roti, entah apa yang sedang Milea pikirkan, dua temannya tidak berani menegur, karena saat ini tidak seperti Kak Lea yang mereka kenal.
Dulu Milea yang mereka kenal begitu ceria, tidak seperti sekarang-sekarang ini terlihat lebih banyak diam dan juga melamun.
Ingin bertanya ada masalah apa? tapi tidak berani, jadinya mereka berdua hanya diam saja.
Dering ponsel Milea berbunyi kembali, Milea mengangkat ponselnya dengan malas setelah membaca nama yang tertera di layar ponsel.
"Milea kenapa kamu lama sekali! kamu niat pulang apa tidak sih!" teriakan Ibu Alenta di sambungan telepon, Milea sampai menjauhkan hpnya dari telinga.
Sebelum Milea menjawab, sambungan telepon sudah lebih dulu dimatikan.
Haduh Mak lampir benar-benar tidak sabaran, memang aku mau disuruh ngapain sih disuruh-suruh pulang cepat, ngedumel dalam hati seraya mencengkam kuat hp nya sendiri, setelah sadar Milea bawa peluk hp nya.
Tingkahnya Milea terus diperhatikan Nindi dan Tata, dua wanita itu saling tatap dengan kening berkerut.
"Siapa yang tadi marah-marah di sambungan telepon?" tanya Nindi pada Tata, Tata hanya menggeleng tanda tidak tahu.
Sementara itu di rumah utama, Ibu Alenta sedang membuat kejutan untuk Milea, sudah tidak sabar Milea segera pulang dan melihat kejutan yang dibuatnya.
Bibirnya tersenyum menyungging senyum palsu, menunggu Milea pulang setiap detiknya dirinya hitung.
Tidak ada orang yang tahu tentang kejutan yang Ibu Alenta buat, dan semakin tersenyum miring saat mendekati jarum jam waktu Milea pulang.
__ADS_1