Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 28. Bisik-bisik.


__ADS_3

Waahhh, gumam Milea dengan tatapan kagumnya setelah menyembul keluar dari dalam mobil yang berhenti di depan gedung Armada Group.


Biasanya Milea hanya bisa melihat Gedung Armada Group melalui majalah atau koran yang sedang membicarakan topik hangat seputar Armada Group.


Tapi kali ini Milea bisa melihatnya secara langsung, sebuah gedung pencakar langit. Sibuk mengagumi sampai tidak melihat Leonardo dan Sekertaris Alan sudah berjalan lebih dulu.


"Eh, tunggu!" teriak Milea setelah sadar dari lamunannya, langsung berlari mengejar langkah lebar dua pria itu.


Milea yang sedang berlari tentu menjadi pusat perhatian para karyawan yang baru datang, mereka semua menatap aneh ke arah Milea.


"Maaf Nona Anda tidak boleh masuk!" ucap sekuriti penjaga pintu keluar masuk gedung Armada Group.


Milea bingung harus bagaimana, tidak mungkin kan harus berkata jujur bila dirinya adalah istri Tuan Leonardo.


"Ah, aku-."


"Biarkan dia masuk!" perintah tegas Leonardo, yang tiba-tiba menghentikan langkahnya saat mendengar sekuriti menahan Milea.


Meski terkejut dan penuh tanda tanya, sekuriti tersebut mempersilahkan Milea masuk, dengan wajah kebingungan yang nampak jelas.


Milea tersenyum dan menunduk pada sekuriti sebelum ahirnya menyusul Leonardo yang sudah berada di dalam, Leonardo menghela nafas panjang saat melihat Milea menunduk pada bawahannya sendiri.


Setelah mereka bertiga sembunyi di balik pintu lift, para karyawan yang baru datang tadi serta yang berada di lobby, langsung bisik-bisik membicarakan Milea sudah seperti berita hangat pagi ini.


"Siapa ya wanita tadi yang bersama Tuan?"


"Pembantunya kali, lihatlah tadi bajunya saja kumuh," timpal temannya dengan bibir tersenyum mengejek.


"Tapi kalo pembantu tidak mungkin diajak ke perusahaan," imbuh teman yang lainnya yang miliki pikiran waras.


"Tapi tidak mungkin kan kekasih simpenan? masa iya seleranya rendahan," yang lain juga ikut membenarkan, meski hatinya masih ada keraguan, karena yang biasanya Leonardo bawa ke perusahaan adalah wanita cantik bak putri iklan.


"Tapi aku iri sama wanita itu, sepertinya dia diperlakukan spesial, aku mau dong," ucap yang satunya lagi yang miliki badan mungil, yang langsung diketekin sama teman-teman yang lain karena gemas.


"Emang yang mau cuma elo!" ucap mereka semua serempak, tanpa sadar suaranya begitu keras, dan langsung kembali ke tempat duduk masing-masing untuk memulai bekerja, saat di tatap tajam oleh Manajer yang baru lewat.


Ternyata Milea tidak di suruh ngapa-ngapain, dari baru sampai Milea langsung duduk, bosan? itu yang dirasakan Milea sekarang.

__ADS_1


Sementara Leonardo baru saja keluar dua menit lalu, karena ada meeting bersama para karyawan.


Milea sendirian di ruangan ini, matanya melihat ke seisi ruangan banyak sekali foto Leonardo yang gagah berpakaian jas, ada juga lukisan alam yang indah.


Di dalam almari yang letaknya paling sudut, ada sebuah alat musik biola, Melia mendekat ingin melihat lebih jelas.


"Biola." Milea bicara lirih seraya jemarinya menyentuh kaca seolah meraba biola di dalam sana.


Milea hanya mampu tersenyum getir saat melihat biola tersebut, karena teringat impiannya dulu yang ingin sekali bisa bermain musik biola, namun apa lah daya, ayahnya tidak mau membiayai, Milea tidak bisa melakukan apa pun selain merelakan impiannya itu.


Tanpa terasa air matanya menetes, setiap orang pasti miliki cinta pada sesuatu yang tidak bisa digapai, dan setiap teringat kegagalan itu pasti akan tetap mengundang kesedihan.


Saat Milea menoleh ke arah jendela, kini matanya tertarik dengan hujan turun di luar sana, ruangan ini kedap suara, hingga membuat siapa pun penghuni di dalam tidak mampu mendengar suara di luar.


Milea mendekat ke arah jendela, kesedihannya beberapa menit lalu terhapuskan dengan melihat air hujan, Milea memejamkan matanya berdoa meminta kebaikan.


Selesai berdoa Milea membuka matanya perlahan, matanya langsung berbinar menajam melihat pelangi yang muncul di luar sana.


Seperti lukisan indah yang nyata, ada pelangi di tengah hujan, awan putih yang semakin memperjelas warnanya.


Tiba-tiba Milea kembali bersedih, seolah teringat kebahagiaannya yang berangsur-angsur hilang seperti pelangi yang indah perlahan menghilang.


"Kamu sedang apa."


Suara pria yang begitu Milea kenal, seketika menyadarkan dari lamunannya, Milea balik badan kini matanya langsung melihat sosok yang baru bicara itu, tengah duduk di kursi sofa seraya mengendurkan dasinya.


"Tu-Tuan sudah selesai?" tanya Milea sembari berjalan mendekat.


Hem.


"Tu-Tuan mau dibantu apa?" Milea menatap sekilas kemudian menunduk lagi.


"Buatkan aku teh hangat tapi tidak manis." Leonardo bicara tanpa melihat Milea, kini bersandar seraya memijit pelipisnya.


Milea langsung melakukan perintahnya, yang kini sudah berada di dalam lift, langsung melangkah keluar setelah pintu lift terbuka.


Ternyata di sana Milea kembali bertemu dengan karyawan yang tadi pagi bergosip di belakangnya, mereka juga sedang membuat teh hangat.

__ADS_1


Saat baru masuk ke ruang pantry, Milea sudah merasakan hawa tidak enak, sepertinya Milea sudah peka dengan situasi yang tidak bersahabat dengan dirinya.


Dan benar saja, saat Milea kini sedang menabur teh ke dalam gelas, telinganya mendengar suara mereka yang baru melangkah pergi membawa segelas teh.


"Iya dia pembantunya, nyatanya dia membuat teh."


"Kalo aku tidak yakin, bisa saja dia wanita bayaran, karena jelek dibayar murahan."


Milea mengepalkan tangannya.


"Cocok kalo dibayar murahan, lihatlah penampilannya jelek, bajunya juga jelek."


"Dia memang cocoknya jadi pembantu."


Hahah!


Suara-suara mereka menghilang seiring langkahnya yang semakin jauh.


Dasar wanita penghuni neraka, punya bibir hanya untuk ghibah! mending kalo kenal, kenal aja tidak! batin kesal Milea seraya menghela nafas berat.


Saat Milea bersama para karyawan yang kini berada di dalam lift yang sama, Milea memasang wajah sok angkuh, tidak menyapa, tidak senyum, dan tidak peduli, meski Milea tahu yang saat ini bersamanya bukan karyawan yang tadi, tapi Milea tidak mau bersikap baik, menganggap semua sama.


Setelah pintu lift terbuka, Milea langsung melangkah keluar, bersamaan karyawan tersebut.


Saat Milea langsung membuka pintu Presdir dan masuk ke dalam sana tanpa mengetuk pintu dan berucap permisi.


Karyawan yang datang bersama Milea sampai terkejut, siapa wanita itu pikirnya yang tiba-tiba mendadak blank.


"Staf Elis silahkan masuk."


Suara Sekertaris Alan menyadarkan lamunan Elis, yang kini sama-sama keduanya masuk ke dalam ruangan Leonardo.


Milea sudah masuk ke dalam kamar setelah diperintah oleh Leonardo, kini dia tidak bisa mendengar pembicaraan Leonardo bersama dua bawahannya yang membahas masalah perusahaan.


Milea yang saat ini berada di dalam kamar, matanya sampai terkagum-kagum, baru tahu bila di tempat kerja ada ruang kamar sebagus ini.


"Ini ruang kerja atau hotel," ucap Milea seraya menikmati busa empuk di ranjang.

__ADS_1


__ADS_2