
Milea kemudian berjalan untuk memasuki toko, Tata dan Nindi yang sejak tadi sudah menyimpan rasa penasaran, langsung mendekati Milea ingin bertanya.
"Kak Lea," ucap Tata dan Nindi bersamaan.
Milea tersenyum, dalam hati sudah menduga bahwa mereka ingin menanyakan soal Leonardo.
Aku harus jujur atau tetap pura-pura ya? batin Milea sedang berpikir.
Namun dari jarak sedekat ini, Tata dan Nindi bisa melihat ada tanda kecupan di leher Milea, Tata dan Nindi saling pandang dengan perasaan sama-sama terkejut.
Milea menghela nafas panjang kemudian mengajak mereka berdua untuk duduk.
Milea kemudian menjelaskan bahwa Leonardo adalah suaminya, berawal dirinya menjadi pembantu untuk Leonardo, sebagai penebus hutang ayahnya, hingga sampai dirinya harus terjebak pernikahan dengan laki-laki itu, karena Leonardo bosan selalu terus dijodoh-jodohkan oleh ibunya.
Tata dan Nindi yang sudah konsentrasi memasang telinga untuk siap mendengarkan semua cerita Milea, mereka berdua sangat terkejut.
"Kak Lea, apa Kak Lea bahagia?" tanya Tata seraya menggenggam tangan Milea, dari yang barusan Tata dengar, Milea dijadikan penebus hutang, lalu terjebak pernikahan, itu artinya semua adalah paksaan dan menekan Milea pikir Tata.
"Iya, Kak Lea apa bahagia?" Nindi ikut menimpali, sama juga yang dipikirkannya dengan Tata.
Milea tersenyum, hanya senyuman yang mampu Milea lakukan untuk membuat orang-orang yang menyayanginya tenang melihat keadaannya, karena Milea tidak mungkin cerita yang sebenarnya.
"Seperti yang biasa kalian lihat, aku bahagia dan aku ceria," jawab Milea dengan senyum merekah.
Tata dan Nindi sama-sama memeluk Milea, mereka berdua percaya apa lagi tanda kecupan di leher Milea mengartikan hubungan Milea dan suaminya itu harmonis.
Tata kembali ke posisi semula duduk tegap sembari menatap lekat wajah Milea. "Kak Lea tadi di dalam mobil ngapain, hayo ..." Tata menunjuk leher Milea. Seketika pipi Milea jadi merah merona, dan langsung menelengkupkan wajahnya ke meja, Milea senyum-senyum malu ketahuan dua temannya bila habis dicium.
"Ihh, Kak Lea gemesin, sudah-sudah Kak, canda aja," ucap Tata ikut menimpali yang kemudian disusul tawa semuanya.
Hahaha.
Setelah pembicaraan tersebut, mereka bertiga kembali sibuk bekerja, Milea sudah lega karena sudah bercerita sama dua temannya, dan tadi juga sudah mengatakan untuk dim tidak boleh cerita ini sampai bocor keluar dan banyak orang lain tahu.
__ADS_1
Hari ini tutup toko roti tidak sampai malam, setelah tiba pukul lima sore, Milea meminta dua temannya untuk menutup toko roti, hari ini pulng cepat spesial mobil baru canda Milea.
Sekarang mereka bertiga sudah duduk di dalam mobil, duduk bertiga di depan, dengan Milea sebagai pengemudi.
Rumah Tata dan juga Nindi tidak jauh, jadi bila di depan diisi tiga penumpang tidak masalah, jalur jalan mereka pulang tidak melewati lampu merah jadi aman.
Tata berbisik di telinga Milea, "Kak Lea mau dong dikenalkan sama teman suami Kak Lea itu, kemarin ada yang tampan juga." Tertawa cekikikan sembari menjauhkan wajahnya dari telinga Milea.
Milea tersenyum geli. "His, dia itu dingin sekali orangnya." Nindi ikut menyela, "Kalian bicara apa sih tidak ajak-ajak aku." Bibir Tata mengerucut tajam.
Hahaha, tawa Tata juga Milea bersamaan, Tata mengusap wajah Nindi semakin membuat Nindi kesal.
Sore hari ini mengantar Tata dan juga Nindi pulang dipenuhi perasaan bahagia saling bercanda dan tertawa.
Tidak terasa mobil sudah sampai di depan rumah Nindi, setelah Nindi turun mobil kembali berjalan menuju rumah Tata, tempat tinggal mereka berdua masih dalam satu perumahan, lima menit setelah dari rumah Nindi kini sudah sampai di rumah Tata.
"Kak Lea terimakasih ya sudah mengantar aku pulang," ucap Tata yang sudah berdiri di luar mobil.
Sembari mengemudi menuju pulang, Milea menghidupkan musik di dalam mobil, dengan judul lagu kaleh welasku, lagu Jawa Milea juga tidak tahu apa artinya, tapi lagunya enak untuk dinikmati, bibir tipis Milea ikut bernyanyi juga menirukan penyanyi dalam lagunya.
Saat melihat ada minimarket, Milea membelokkan mobilnya masuk ke area minimarket, setelah mobilnya terparkir sempurna, Milea baru mulai berjalan masuk ke minimarket.
Bila malam hari Milea suka lapar, Milea mau beli beberapa makanan snake dan minuman juga, setelah merasa cukup belanjaannya, Milea menuju kasir untuk membayar tagihan.
Menunggu beberapa saat, setelah terbayar, Milea keluar dari minimarket, karena sibuk membenahi kantong plastik yang Milea pegang, sampai tidak fokus saat dengan jalan, Milea menabrak orang.
Brukk!
Ah!
"Maaf, maaf saya tidak sengaja," ucap pria itu yang Milea tabrak, sedangkan Milea sibuk mengambil belanjaannya yang tercecer di lantai. "Maaf juga tadi aku tidak melihat jalan," ucap Milea tanpa melihat lawan bicara, masih sibuk mengambil snake yang jatuh.
Pria itu terdiam sembari menelisik wanita yang barusan bicara itu, dari suaranya ia seperti kenal, hanya saja belum melihat wajahnya, dan saat Milea berdiri dan menatap pria itu, kini pria itu langsung menunjuk wajah Milea.
__ADS_1
"Milea."
"Kak Hansen."
Ucap Milea dan Hansen bersamaan dan saling menunjuk.
"Maaf Kak, maaf tadi saya tidak tahu bila yang saya tabrak adalah Kak Hansen." Milea bicara penuh tulus seraya menunduk hormat.
"Tidak masalah ... em apa kamu akan segera pulang?" tanya Hansen seraya melihat Milea yang saat ini berdiri dengan barang belanjaannya.
Milea mengangguk.
"Apa mau saya antar," tawar Hansen karena mengira Milea tidak bawa kendaraan. Milea langsung menyela cepat seraya menggelengkan kepala, "Tidak usah Kak, terimakasih karena saya bawa mobil."
Hansen mengangguk mengerti, kemudian mempersilahkan Milea pergi, Hansen terus melihat punggung Milea yang berjalan menuju mobil.
Hansen membaca nama Milea bakery di mobil Bok, bibirnya tersenyum berpikir bahwa saat ini Milea sudah membeli mobil baru.
"Dia sangat keren, wanita gigih mau bekerja berat, menjadi seorang delivery menurut aku tidak mudah." Hansen bicara sendiri terus mengagumi Milea, menatap ke arah mobil Milea sampai pergi tidak terlihat dari pandangan matanya.
Hah mengapa aku tiba-tiba mengagumi dia? apa karena baru kali ini aku bertemu wanita seperti dia, yang mau bekerja tidak bermalas-malasan, batin Hansen sembari terkekeh.
Kemudian melanjutkan niatnya yang tadi ingin masuk minimarket.
Sedangkan Milea saat ini sedang sedikit mengebut laju mobilnya, teringat karena sampai rumah tidak boleh telat.
Lima menit tiga menit satu menit gumamnya terus menghitung waktu, aaa! aku sampai Milea menjerit dalam hati, menekan klakson mobil, setelah gerbang di buka Milea langsung memasukkan mobilnya, setelah mobil terparkir, Milea segera keluar berlari memasuki rumah.
"Mele, telat satu menit."
Deg. Langkah kaki Milea langsung terhenti yang baru menginjak ruang keluarga.
Di ujung sana, pria yang sedang duduk di kursi sofa, melihat ke arah Milea dengan tatapan mengintimidasi.
__ADS_1