Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 43. Membakar hati Milea.


__ADS_3

Milea kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas kecil yang selalu Milea bawa, kemudian melanjutkan lagi menuju rumah pembeli yang terakhir, setelah ini Milea akan kembali ke toko roti.


Perumahan jln kenanga, no 33. Milea mengetuk pintu pemilik rumah itu, tidak lama kemudian keluar anak muda usia lima belas tahun mengambil roti yang Milea bawa.


Setelah roti bersama tangan pembeli, Milea melajukan sepeda motornya ke toko roti, dalam perjalanan Milea terus kepikiran foto itu.


Ingin tidak peduli tapi nyatanya kepikiran terus, entahlah Milea juga bingung, melamun dan berpikir apa kah sejauh ini Leonardo sudah berada di hatinya? mengapa begitu gelisah dan tidak nyaman setelah melihat foto itu. Milea galau. Terus memikirkan siapa wanita bersama Leonardo di foto itu? mengapa bisa ada adegan pelukan seperti itu?


Hah! Milea pusing dan berpikir bahwa isu yang selama ini didengar tentang Leonardo suka bermain wanita sepertinya benar.


Hah aku kan cuma pembantunya, cuma istri kontraknya ngapain juga aku mikirin dia, pokoknya tidak boleh aku jatuh cinta, hahah jatuh cinta juga belum tentu cintamu di balas Lea Lea hahah. Milea hanya bisa membatin dan menertawakan diri sendiri.


Milea terus melajukan sepeda motornya tidak terasa kini sudah sampai di toko roti, memarkirkan sepeda motornya lebih dulu, namun tiba-tiba Nindi menepuk pundak Milea, mengagetkan Milea.


"Kak Lea ada ibu Fera di dalam," ucap Nindi seraya berbisik di telinga Milea.


Milea tampak terkejut menduga akan ada hal tidak baik bila ibu tirinya itu sampai datang ke toko rotinya, dan benar saja baru saja Milea membatin wanita serakah itu sudah datang menghampiri.


"Milea berikan saya uang sepuluh juta, sekarang!" bentak Ibu Fera pada Milea, gadis itu hanya bisa terkejut dengan apa yang barusan di dengar.


Apa sepuluh juta! apa kurang banyak uang yang sudah diberikan Tuan Leonardo padanya, batin Milea yang tidak habis pikir dengan kelakuan ibu tirinya itu.


"Mengapa diam saja! ayo berikan!" Ibu Fera menoel pundak Milea.


"Tidak aku tidak ada!" suara Milea tidak kalah tinggi, Ibu Fera semakin terpancing amarah dan menunjuk wajah Milea.


"Berani kau melawan Ibumu, hah! Padahal kau punya uang tapi berkata tidak ada!"

__ADS_1


Milea menoleh ke sekeliling area toko itu, suara meninggi Ibu Fera mengundang banyak perhatian orang-orang yang kini mulai menatap ke arahnya, Milea jadi malu.


"Terserah Ibu mau bilang aku apa! aku tidak ada uang tetap tidak ada uang!" Milea langsung berjalan masuk ke toko roti seraya menarik tangan Nindi, langsung mengunci pintu sebelum Ibu Fera ikut masuk ke dalam.


Di luar sana Ibu Fera mengumpat memaki Milea seraya menggedor pintu namun tidak Milea Buka, lama berteriak dan ahirnya lelah Ibu Fera memutuskan untuk pergi.


Dua teman Milea prihatin melihat Milea yang selalu tidak diperlakukan adil oleh ibu tirinya, tapi Milea terlalu baik tidak pernah membalasnya.


"Kak Lea." Nindi dan Tata memeluk Milea menguatkan gadis itu.


"Aku tidak apa-apa kok, aku sudah biasa dengan situasi seperti ini."


Mendengar ucapan Milea, Tata dan Nindi semakin erat memeluk Milea.


"Mengapa kalian yang malah bersedih, hahh."


Ketika masuk jam makan siang, Milea makan soto ayam di toko sebelah, tiba-tiba ada panggilan masuk dari Leonardo, Milea melirik malas mengingat foto yang pagi tadi dirinya lihat.


Mengapa dia telfon-telfon aku, biarlah! aku tidak peduli, batin Milea milih melanjutkan makannya.


Hingga lima panggilan masuk tetap Milea tidak mau mengangkatnya, sok berani tidak tahu nanti kalo sudah berhadapan sama orangnya langsung.


"Dia kira yang bisa bersikap tidak peduli hanya dia, hah aku juga bisa," ucap Milea sembari terus mengunyah makanan, pembeli di kursi sebelah saling pandang mendengar Milea bicara sendiri.


Sementara itu Leonardo yang saat ini sedang duduk di kursi kerjanya menatap kesal pada ponsel yang dirinya pegang, lima panggilan telepon tidak Milea angkat.


Berani sekali dia tidak mengangkat teleponku!gumam marah Leonardo, meremat ponsel ditangannya.

__ADS_1


"Tuan waktunya kita berangkat sekarang," ucapan Sekertaris Alan menyelamatkan ponsel Leonardo dari keretakan.


Menghela nafas panjang sembari berjalan ke arah pintu, memberikan ponselnya pada Alan untuk menyimpannya, Alan menerimanya gelagapan saat Leonardo memberikannya dengan kasar, tidak mau pegang hp bikin hati kesal pikirnya.


Leonardo sibuk dengan pekerjaannya sampai sore, Milea pun juga sibuk dengan urusannya di toko roti sampai sore.


Tepat pukul lima sore Milea pulang, dua temannya masih berada di sana, toko tutup jam delapan malam, dahulu sebelum Milea terikat dengan Leonardo, pulang juga malam, malah kadang pilih nginap tidak pulang.


Sekarang kondisinya beda, bila tidak pulng bisa-bisa lehernya ditebas sama suaminya yang aneh itu, malas? itu yang Milea rasakan, hatinya masih kesal setiap kali teringat foto itu, duduk melamun menatap jalanan saat ini Milea pulang dengan mobil taksi.


"Milea Milea Milea! kamu kenapa sih." Milea bicara sendiri kesal pada dirinya sendiri yang terus kepikiran foto itu, memukuli kepalanya sendiri ingin pikiran itu hilang.


Kamu hanya kesal melihat dia bersama wanita lain, bukan karena cinta, iya aku yakin aku tidak cinta, aku tidak cinta! aaaaa! batin Milea terus berkata tidak, menyakinkan dirinya.


Setelah mobil sampai di depan gerbang, Milea langsung masuk ke dalam rumah, para sekuriti menunduk hormat saat Milea memasuki halaman, Milea langsung menuju kamarnya, di rumah sepi tidak ada siapa-siapa gumamnya saat melewati lantai satu tidak menemukan siapa pun.


Rumah sebesar ini anak cuma satu, hah bagaimana tidak sepi, aku ingin punya anak tujuh biar ramai, apa lagi kalo hidup kaya biar hartanya bisa dibagi-bagi, hahah halu aja kmu Lea.


Milea menjatuhkan tubuhnya dramatis di atas ranjang, memejamkan mata merasakan lelah dalam jiwa tidak! hati juga.


Sementara itu Leonardo yang baru selesai meeting di luar bersama klien, bertanya soal hp nya yang sedang dipegang Sekertaris Alan, bertanya ada pesan masuk atau telpon dari Milea, tapi jawaban Sekertaris Alan tidak ada, Leonardo mendengus kesal, moodnya menjadi buruk sekali.


Sekertaris Alan tidak mengerti dengan perubahan Leonardo, pria itu tiba-tiba marah saat mengajaknya pulang.


Sebelum Alan membuka pintu mobil, Leonardo lebih dulu membukanya dan menutupnya dengan kasar, Alan sampai terlonjak kaget, dan hanya mampu menggelengkan kepalanya.


Memikirkan apa yang salah tapi tidak ketemu apa salahnya, malah jadi pusing Alan milih segera melajukan mobilnya.

__ADS_1


Pria yang duduk di kursi belakang terus menatap dingin ke arah luar.


__ADS_2