
Hahaha, Milea masih saja terus tertawa, Leonardo mengacak-acak rambut Milea dengan gemas.
Haha. "Tuanku," ucap Milea seraya melihat Leonardo yang kemudian berdiri berjalan keluar dari dalam kamar.
Ibu Alenta yang sama juga baru keluar kamar, melihat bibir Leonardo tampak merah sekali.
"Leon, kamu kenapa?" Ibu Alenta menghampiri Leonardo melihat bibir Leonardo dengan dekat.
"Aku kepedesan, Bu. Baru saja aku makan bakso pemberian Mele."
Ibu Alenta langsung menutup mulutnya karena terkejut. "Leon, kau jangan makan sembarangan, apa lagi itu makanan pemberian wanita sialan itu."
"Wanita sialan itu istri ku, Ibu." Leonardo menekan kata istri, kemudian melengos pergi.
Ibu Alenta mau bicara lagi namun Leonardo suda berjalan cepat menapaki anak tangga, Ibu Alenta hanya bisa menghela nafas panjang.
Milea yang berada di dalam kamar, masih saja tertawa terus, merasa puas sudah mengerjai Leonardo, rasa kesalnya pada pria itu terbayar sudah.
Kamu sungguh berani Lea, apa kamu lupa dia adalah Tuan Leonardo yang bisa berbuat apa pun, bagaimana kalo dia membalas perbuatan kamu tadi. Kamu mungkin dicemplungkan ke got atau ke air comberan. Aaaa! tidak tidak! Milea menggelengkan kepala memikirkan hal negatif yang baru melintas.
Di dapur sana, Leonardo sedang duduk di kursi, di meja depannya duduk, ada minuman manis, baru saja Pak Ahmad membuatkan jus jeruk, buat ngobatin rasa pedas katanya.
Milea menyusul Leonardo turun ke bawah, setelah tiba di dapur, Milea melihat Leonardo duduk, pria itu membelakangi Milea, jadi tidak tahu saat Milea datang.
Milea mendekat dan setelah berada di sampingnya, Milea baru tahu bila Leonardo sedang minum jus.
Halah badan kekar tinggi muka sangar tapi sama pedas takut, batin Milea mencibir Leonardo.
Leonardo menghabiskan jus jeruknya, setelah menaruh gelas di meja, Leonardo menarik tangan Milea sampai membuat wanita itu jatuh ke pangkuannya.
Deg.
Milea merasakan saat ini bibir Leonardo menempel ke telinganya. Milea tiba-tiba teringat pikiran negatifnya tadi.
Tidak! tidak mungkin kan dia mau membalas perbuatan aku, batin Milea sudah ketakutan.
"Kamu mau hamil tidak?"
__ADS_1
Duarr! Bagaikan ada bom besar yang langsung menghantam tubuh Milea, terkejut dengan pertanyaan Leonardo.
Hah kenapa dia tiba-tiba bahas hamil, tidak aku tidak mau, nanti kau akan ambil anakku lalu aku aaaa tidak tidak!
"Kau diam, kau tidak mau." Leonardo bicara lagi, bibir pria itu menyapu leher Milea, tangannya mengusap perut Milea.
Milea makin ketakutan, tapi Milea tidak mau diam saja, kali ini Milea harus berani bicara, dengan mengumpulkan segala keberaniannya, Milea menarik wajah Leonardo untuk ia tatap.
"Tuanku, a-aku emm kita kan cuma nikah kontrak, iya nikah kontrak," ucap Milea disertai senyum-senyum.
"Cih, nikah kontrak juga memang tidak boleh punya anak," bibir Leonardo mayun, Milea jadi gemas melihatnya.
Ternyata dia tidak mencintaiku, hemm. Tapi aku akan buat dia mencintaiku, aku akan segera menyatakan cinta padanya, dan setelah itu akan aku buat dia hamil, kau hanya milikku sampai kapan pun akan tetap milikku, batin Leonardo disertai seringai tipis di bibir.
Milea jadi merinding melihatnya.
Dia miliki rencana apa ya?
"Bangunlah," titah Leonardo, Milea langsung bangun dari pangkuan Leonardo, pria itu langsung pergi meninggalkan Milea.
Wanita cantik sedang duduk di pinggiran ranjang, melihat album lamanya dari masa sekolah dahulu.
"Aku sudah sejak lama memendam perasaan ini untukmu Leon." Anggun mengusap foto lama, di waktu masih sekolah dulu, foto bersama Leonardo.
Ya, Anggun sudah lama mencintai Leonardo, sejak mereka masih duduk di bangku sekolah, namun dahulu Anggun memilih memendam perasaannya menghargai sebuah persahabatan.
"Kamu tahu Leon, sesulit apa aku berhenti mencintaimu, sesulit aku yang tidak mungkin lupa dengan nama kamu," ucap Anggun sudut matanya mengeluarkan cairan bening.
"Aku akan perjuangkan cinta ini lagi Leon, ini adalah sebuah takdir baik untuk aku memperjuangkan kamu lagi."
Ya, Anggun sudah memutuskan untuk memperjuangkan cintanya kepada Leonardo, jika dahulu Anggun merelakan sebelum berjuang, karena masih banyak hal yang harus Anggun pikirkan, terutama yang namanya persahabatan,tapi kali ini Anggun akan berjuang.
"Aku mencintaimu Leon." Anggun mencium foto Leonardo dengan air mata berderai.
Perasaannya sedih setiap kali mengingat cintanya yang hanya bertepuk sebelah tangan.
Anggun kembali menyimpan foto album tersebut, Anggun simpan ke dalam laci almari, kemudian kembali lagi ke ranjang berbaring di sana.
__ADS_1
Anggun terdiam, teringat Ibu Alenta, Anggun yakin melalui lantaran Ibu Alenta pasti bisa bersama Leonardo pikirnya.
"Bahkan kamu juga belum menikah Leon, pasti kita memang jodoh." Anggun tersenyum hatinya bahagia, dengan beranggapan nya sendiri.
Anggun tidak tahu bila Leonardo sudah miliki istri, karena Ibu Alenta tidak memberitahu, semua ini bagian dari rencana Ibu Alenta, karena tidak mau sampai Anggun tahu bila Leonardo sudah menikah, khawatir bila Anggun tidak mau mengikuti rencananya.
Anggun melirik surat lamaran kerja yang baru saja dibuatnya. "Besok aku akan datang ke Armada Group, sampai bertemu lagi Leon."
"Apa pun akan aku lakukan untuk bisa bersama kamu," lanjut ucapnya dengan bibir tersenyum.
Ingin bekerja di perusahaan Armada Group adalah bagian dari rencana Anggun, karena sebelumnya wanita itu bekerja bersama anggota DPR, keluar dari pekerjaan yang dulu demi bisa bersama Leonardo.
Malam ini Anggun segera tidur karena besok pagi tidak mau kesiangan.
Di rumah utama.
Milea dan Leonardo sudah tidur di ranjang, keduanya sudah sama-sama terlelap, namun tiba-tiba Leonardo bangun lagi, kemudian duduk merasa perutnya tidak enak, berasa mau mual.
Leonardo segera turun dari ranjang berjalan cepat ke kamar mandi, Leonardo muntah-muntah di dalam kamar mandi.
Pintu kamar mandi tidak Leonardo tutup, Milea tidurnya terusik, saat membuka mata tidak mendapati Leonardo di atas ranjang, Milea kemudian duduk melihat pintu kamar mandi terbuka.
Milea mau berbaring lagi namun belum sampai benar-benar berbaring mendengar suara orang muntah, Milea kembali duduk terjaga lagi, kemudian turun dari ranjang mendekati kamar mandi.
Milea terkejut saat melihat Leonardo yang muntah-muntah, Milea membantu Leonardo dengan memijit tengkuk pria itu.
Setelah merasa mendingan, Leonardo mencuci mulutnya juga mencuci wajahnya.
Milea jadi kasihan melihat Leonardo yang tiba-tiba mendadak wajahnya pucat.
Leonardo memegangi kepalanya yang terasa pusing, matanya mulai berkunang-kunang, Milea membantu Leonardo berjalan menuju ranjang.
Setelah Leonardo kembali berbaring karena merasakan kepala pusing, Milea mengambil obat, tidak lama kemudian Milea sudah balik ke kamar membawa obat masuk angin.
Milea meminta Leonardo untuk duduk meminum tolak angin, setelah Leonardo minum tolak angin, Milea memberikan air hangat juga.
Serius ini dia sakit? aku tidak mimpi kan, aku pikir Tuan Leonardo tidak bisa sakit, batin Milea seraya tersenyum tapi khawatir juga.
__ADS_1