Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 10. Pernah dikhianati.


__ADS_3

"Milea kamu di panggil oleh Tuan Muda."


Suara Pak Ahmad mengagetkan Milea yang saat ini tengah meneguk air minum.


"Sa-saya Pak," tunjuk Milea pada dirinya sendiri.


"Siapa lagi bila bukan kamu, lagian kamu kenapa gugup seperti itu?" tanya Pak Ahmad, yang langsung mendapat gelengan cepat Milea.


"Tidak Pak."


Setelah menjawab barusan Milea segera mendatangi kamar pria itu, padahal Milea baru saja keluar dari kamar pria itu, setelah menyiapkan air hangat untuk mandi, tapi sekarang Milea sudah di panggil lagi.


Apa sih! Dia mau apa lagi sih! Ngedumel dalam hati seraya mempercepat langkahnya.


Milea mengatur nafas dulu sebelum ahirnya mengetuk pintu, setelah mendapat perintah diijinkan masuk, Milea baru membuka pintu, seketika Milea melihat sosok di dalam sana, yang saat ini tengah berbaring di atas ranjang.


Milea berjalan mendekat, sekarang sudah berdiri di samping pinggir ranjang, Milea belum tahu mau disuruh apa lagi oleh Leonardo.


Pria itu masih diam belum memberi perintah, tiduran tengkurap dengan kepala miring ke kanan, separuh wajahnya menempel di bantal. Dengan posisi seperti itu hidungnya yang mancung makin jelas kentara.


Astaghfirullah aku tidak boleh memuji dia tampan! Batin Milea mengingatkan diri, Leonardo hanya pria jahat yang Milea kenal.


"Kenapa masih diam di situ, cepat naik!"


Deg! Milea langsung tersentak kaget mendengar kalimat yang Leonardo ucapkan.


Apa! Naik ke atas! Dia mau apa sama aku, tidak tidak! jangan sampai macam-macam denganku dan menjadikan aku wanita yang akan menemani malam mu! Milea diam dengan makian yang mampu ia lontarkan dalam hati.


Setelah sadar makian yang baru Milea ucapkan hanya dalam hati, Milea memukul-mukul pelan kepalanya.


Milea! Kau itu benar-benar ya, dimana keberanian mu! Kenapa nyalimu menciut menghadapi pria itu! Ayo lawan Kamu pasti bisa! batin Milea dan udah siap mau menolak. Namun tiba-tiba ...


"Mele, kamu tidak dengar apa perintahku!" bentak Leonardo seraya duduk di atas ranjang. Dan menatap tajam Milea.


"I-iya Tuan, ma-maaf ... Ma-maaf Tuan," ucap Milea gugup seraya menunduk dalam.


His dia sangat menyeramkan, batin Milea.


"Aku capek pijit punggung aku!" titah Leonardo yang kemudian kembali tengkurap lagi.


Eh, bilang dari tadi jadinya kan aku tidak salah paham, gumam Milea seraya menutup mulutnya sendiri, tadi pikirannya sudah berkelana sangat jauh sampai membayangkan hal-hal buruk, padahal Leonardo hanya minta di pijit.


Milea naik ke atas ranjang Leonardo, membaca bismillah sebelum dirinya menyentuh badan Leonardo.

__ADS_1


Leonardo menggunakan baju piyama tidur, Milea bersyukur karena tidak harus bersentuhan kulit secara langsung.


Milea mulai memijit dari punggung Leonardo lebih dulu, sudah berjalan beberapa detik, Leonardo kurang puas dengan pijitan Milea yang tidak kerasa baginya.


"Kurang keras."


Milea menambah tekanannya nya dalam memijit.


"Masih kurang keras."


Milea tambah lagi sekarang menggunakan sekuat tenaga.


"Aw! Kmu terlalu menekannya!" bentak Leonardo seraya melirik Milea dengan tajam.


Aaaaaa! Milea berteriak frustasi dalam hati menghadapi mahluk satu di hadapannya ini .


Huh! Huh! Tangan Milea membentuk pukulan rasanya ingin memukul kepala Leonardo.


Tidak tahu apa maunya pria itu, Milea benar-benar kesal, sekarang Milea memijit dengan tenaganya yang sedang, Leonardo tidak komentar lagi, Milea terus melanjutkan memijitnya.


"Kamu bila mau berkunjung ke rumah, aku ijinkan," ucap Leonardo secara tiba-tiba.


"Sungguh Tuan?" tanya Milea memastikan.


Hem, jawab singkat Leonardo.


"Tuan bila seandainya tiba-tiba ada yang melamar saya, lalu mengajak saya menikah bagaimana? Tuan,"


"Memang ada yang mau sama kamu." Leonardo tertawa kecil.


Hih dia menghina banget, gini-gini mantan aku banyak tau, mantan tapi kalo kekasih tidak ada hihihi, batin Milea yang juga menertawai dirinya sendiri.


"Ya, kan seandainya saja Tuan," jawab Milea, kini mijitnya pindah ke kaki Leonardo.


"Tidak boleh! Sebelum kontrak kerja kamu dengan aku selesai!" ucap tegas Leonardo, mendengar itu Milea menyebikkan bibirnya.


"Bila Tuan sendiri bagaimana? Tidak menikah juga?" tanya Milea dengan berani, tiba-tiba rasa takut menyerangnya.


Jangan marah, jangan marah aku hanya bertanya ini perintah Nyonya, doa Milea dalam hati.


"Tidak! Tidak ada wanita yang tulus, dan bila kamu ingin tahu alasannya, aku tidak suka berdekatan dengan wanita, aku tidak mau miliki hubungan dengan wanita, cukup hanya wanita di masa lalu yang sudah pergi bersama penghianatan nya."


Eh, dia curhat.

__ADS_1


Milea milih diam, kini Milea jadi tahu mengapa alasan Nyonya ingin Leonardo segera menikah, karena Leonardo tidak mau berdekatan dengan wanita, dan bukankah ini sangat sulit bila harus membujuk Leonardo supaya mau pikir Milea.


Sembari terus memijit Leonardo, Milea juga berpikir harus melakukan cara apa untuk bisa membantu Nyonya.


Tapi setelah mendengar cerita Leonardo barusan, kasihan juga pikir Milea, ternyata Leonardo miliki masala lalu yang menyakitkan dalam asmara.


Dan dari ucapannya itu, Leonardo terlihat sangat sakit hati, bahkan trauma untuk menjalin kasih dengan wanita, sampai menganggap semua wanita sama.


Milea saat ini beralih memijit kepala Leonardo, supaya rasa pusingnya hilang, samar-samar Milea mendengar suara dengkuran halus, melirik Leonardo ternyata pria itu saat ini sedang tidur.


Milea menghela nafas panjang dan lanjut memijit lagi, setelah merasa cukup, Milea menyelimuti Leonardo, setelah itu dirinya keluar dari dalam kamar itu.


Milea langsung berjalan menuju lantai satu, saat ini sudah pukul sepuluh malam, semua penghuni rumah sudah pada istirahat, saat melewati dapur, Milea ingin makan tiba-tiba merasakan lapar.


Selesai makan, Milea langsung menuju kamar, saat melewati kamar para pelayan, tiba-tiba bertemu mbak Tuti.


"Lea sini." Mbak Tuti melambaikan tangan meminta Milea untuk mendekat.


Milea mendekati mbak Tuti, dan malah di ajak masuk ke dalam kamarnya, ternyata di dalam ada tiga pelayan yang lain.


Mbak Tuti mengajak Milea untuk duduk.


"Lea gimana perasaan kamu kerja di samping Tuan Leonardo?" tanya mbak Tuti penasaran.


"Iya Lea, bagaimana ayo cerita," ucap Iyus menimpali juga.


Milea tersenyum, dan senyum Milea diartikan salah paham oleh keempat wanita yang ada di kamar itu.


"Hayo ... Lea suka dengan Tuan Leonardo," ucap bersamaan keempat wanita itu yang langsung disusul tawa.


Hahahaha!


"Hih, bukan begitu, aku tersenyum bukan berarti suka," protes Milea tidak terima.


"Halah ... Halah ngaku aja ..." ucap bersamaan mereka berempat lagi.


"Tidak! Tidak aku tidak suka," jawab Milea namun juga ikut tertawa, jadi gemas karena para temannya tidak percaya.


"Oh, ayolah mana mungkin aku suka dengan Tuan Leonardo," jelas Milea lagi dengan suara merengek berharap temannya mau mengerti dan percaya.


"Hihihi, pakai bohong." Masih terus menggodai Milea suara-suara mereka.


Milea yang tidak mau mendengar ucapan mereka semua, ahirnya milih pergi.

__ADS_1


"Milea ngambek!" teriak Iyus.


"Biarin!" balas Milea sembari tertawa, Milea lelah dan malam ini mau istirahat, menyiapkan hati dan mental untuk esok hari.


__ADS_2