
Pukul lima subuh, Ibu Alenta membuka gudang, berdecak kesal saat melihat Milea tidur meringkuk di atas kardus, sepertinya tadi malam Milea mengambil kardus yang ada di gudang, untuk ia jadikan alas tidur.
"Dasar orang kampung! Dimana tempat tetap saja bisa tidur," gerutu kesalnya seraya berjalan masuk.
"Heh, bangun! Bangun!" Ibu Alenta menendang-nendang pelan kaki Milea supaya bangun.
Milea langsung terperanjat kaget saat melihat Ibu Alenta, dan langsung berdiri dengan susah payah, menahan tubuhnya yang terasa sakit, seraya kepalanya terasa berputar-putar.
"Cepat kembali ke kamarmu! Dan ingat jangan pernah cerita masalah ini dengan Leon!"
Milea hanya bisa mengangguk kecil dan menunduk, setelah merasakan langkah Ibu Alenta semakin jauh, Milea mengangkat kepalanya mengusap sudut matanya yang basah, rasanya menyedihkan hidupnya sekarang.
Dengan langkah pelan Milea meninggalkan gudang, berjalan menuju kamarnya, sepagi ini baru beberapa pelayan yang sudah beraktivitas, Milea terus berjalan tanpa menyapa mereka, karena tidak ingin mereka tahu betapa berantakannya Milea saat ini.
Sampai di dalam kamar, Milea langsung menangis, tengkurap di atas ranjang, mau gimana pun dirinya adalah seorang wanita yang bisa menangis dan juga lemah.
Tidak selamanya rasa tegar itu ada dalam dirinya, akan ada fase-fase dirinya benar-benar merasa tidak kuat, seperti yang terjadi sekarang ini.
Semua serba berat bagi Milea, ketika kesalahannya diketahui oleh Ibu Alenta, dirinya dihukum sampai di kurung di gudang, itu baru Ibu Alenta, bukan orang yang sudah membelinya, bagaiman bila Leonardo yang marah, sungguh Milea tidak bisa membayangkan, akan menerima hukuman seperti apa.
Milea hanya bisa menumpahkan rasa sedihnya dengan menangis, sampai kini bantal yang ia pakai sudah basah.
Satu jam Milea menenangkan dirinya sendiri, bila bukan dirinya sendiri lalu siapa lagi, yang peduli hanya Arga, tapi tidak mungkin Milea bercerita dengan Arga, tidak ingin adiknya itu akan khawatir dengannya.
Setelah mandi dan memakai baju bersih, serta mengunakan bedak tipis-tipis supaya matanya yang baru menangis tidak terlihat sembap.
Keluar kamar memasang senyum, seolah sebelumnya tidak terjadi apa-apa, saat ini pukul enam pagi lebih, Milea harus menyiapkan air hangat untuk Leonardo mandi pagi.
__ADS_1
Meski kepalanya terasa berat tapi Milea harus tetap bekerja, karena takut dengan ancaman Ibu Alenta, bila Milea terus berbaring dan tidak bekerja, Leonardo akan tahu kejadian tadi malam.
Lama Milea berdiri di depan pintu kamar Leonardo, mengetuk pintu sampai tiga kali, baru mendapat sahutan dari dalam.
Milea langsung memutar handel pintu setelah mendapat ijin, ternyata pintu tidak dikunci.
Milea melihat Leonardo, pria itu saat ini masih malas-malasan tiduran di ranjang dengan tengkurap, selimutnya melorot sampai ke bawah pantat, sehingga memperlihatkan bila pria itu saat ini hanya menggunakan kaus dalaman dan celana pendek.
Milea menggelengkan kepalanya sebelum ahirnya masuk ke dalam kamar mandi.
Pikiran Milea tidak fokus, masih memikirkan situasi yang baru dirinya hadapi, membayangkan masih jauh perjalannya, baru bekerja beberapa hari rasanya sudah seperti ingin menyerah, sedangkan kontrak kerja dua tahun.
Aaaaa! Milea menjerit dalam hati, Frustasi bingung dan lelah menjadi satu, melamun tanpa menyadari air panas yang Milea tuangkan ke bathtub melalui shower kini sudah penuh sampai lober.
"Aaaa! Panas! Panas! Panas ..." teriak Milea seraya loncat-loncat, karena air panas itu mengenai kakinya dan sebagian pinggangnya, karena tadi Milea bersandar di pinggiran bathtub.
"Mele kau kenapa!" tanya Leonardo dengan panik, dan matanya semakin mendelik saat melihat air di bathtub lober-lober, dan itu air panas, terlihat dari uapnya.
"Kau mau membuat ruang kamar mandi ku menjadi kawah panas, hah!" bentak Leonardo, yang membuat Milea semakin ketakutan.
Leonardo mengambil sendal, lalu masuk ke dalam kamar mandi lagi, dengan langkah hati-hati supaya tidak terpeleset, kemudian mematikan shower, baru air berhenti.
Leonardo membuang nafas berat seraya bertolak pinggang dan menatap Milea. "Apa sih yang kamu pikirkan! kamu melamun, iya! kamu tahu tidak yang kamu lakukan ini bahaya, kamu panik sampai tidak bisa mematikan shower nya!"
"Ma-maaf Tuan." Milea menunduk dalam.
Leonardo menghela nafas panjang, amarahnya masih terlihat jelas. "Keluar sekarang, siapkan pakaian kerjaku hari ini!"
__ADS_1
Milea menurut, masih dengan kepala menunduk, Milea berjalan keluar kamar mandi, menuju almari baju.
Lea Lea! Kamu membahayakan dirimu sendiri! Tapi kan tidak sengaja, hah! Ya sudah lah, batin Milea merutuki kesalahannya sendiri.
Selesai menyiapkan pakaian kerja Leonardo, Milea langsung turun ke bawah, membantu pelayan yang ada di dapur.
Menu sarapan pagi ini sudah jadi, Milea membantu menyusunnya di meja makan, Milea juga menuangkan susu steril ke dalam gelas, untuk Ibu Alenta dan Leonardo.
Tepat pukul tujuh, Ibu Alenta dan Leonardo sudah berada di meja makan, keduanya menghabiskan sarapan tanpa tegur sapa, diam sampai sarapan selesai, bahkan saat berangkat kerja Leonardo tidak biasa bersalaman dengan ibunya.
Bukan tidak menghormati, tapi memang seperti itu sikapnya, ibunya saja tidak bisa menyentuh hatinya apa lagi wanita lain. Mimpi!
Milea menyerahkan jas hitam yang harus Leonardo pakai, saat Leonardo mau masuk ke dalam, niatnya ia urungkan, tiba-tiba meraih telapak tangan Milea.
Memar, gumamnya saat melihat telapak tangan Milea sedikit bewarna merah.
Milea bingung dengan apa yang Leonardo lakukan barusan. Tiba-tiba saja Leonardo mengambil uang seratusan ribu dari dompetnya. Milea masih terus memperhatikan, sampai pria itu menyerahkan tiga lembar seratus ribuan ke tangan Milea.
"Pergi ke dokter, aku tidak mau lihat, sampai aku pulang nanti, telapak tangan kamu masih memar," jelas Leonardo, yang kemudian langsung masuk ke dalam mobil, Milea masih diam mematung sampai mobil berjalan meninggalkan pelataran rumah utama.
Saat Milea ijin mau keluar sebentar sama Pak Ahmad, tiba-tiba Ibu Alenta memanggil Milea, rasa marah dan kesalnya belum hilang, dan pagi ini ingin kembali menghukum Milea.
Milea di suruh membersihkan kamar mandi, sudah Milea bersihkan saat mau keluar, di suruh membersihkan lagi sampai tiga kali.
Milea belum sarapan, kepalanya yang sakit semakin terasa sakit, sampai pandangannya berubah berkunang-kunang, namun tetap milea tahan.
Mengelap seluruh ruang kamar Ibu Alenta, mengganti seprai dan mencuci separi menggunakan tangan, tidak boleh di mesin, setelah semua selesai, Ibu Alenta memberikan Milea pekerjaan baru, mengajak Milea di kebun belakang, menyuruh Milea untuk memangkas daun-daun di tanaman hias.
__ADS_1
Milea menurut, dan langsung Milea kerjakan, pelayan yang seharusnya itu pekerjaannya merasa tidak enak hati pada Milea, tahu bila Milea sedang di hukum, apa lagi wajah pucat Milea semakin membuatnya tidak enak hati, tapi dirinya tidak berani melawan Nyonya rumah.