Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 29. Gagal lagi.


__ADS_3

Ruang AC yang terasa dingin dan segar, membuat Milea betah di kamar tersebut, Milea menari-nari dengan gerakan seirama tarian balet, bibirnya bersenandung, menghapus segala lara yang dimilikinya.


Saat Milea berputar gerakan kakinya salah, dan seketika Milea ambruk ke pinggiran ranjang dengan posisi tengkurap.


Brukk!


Aww! pekiknya dengan wajah tenggelam di kasur busa.


Brakk!


Milea menoleh saat pintu dibuka kasar.


"Ayo pulang!" Leonardo langsung menarik tangan Milea, tidak memberi wanita itu untuk bertanya.


Waduh ini kenapa! kenapa tangan aku di tarik seperti ini, batin Milea seraya mengikuti langkah cepat Leonardo yang menuju lift, sampai di lobby dan lift terbuka, Leonardo kembali menarik tangan Milea, benar-benar tidak memberikan Milea untuk bernafas lega.


Jantung Milea semakin berdetak kencang seirama langkahnya yang cepat.


Ini kenapa sih, ini ada apa sih, kenapa aku terus di tarik-tarik! kesal Milea dalam hati.


Mobil langsung melesat pergi dengan kencang, setelah semua masuk ke dalamnya.


Sementara setelah kepergian Leonardo yang menarik Milea, para karyawan yang melihatnya semua terkejut, karena sebuah pemandangan langka, sang Presdir menggenggam tangan wanita, apa lagi wanitanya begitu jelek menurut mereka.


Terakhir mereka melihat Leonardo berlaku mesra ketika masih bersama kekasihnya yang dulu, dan itu sudah dulu, dulu sekali.


Apa lagi Elis yang menyaksikan semuanya sendiri, tampak jelas di depan matanya, dari saat Leonardo menerima sebuah telepon, yang entah telepon dari siapa, Elis tidak tahu, Leonardo wajahnya langsung berubah khawatir dan seketika mematikan sambungan telepon, kemudian menarik Milea yang berada di dalam kamar, dirinya ajak keluar bersama.


Untung saja Elis bisa mengendalikan kewarasannya, bila tidak mungkin sudah pingsan, karena melihat langsung sang Tuan memasukkan wanita biasa di dalam kamar, yang kekasihnya dulu saja Elis tahu belum pernah ditunjukan kamar itu.


Siapa gadis itu? gumam Elis terus menerus seraya berjalan menuju ruang kerjanya, selama berjalan mulai dari keluar dari ruang Presdir sampai tiba di ruang kerjanya sendiri, pikiran Elis masih buntu belum menemukan jawaban siapa Milea. Gadis biasa yang Elis lihat, tapi tampaknya berarti bagi sang Tuan.


Sementara mobil yang membawa Leonardo dan Milea kini sudah sampai di halaman rumah utama.


Leonardo langsung berlari cepat masuk ke dalam rumah, sementara Milea yang belum paham, bahkan tidak tahu ada masalah apa? malah berdiri mematung di depan pintu mobil.


Ini sebenarnya ada apa sih, kenapa main lari-lari main tarik-tarik, batin Milea yang bingung.


Milea ahirnya berjalan masuk ke dalam, ingin mencari tahu ada masalah apa di dalam, dan kebetulan Milea bertemu Pak Ahmad yang sepetinya baru turun dari lantai atas.

__ADS_1


"Pak! Pak Ahmad!" teriak Milea kencang, sembari berjalan mendekati Pak Ahmad.


Pak Ahmad menunduk saat Milea sudah berdiri di sampingnya, Milea mengibaskan tangan lagi-lagi kesal saat Pak Ahmad berlaku hormat padanya.


"Pak, ada apa sih, ada apa di rumah ini?" tanya Milea penasaran.


"Nyonya Lea belum tahu?"


Milea membuang nafas kasar saat Pak Ahmad malah balik bertanya.


"Pak! kalo saya sudah tahu mana mungkin saya bertanya! ya elah gitu aja ribet, Pak!" Milea kesal sampai nada suaranya meninggi.


"Nyonya besar sedang sakit."


What!


Milea terkejut sampai menutup mulutnya, Pak Ahmad kembali berjalan mau ambil air hangat untuk mengompres perut Ibu Alenta.


Eh, itu mertua aku bisa sakit juga to? aku pikir tidak bisa, batin Milea yang malah mengejek Ibu Alenta.


Milea mau menunjukan sebagai menantu yang baik, ingin melihat keadaan sang mertua, bukan mau membantu di sana, Milea hanya ingin melihat saja, to Ibu Alenta juga tidak mau bila Milea sentuh atau di pegang.


Hohohoho, aku datang Bu, untuk menertawakan mu, dimana nya yang sakit? haduh kasihan, batin Milea di balik senyumnya.


Di ruangan ini sudah ada dokter Arman, selaku dokter khusus untuk keluarga Armada, yang selalu menangani keluarga Armada bila ada yang sakit.


Ibu Alenta sudah selesai di periksa, Dokter Arman sudah menjelaskan tadi sakit yang dirasakan Ibu Alenta, pada Leonardo.


Tapi pria itu hanya diam tanpa memberi komentar, malah saat ini pandangannya lurus menatap ibunya.


Ibu Alenta yang di tatap seperti itu oleh Leonardo merasa terintimidasi.


Apa Leon mencurigai aku, batin Ibu Alenta disertai pura-pura batuk.


Uhuk-uhuk!


Leonardo seketika duduk di pinggir ranjang sebelah ibunya, menyerahkan air minum untuk Ibu Alenta.


"Minumlah obatnya sekarang, Bu?" Leonardo membuka bungkus obat yang tadi Dokter Arman berikan.

__ADS_1


"Leon, tidak nanti saja." Ibu Alenta menolak menggunakan tangannya.


"Kenapa? Ibu lagi sakit, kan?" Leonardo menaikan satu alisnya.


"I-iya Leon, tapi-."


Leonardo memasukkan obat ke dalam mulut ibunya beserta air minum.


"Telan." Leonardo menatap tajam ibunya.


Obat sudah ibu Alenta telan. "Leon?" wajah Ibu Alenta menunduk, menangis.


Milea yang sedari tadi berdiri menyaksikan semuanya, hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung campur tidak mengerti, soalnya Leonardo malah bersikap dingin, padahal tadi saat mau pulang pria itu panik, ada apa sebenernya? Milea terus bertanya-tanya dalam benaknya.


Ini mereka sedang bermain drama apa gimana sih, batin Milea, baru saja Milea berhenti membatin, kini kembali dibuat terkejut.


"Leon, maafkan Ibu, maaf kan Ibu, Leon." Ibu Alenta menangis sesenggukan.


"Kenapa Ibu tega melakukan ini." Leonardo memegang bahu ibunya.


"Ibu hanya iri dengan Milea, kamu perhatian dengan dia! sedangkan sama Ibu, kamu tidak." Suara tinggi Ibu Alenta berangsur melemah, air matanya terus membanjiri pipi.


"Jangan menyalahkan orang lain, Bu. Cara Ibu barusan bisa membuat Ibu mati, Ibu mau bunuh diri!"


Ibu Alenta tidak mampu menjawab, hanya menggelengkan kepalanya, meski matanya terus menangis tapi hatinya memaki diri sendiri karena rencana untuk mengambil hati Leonardo gagal.


Tadinya Ibu Alenta ingin menjerat Leonardo dengan pura-pura sakitnya, akan meminta Leonardo menikah dengan gadis pilihannya, bila mau ibunya sembuh.


Tapi rencana belum terjalankan sudah ketahuan.


Sial! Sial! ahhh! batin Ibu Alenta memaki.


Leonardo menghapus air mata ibunya, mengusap rambut ibunya kebelakang, tidak ingin kejam pada ibunya, tapi ibunya selalu membuat ulah yang tidak disukai Leonardo.


Hah, buk'e sudah tua kok ya bikin ulah, kalo celaka beneran siapa to yang rugi, Milea bibirnya menyebik.


Milea lebih milih meninggalkan tempat tersebut, meninggalkan Leonardo dan ibunya. Dokter Arman juga sudah keluar, kini sedang berbincang bersama Pak Ahmad di lantai satu.


"Jangan lakukan hal bodoh lagi, Bu. Atau Leon akan benar-benar marah sama Ibu."

__ADS_1


Deg!


__ADS_2