Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 72. Mengunjungi Ayah sakit.


__ADS_3

Pagi hari, saat semua sudah berkumpul di ruang makan, dan sedang melakukan sarapan pagi.


Ibu Alenta melihat Leonardo yang sedang menyuap sarapan. "Leon, lusa Ibu mau ijin ke Hongkong, teman Ibu di sana ada yang ulang tahun, Ibu harus hadir."


Ibu Alenta masih terus menatap Leonardo, menunggu jawaban pria itu.


Leonardo masih meneguk air minum, setelah itu baru bicara, "Terserah Ibu." Menatap ibunya sekilas kemudian lanjut makan lagi.


"Tapi kartu-kartu milik Ibu belum kamu kembalikan, Leon?"


Mendengar ucapan ibunya, Leonardo menoleh ke arah Milea. "Apa kamu sudah memaafkan Ibu?"


Milea langsung menghentikan mengunyah makanannya, membalas tatapan mata Leonardo.


Huh Leon kenapa harus bertanya sama wanita sialan itu sih, awas saja kalo dia bicara ngasal yang membuat Leonardo makin marah sama aku! batin Ibu Alenta dengan tatapan marah ke arah Milea.


Leonardo masih menunggu jawaban Milea, gadis itu malah terlihat senyum-senyum, yang entah sedang memikirkan apa?


Milea tersenyum penuh arti. "Belum, karena Ibu minta maafnya tidak serius." Wajah Milea dibuat memelas namun batinnya tertawa, siap akan mengerjai Ibu Alenta balik.


Mendengar ucapan Milea, Ibu Alenta menjadi geram. Benar-benar wanita sialan umpatnya dalam hati.


Leonardo beralih menatap ibunya seraya mengernyitkan dahi. "Ibu."


Ibu Alenta menggeleng. "Tidak Leon, semua itu tidak benar, Ibu sudah minta maaf dengan baik."


Milea tetap asyik makan, baginya terserah Ibu Alenta mau mengelak, Milea tidak peduli, dan terserah juga Leonardo mau percaya sama siapa, itu hak-haknya dia, Milea tidak akan ikut berdebat. Namun ternyata jawaban Leonardo membuat Milea tertawa.


"Aku tidak minta Ibu untuk menjelaskan alasan, selama Mele belum memaafkan Ibu, kartu-kartu itu belum aku berikan."


Wah Tuanku kau bagus sekali, terimakasih sudah membela aku, hahaha, batin Milea bicara tertawa senang seraya melirik Ibu Alenta, Milea memasang wajah menyebalkan.


Ibu Alenta geram melihat Milea, dan juga jawaban Leonardo yang milih mihak ke Milea, tangannya terkepal di bawah meja.


Leonardo sudah selesai makan, kini bersiap mau berdiri.


Milea menahannya. "Tuanku, pagi ini aku mau bertemu dengan ayah, semalam ayah cerita sedang sakit."


Leonardo hanya mengangguk, kemudian pergi dari ruang makan tersebut, Milea juga ikut menyusulnya, mengantar sampai halaman rumah.

__ADS_1


"Aku benci dengan tingkah wanita itu!" teriak Ibu Alenta marah setelah hanya dirinya di ruang makan.


Setelah mobil Leonardo pergi, Milea juga ikutan pergi, tas yang biasa Milea bawa kerja sudah disiapkan, Milea langsung membawa mobilnya keluar gerbang dan menuju rumah ayahnya.


Empat puluh menit, mobil yang Milea kendarai kini sudah sampai di rumah ayahnya.


Saat kakinya menginjak teras rumah, Milea jadi teringat kenangan dahulu saat masih tinggal di sini, dan saat keluar dari rumah ini pergi untuk menebus hutang.


Sejak itu tidak pernah datang kesini lagi, pernah sekali saat minta pertolongan untuk jangan sampai menikah dengan Leonardo, tapi tidak dikabulkan oleh ayahnya, dan saat ini datang lagi karena permintaan pria tua itu.


Sungguh miris, pergi karena pria tua itu, berkunjung ke rumah juga karena pria tua itu, karena keluarga penting bagi Milea, dan sejauh mana pun kita pergi pasti akan kembali pada keluarga.


Setidaknya masih miliki keluarga jika saat ini dirinya akan bercerai dengan Leonardo, dua tahun, Milea masih ingat surat kontrak itu.


Milea menghela nafas panjang sebelum ahirnya masuk ke dalam rumah.


Kedatangan Milea langsung disambut pembantu di rumah itu, Milea langsung menuju kamar ayahnya berada.


Pintu terbuka, seketika Milea bisa melihat seseorang yang saat ini berbaring di atas ranjang. Milea masih berdiam diri di ambang pintu, menghela nafas panjang kemudian berjalan masuk.


"Ayah," sapanya setelah berdiri di samping ranjang.


Milea langsung duduk di pinggiran ranjang sebelah Ayah Roni, seraya menempelkan punggung tangannya ke kening sang Ayah.


"Suhu badan Ayah mendingan, apa Ayah sudah sarapan?"


"Belum, Ayah tidak enak makan," ucapnya dengan suara lemah.


Milea menoleh ke arah meja, di sana Milea melihat ada piring yang isinya ada nasi juga lauk dan sayur.


Milea berpikir sejenak, kemudian bicara seraya menatap sang Ayah, "Mau Lea buatin bubur, Ayah."


Ayah Roni mengangguk.


Milea segera keluar dari dalam kamar, berjalan menuju dapur, sampainya di sana Milea membuka almari pendingin melihat bahan-bahan yang ada di sana.


Pelayan datang menghampiri Milea dan bertanya sedang butuh apa? Milea menjawab mau buat bubur untuk ayahnya.


Pelayan tersebut langsung menyiapkan bahan-bahan pembuatan bubur.

__ADS_1


Milea mulai membuat bubur nasi, juga kuahnya. Kali ini yang mau Milea buat adalah bubur ayam.


"Ayamnya tinggal ada segini saja, Non?" Pelayan itu menunjukan ayam di baskom.


Milea menoleh dan melihatnya. "Segitu sudah cukup, Bibi."


Kemudian pelayan mencuci ayam tersebut.


"Ibu Fera dan Tamara kemana, Bibi?" tanya Milea seraya mengaduk bubur di dalam panci di atas kompor yang menyala.


"Nyonya dan Nona Tamara tadi bilangnya mau ke mall, Non?"


His mereka benar-benar kelewatan, Ayah lagi sakit malah asyik belanja! kalo ada uang gitu semua boros belanja-belanja ini dan itu, gak mikir kalo tidak punya uang siapa yang mereka keluhin, pasti aku! ngedumel dalam hati menahan geram.


Setelah tiga puluh menit, bubur ayam sudah jadi, semua memasak menggunakan mode cepat.


Milea segera masuk ke kamar Ayah Roni, membawa bubur juga air minum.


Setelah sampai di sana, Milea membantu Ayah Roni untuk duduk setelah sebelumnya meletakkan mangkuk berisi bubur ke atas meja.


Milea mulai menyuapi Ayah Roni, tadi pagi Ayah Roni tidak enak makan, tapi masakan enak Milea selalu berhasil membuatnya kembali selera makan.


Setelah sarapan pagi Ayah Roni selesai, Milea memijit kaki Ayah Roni, tidak berselang lama Ayah Roni tertidur pulas.


Sembari terus memijit sang Ayah, Milea memperhatikan wajah ayahnya yang kini sudah keriput, ada rasa sedih campur kasihan, tapi jika ingat ayahnya sudah tega, Milea juga kesal.


Milea berada di rumah ayahnya, sampai siang hari, dan selama itu Ibu Fera dan Tamara juga belum pulang.


Mereka ini belanja atau kabur dari rumah sih, tidak pulang-pulang! batin kesal Milea, karena Milea mau ninggal pergi ayahnya tidak tega, tapi yang ditunggu malah tidak pulang-pulang.


Sampai pukul tiga sore, juga belum pulang, namun ternyata Arga yang pulang dari sekolahnya.


Milea langsung menghampiri Arga saat melihat Arga pulang dan kini sudah berdiri di teras rumah.


"Arga," sapa Milea yang keluar dari dalam rumah.


"Kak Lea di sini?"


Milea mengangguk, kemudian menjelaskan kedatangannya ke sini karena Ayah sakit, Milea yang harus pergi ke toko roti meminta Arga untuk menemani Ayah, juga melarang Arga bermain.

__ADS_1


Setelah mendapat persetujuan Arga, Milea langsung pergi dari rumah tersebut.


__ADS_2