
Setelah selesai menyemprot semua bagian, dengan wajah ditekuk, Dokter Arman mencuci tangan di kamar mandi Leonardo.
Bisa ya aku miliki teman seperti dia, hah benar-benar rempong dan menyusahkan, bibirnya ngedumel sembari menggosok tangannya sampai bersih.
Tok. Tok.
"Arman!"
Ya elah baru saja aku masuk ke kamar mandi sudah dicariin, cari Sono emak elo, nyeselin!
Dengan wajah di tekuk Dokter Arman membuka pintu kamar mandi.
"Kamu ke kamar mandi kenapa tidak bilang-bilang!" Leonardo bertanya sewot.
Hei! aku bukan anakmu yang kemana pun pergi harus minta ijinmu! batinnya menahan kesal.
"Sudah, sekarang ikut aku ke bawah ada hadiah untuk kamu."
"Hadiah," ulang Dokter Arman, mendengar kata hadiah bibirnya tersenyum.
Maaf tadi sudah maki-maki Anda ternyata Anda baik juga Tuan Leonardo, batinnya sembari berjalan di belakang Leonardo.
Ternyata setelah sampai di lantai satu, semua barang milik Dokter Arman sudah di bawa turun, dari tas juga jas kedokterannya.
Leonardo mengambil tas dan juga jas milik Dokter Arman. "Pulanglah sekarang, pasienmu sudah menunggu."
Dokter Arman menerima tas dan jasnya gelagapan. "Hadiah mana hadiah?" tangannya sembari membenarkan jas yang disampirkan di lengannya.
"Memangnya tadi aku bicara hadiah," bicara tanpa dosa, Dokter Arman langsung menghela nafas berat.
Belum aja ada tiga puluh menit dia sudah pelupa, akan aku ingatkan, batin Dokter Arman dengan sedikit kesal.
"Ah, Tuan Leonardo masa iya lupa, tadi kan Anda bicara saat di depan kamar mandi," bicara sembari tertawa kecil.
"Tadi aku hanya ingin kamu cepat turun, bila aku bicara hadiah maka kamu akan cepat."
Senyum dan tawa Dokter Arman langsung hilang lenyap berganti wajah ditekuk, Milea yang melihat perubahan wajah Dokter Arman tertawa tertahan, menutup mulutnya rapat-rapat tidak ingin sampai terdengar suara tawanya.
__ADS_1
Dokter Arman tidak bicara lagi, tapi dengan tatapannya dia terlihat sangat kesal, Dokter Arman bersungut-sungut ke arah Leonardo, saat berjalan melewati samping Leonardo mau menyodok pinggang Leonardo menggunakan sikunya sembari bibirnya bersungut, sebelum ahirnya berjalan gagah menuju keluar.
Kelakuan mereka berdua memang seperti anak kecil, Leonardo yang melihat Milea ingin tertawa namun ditahan langsung bicara, "Lepaskan tawamu tidak usah ditahan."
Hah apa! Milea bengong mendengar suara Leonardo, menatap pria itu yang kini berjalan menuju halaman.
Milea bukannya melanjutkan tawanya tapi malah bingung, sementara itu di halaman rumah, Dokter Arman yang sudah berada di dalam mobil masih saja teringat hadiah.
"Hadiah mana hadiah! sebelum aku pergi berikan hadiahnya!" bicara tinggi sembari menatap Leonardo yang berdiri di samping mobilnya, Leonardo hanya tersenyum kecil, tapi malah terlihat mengerikan di mata Dokter Arman, dan benar saja ucapan Leonardo langsung membungkam bibir Dokter Arman.
"Jangan bahas hadiah dan hadiah, jika Anda tidak mau gaji di rumah sakit saya turunkan," bicara santai seraya memasukkan dua tangannya ke dalam saku celana, sembari menarik sedikit sudut bibirnya.
Dokter Arman tidak memberikan komentar, hanya menjawab melalui tatapan kesal, sebelum ahirnya mobilnya meninggalkan rumah utama.
Setelah kepergian Dokter Arman, Leonardo kembali masuk ke dalam rumah, menuju kamarnya berada, saat ini pukul setengah sembilan pagi, Leonardo harus berangkat kantor.
Air hangat sudah Milea siapkan, cukup sepuluh menit Leonardo sudah menyelesaikan mandinya, saat ini memakai seragam kerja yang sudah Milea siapkan.
"Mele pasangkan dasiku!" bicara sedikit berteriak karena Milea duduknya sedikit jauh dari tempat Leonardo berdiri.
Milea memasangkan dasi Leonardo, pria itu sembari menyisir rambutnya, setelah rambut rapi, dan dasi sudah terpasang sempurna, Leonardo segera keluar kamar, setelah memakai jam tangan mahalnya dan juga parfum.
Membuat siap pun wanita akan betah di sampingnya, mengingat hal itu bibir Milea mengerucut tidak suka, bagian hatinya tidak rela.
Mereka berdua sudah berada di halaman rumah, sebelum Leonardo masuk ke dalam mobil, Leonardo menoleh ke arah Milea yang berdiri di belakangnya, Leonardo melihat bibir Milea yang mengerucut.
Leonardo mengecup bibir Milea, seketika Milea mematung dengan terkejut, Alan yang berdiri di sebelah mereka langsung memalingkan wajahnya, Leonardo mengambil alih tas yang Milea pegang, tapi gadis itu tidak sadar bila tas Leonardo sudah berpindah tangan, sangking terkejutnya tiba-tiba mendapat serangan mendadak.
Milea baru sadar saat mobil yang Leonardo tumpangi sudah pergi melewati gerbang.
Ha, dia mencium bibirku! batinnya Milea masih tidak percaya, tapi ini kenyataan, menggelengkan kepalanya, tidak sadar bila saat ini pipinya sudah merah merona.
Satu jam kemudian, Milea sudah berada di toko rotinya, vitamin ciuman bibir yang tadi pagi Leonardo berikan membuat Milea semangat bekerja hari ini, entah mengapa perasannya begitu bersemangat hari ini saat membuat roti.
Tadi saat Milea tiba di toko rotinya dua temannya sudah membuat roti dan mendapatkan sudah banyak, saat ini roti pesanan Hansen sudah berjumlah seribu pis, dengan sebagian sudah matang, tinggal menunggu sebagian lagi sudah selesai semua.
Namun mereka bertiga masih terus lanjut membuat roti, yang ini untuk dijual di toko.
__ADS_1
Tepat pukul dua siang, semua roti pesanan Hansen sudah siap untuk diantar. Tata dan Nindi membantu menyusun di dalam bok di atas sepeda motor, yang mengantar ke perusahaan Hansen adalah Milea.
Setelah semua beres dan dipastikan aman, Milea mulai menaiki sepeda motor.
"Kak Lea hati-hati," ucap Tata dan Nindi bersamaan.
"Siap," jawab Milea sebelum ahirnya menjalankan sepeda motornya.
Bila sedang ngurir mengantar pesanan roti seperti ini, Milea terlihat keren, menggunakan helm dan juga sarung tangan, benar-benar wonder woman.
Padahal suaminya kaya, mau minta apa tinggal tunjuk, tapi masih mau bekerja yang penghasilannya tidak seberapa, begitulah kira-kira hinaan para netizen andaikan tahu Milea istri Leonardo, pria kaya yang dipuja-puja banyak wanita.
Sekitar empat puluh menit, motor Milea sampai di depan gedung perusahaan Hansen, Milea masih duduk di atas motornya sembari menelpon Hansen, setelah telepon diangkat, Milea menjelaskan bila sudah berada di bawah.
Tidak lama kemudian Hansen bersama dua pria berjas hitam berjalan di belakangnya datang menghampiri Milea.
Milea segera turun dari atas motornya, menundukkan kepala dan tersenyum menyambut Hansen datang.
"Sudah lama menunggunya?"
"Ah, tidak baru saja," jelas Milea tersenyum.
Milea membukakan bok besar nya, kemudian menyerahkan roti di dalamnya pada dua pria yang datang bersama Hansen.
"Terimakasih Milea kamu sudah mengantar roti pesanan aku, harusnya tadi kamu menghubungi aku saja, biar orang suruhan aku yang ngambil," ucap Hansen merasa kasihan melihat Milea harus mengantar menggunakan sepeda motor.
"Sudah tidak apa-apa, ini memang sudah menjadi tugas saya," ucap Milea tersenyum sebelum ahirnya undur diri.
Hansen terus melihat Milea yang mengendarai sepeda motor sampai gadis itu menghilang dari pandangannya.
Milea yang sudah menjalankan sepeda motornya sempai setengah jalan, tiba-tiba ada ponselnya berbunyi, Milea menghentikan motornya di pinggir jalan, lalu mengangkat panggilan telepon tanpa melihat nama yang menghubungi.
"Halo siapa ya?"
"Siapa siapa! cepat datang ke perusahaan!"
Tut. Tut.
__ADS_1
Milea sampai menjauhkan hp nya dari telinga mendengarkan suara keras Leonardo di sambungan telepon.
"Manusia kulkas, manusia, es, manusia salju! bisa tidak sih bicara pelan tidak perlu teriak-teriak!" Milea memaki Leonardo tapi yang dilihat hp nya yang layarnya sudah mati.