Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 62. Banyak diam.


__ADS_3

Leonardo masih menatap terkejut saat tiba-tiba ada Anggun di tempat ini.


"Anggun, hei." Ibu Alenta menyapa, tidak menyangka ternyata bertemu Anggun di tempat ini.


Ini kesempatan emas untuk aku membuat Milea terbakar hati, batin Ibu Alenta dengan tersenyum ke arah Anggun.


Anggun menoleh saat mengenali suara yang menyapanya. "Tante, loh Tante ada di sini juga ... Om Arya."


"Maaf ya tadi Anggun hanya fokus sama Leon, haduh tidak enak hati sama Tante dan Om," lanjut ucapan Anggun dengan senyum kikuk.


Ibu Alenta meraih tangan Anggun."Sudah tidak apa-apa, sekarang duduklah, duduk di sini biar Tante yang bergeser."


Ibu Alenta membawa Anggun duduk di sebelah Leonardo, tempat yang tadi Ibu Alenta dudukki.


"Tante, Om. Maaf ya ... Anggun jadi tidak enak beneran lho," ucap Anggun seraya menggenggam tangan Ibu Alenta berganti melihat Arya.


"Sudah tidak apa-apa, Anggun. Mungkin karena kalian jarang ketemu jadi wajar bila kamu hanya fokus pada Leon." Arya berganti menatap Leonardo. "Bukan begitu Leon?"


Leonardo hanya tersenyum kecil, sangat kecil sampai tidak nampak.


"Leon ... Aku senang bisa bertemu kamu di sini ... apa kabar kamu, hem?" Anggun menatap Leonardo penuh kagum.


Leon, jantungku berdebar-debar hanya duduk di samping kamu, kamu terlihat lebih tampan dan cool, batin Anggun yang terus melihat Leonardo tanpa kedip.


Ehem Hem.


Mendengar suara dehheman dari Ibu Alenta, Anggun langsung memutus pandangannya dan tersenyum ke arah Ibu Alenta.


"Sabar, Tante tahu kamu mengagumi Leon, kan?" bisik Ibu Alenta di telinga Anggun.


Hah Anggun sangat bahagia memiliki calon ibu mertua yang begitu peka.


Pelayan datang mengantarkan makanan yang tadi di pesan, hanya Anggun yang belum mendapat makanan.


"Leon, kamu mau pesankan Anggun makanan apa? kan dahulu kamu tahu makanan kesukaan Anggun?" Ibu Alenta sengaja bertanya seperti itu ingin membuat hati Milea kesal.


Ibu Alenta menatap sinis ke arah Milea, dan tersenyum kembali melihat Leonardo, Anggun tersenyum juga melihat Leonardo, ingin mendengar Leonardo akan bicara apa? apa kah Leonardo masih ingat makanan kesukaannya? pertanyaan-pertanyaan dalam benak Anggun.

__ADS_1


Leonardo yang tadi sudah mengaduk spaghetti, menghentikan gerakan tangannya. "Kejadian itu sudah lama, maaf aku tidak ingat lagi," jawab santai Leonardo kemudian lanjut mengaduk bumbu spaghetti.


Anyep deh, senyum di bibir Anggun dan Ibu Alenta seketika meredup berganti kecewa, batin Anggun sedih karena Leonardo sudah melupakan, sedangkan Ibu Alenta menahan geram, dan yakin bila Leonardo hanya pura-pura lupa.


Milea makan sembari menahan tawa, meski Milea paling dicuekin tidak ada yang mengajaknya bicara, tapi hatinya los dol, yang penting makan enak perut kenyang selesai pulang.


Tidak ingin dipermalukan lagi oleh Leonardo, Anggun milih memesan makanan sendiri, semua orang sudah pada makan, Anggun hanya berdiam sendiri.


Milea yang sejak tadi paling tidak terlihat di mata Anggun, saat ini baru menyadari bahwa ada wanita yang duduk di sebelah Leonardo.


Siapa wanita berparas manis itu? aku baru lihat, mengapa dia makan di sini bersama keluarga Leon?


"Em maaf kamu-."


"Nyonya ini pesanan makanan nya," ucapan pelayan yang baru datang memotong pertanyaan Anggun untuk Milea.


Anggun mulai menyantap makanan nya, dan lupa akan pertanyaannya tadi untuk Milea.


Beberapa saat kemudian semuanya sudah selesai makan malam, kini semuanya lanjut mengobrol bersama.


Milea hanya melihat memperhatikan semua wajah-wajah yang malam ini terlihat bahagia, Milea hanya menatap miris pada dirinya sendiri, yang didiamkan tanpa diajak bicara, kehadirannya bagai tidak dianggap.


"Apa kah masih lama? aku mengantuk mau pulang." Milea tersenyum menatap Leonardo.


Leonardo menoleh saat mendengar ucapan Milea, semua orang yang tadi masih tertawa langsung menghentikan tawanya dan menatap Milea.


"Belum malam, juga masih setengah sembilan, sudah mengajak pulang,"ucap ketus Ibu Alenta.


Milea tersenyum ke arah Ibu Alenta.


"Paman, aku harus pulang sekarang, Ibu jika mau pulang nanti tidak masalah."


Setelah bicara Leonardo langsung mengajak Milea berdiri, berjalan sembari menggenggam tangan Milea, dan semua pergerakan Leonardo, Anggun perhatikan, dari mulai berdiri sampai berjalan menggenggam tangan Milea.


Siapa wanita itu? aku melihat mereka begitu dekat, batin Anggun sembari terus menatap Leonardo yang berjalan semakin menjauh.


"Mereka tidak miliki hubungan apa pun, jangan khawatir," ucap Ibu Alenta yang langsung mengalihkan pandangan Anggun, kini menatap Ibu Alenta.

__ADS_1


Ibu Alenta berani bicara seperti itu karena saat ini Arya sedang pamit ke toilet.


Di dalam mobil, Milea hanya diam saja seraya menatap ke arah luar, Leonardo merasa ada yang aneh sama Milea karena hanya diam saja, tapi Leonardo juga milih diam.


Bahkan sampai mobil kini sudah tiba di rumah utama, Milea juga masih diam, biasanya gadis itu akan banyak bicara, cerita ini dan itu, kini diam saja.


Leonardo berhenti sejenak, setelah Leonardo dan Milea sama-sama sudah berada di luar mobil siap akan masuk ke dalam rumah.


"Kamu sakit?" tanya Leonardo seraya memegang tangan Milea yang baru saja mau melangkah.


Milea hanya menggeleng tanpa melihat wajah Leonardo.


Leonardo jadi bingung, ahirnya membiarkan Milea berjalan lebih dulu, Leonardo masih berdiam diri di tempat, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari melihat Milea yang terus berjalan masuk ke dalam rumah.


Hah Leonardo pusing juga karena tidak tahu alasannya apa, tiba-tiba Milea berubah diam.


Setelah sampai di dalam kamar, Leonardo kembali penasaran dan bertanya lagi, menghalangi Milea yang mau masuk ke dalam kamar mandi.


Ada apa sih, kenapa sih? begitulah arti tatapan Milea yang saat ini membalas tatapan mata Leonardo.


"Jawab."


Milea menghela nafas panjang, saat ini enggan mau bicara, entah karena apa, hatinya hanya merasa kesal.


Tidak aku tidak mungkin cemburu kan, aku tidak mungkin cemburu! teriak batin Milea.


Aku hanya lelah perasaan ini bukan karena aku cemburu, aku tidak mungkin mencintai Tuan Leonardo, batin Milea lagi dengan tatapan sendu.


Milea yang menunduk, Leonardo meraih dagu Milea untuk menatapnya.


"Yakin kamu tidak sakit?"


Ditanya dengan suara selembut itu, hati Milea semakin sakit, karena seandainya pun dirinya mencintai, pernikahan ini hanya kontrak, dirinya akan dibuang, saat pria di depannya ini sudah bosan.


"Hei, kenapa kamu menangis?" Leonardo menghapus air mata Milea.


Jangan perhatian sama aku Tuanku, bersikaplah dingin seperti biasanya, supaya hatiku tetap kuat, aku takut hatiku yang lembut ini akan mencintaimu, aku tidak siap jika harus terluka.

__ADS_1


__ADS_2