Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 60. Menghajar empat penjahat.


__ADS_3

Setelah sampai di rumah, Milea langsung mandi menggunakan air hangat, supaya tubuhnya yang basah tersiram air hujan tidak membuatnya sakit.


Leonardo juga ikutan mandi, tapi di kamar mandi sebelah, karena bajunya tadi juga ikutan basah saat memeluk Milea.


Sepuluh menit, Leonardo sudah selesai mandi dan sudah kembali ke kamarnya, Milea belum selesai mandi juga, sampai Leonardo sudah berpakaian baju santai, Milea juga belum selesai mandi.


Leonardo ingin mengetuk pintu memastikan Milea baik-baik saja, khawatirnya tiba-tiba pingsan di dalam sana.


Tuk.


Aww! pekik Milea, karena bersamaan dirinya membuka pintu, Leonardo mengetuk pintu, ahirnya yang diketuk Leonardo hidung Milea.


Leonardo tidak peduli dengan rintihan sakit Milea, pria itu langsung membawa Milea ke ruang pakaian ganti, menyuruh Milea berdiam di sana, kemudian Leonardo mengambil pakaian ganti untuk Milea.


Milea diam dengan seribu pertanyaan, bingung dengan sikap baik Leonardo, kemudian pria itu datang lagi memberikan baju ganti untuk Milea.


"Pakailah aku tunggu di luar."


Iya lah masak di dalam, batin Milea seraya menerima pakaian itu, melihat Leonardo keluar dari ruang ganti.


Xixixixi padahal aku juga bisa ambil baju sendiri tapi dia mau mengambilkan, batin Milea tertawa cekikikan.


Leonardo benar-benar menunggunya di luar, saat Milea keluar dari ruang ganti, tangan Milea langsung Leonardo tarik hingga kini Milea duduk di pangkuan Leonardo.


Milea diam masih belum paham maksud Leonardo, namun tiba-tiba tangan Leonardo meraih selimut tebal yang ada di ranjangnya, kemudian Leonardo gunakan untuk membungkus tubuh Milea seperti kepompong.Supaya hangat pikirnya.


Belum hilang keterkejutannya saat tiba-tiba dibungkus selimut, kini mendapati rambutnya dikeringkan oleh handuk, Leonardo yang melakukan.


Milea terus menatap wajah tampan Leonardo, meskipun tidak senyum, tapi tetap terlihat tampan, bibir Milea menyungging senyum.


Bila dia perhatian seperti ini ketampanan Anda semkin plus-plus Tuanku xixixixi, puji Milea dalam hati seraya tertawa cekikikan.


Leonardo terus fokus dengan handuk di tangannya untuk mengeringkan rambut Milea, hingga beberapa saat kemudian rambut Milea sudah kering, rumayan lah karena cuma dikeringkan pakai handuk.

__ADS_1


Eh, eh dia mau apa! teriak Milea dalam hati, saat tiba-tiba Leonardo membawa tubuh Milea naik ke atas ranjang.


Menidurkan Milea di sana, meletakkan guling di sisi kiri dan sisi kanan Milea, bibir pria itu masih terkunci rapat tidak bicara sama sekali, Milea hanya bisa pasrah dan menatap bengong.


Kemudian mata keduanya saling menatap, saat Leonardo melihat wajah Milea, tanpa senyum tanpa bicara, sebelum ahirnya menjauh dari hadapan Milea, mengangkat telepon dari Alan.


"Tunggu aku di sana Alan," ucap Leonardo melalui sambungan telepon, berjalan seraya meraih jaket kulit, kemudian dipakai sembari berjalan keluar kamar.


Dia sangat keren, gumam Milea saat melihat Leonardo sampai pria itu keluar kamar.


"Haha, dia pikir aku bayi apa? sampai memberiku dua guling di sisi kiri dan kanan." Milea tersenyum, tidak lama kemudian Milea tertidur.


Leonardo saat ini sedang menuju suatu tempat yang tidak jauh juga dari rumah, mobil yang Leonardo kendarai saat ini sudah tiba di rumah kosong, lahan depan cukup luas.


Leonardo keluar mobil menggunakan kaca mata hitam, berjalan tegap masuk ke dalam sana.


Beberapa anak buahnya menunduk hormat saat melihat Leonardo datang, salah satunya menemani Leonardo menunjukan ruang para orang-orang pencuri sepeda motor Milea.


Sampai tiba di sana, Leonardo melihat Alan masih memukuli empat penjahat itu, baru berhenti saat orang yang menemani Leonardo tadi berbisik di telinga Alan.


Leonardo berjalan mendekati empat orang jahat itu, yang saat ini sudah terkulai lemas tidak berdaya di lantai, wajah mereka sudah dipenuhi lebam, bahkan mereka meringis kesakitan memegangi perutnya.


Sudah dapat dipastikan, bila sekertaris andalannya itu sudah mengajar habis-habisan empat penjahat itu.


Saat melihat Leonardo datang, salah satu orang penjahat itu memohon ampunan.


"Tu-Tuan sa-saya mo-mohon ma-maaf kan ka-kami Tu-Tuan," bicara susah payah, bibirnya terasa perih sudah pecah terkena pukulan sekertaris Alan, pria itu memohon seraya tangannya mau menjangkau sepatu Leonardo.


Yang geram melihat tingkat penjahat itu bukan Leonardo, tapi Sekertaris Alan, belum puas memukuli mereka sampai tidak berdaya, rasanya masih ingin memukul terus sampai puas.


Tangan sekertaris Alan mengepal, matanya menatap tajam ke arah empat penjahat itu.


Leonardo memang diam saja tapi saat tangan penjahat itu sudah mulai menyentuh sepatu mahalnya, kaki Leonardo langsung menendang pria itu.

__ADS_1


Brukk!


Pria itu langsung terjungkal kebelakang, kepalanya membentur lantai dengan keras, nyut-nyutan sekarang rasanya, tidak lama kemudian langsung pingsan.


Tiga kawannya yang melihat temannya ditendang sampai pingsan, langsung merinding takut, dengan bersama-sama mereka bertiga memohon ampunan.


"Tu-Tuan ma-maaf kan ka-kami, ka-karena ka-kami ha-hanya me-menjalankan pe-perintah."


Leonardo masih diam dengan tatapan membunuh ke arah mereka bertiga, Sekertaris Alan yang sudah tidak sabar ingin mendengar siapa dalang semua ini.


Mereka bertiga takut-takut mau bicara, karena sudah dibayar mahal, jika diam saja tidak mau berakhir seperti temannya yang saat ini sedang pingsan.


"Alan."


Melihat pria yang tadi menghabisinya sampai babak belur itu mendekati pria yang dilihatnya adalah bosnya.


Tiga penjahat itu langsung mengatakan orang yang menyuruh mereka tanpa pikir panjang.


"Nyonya Alenta yang minta kami Tuan." Mereka bertiga bersujud di depan Leonardo, meminta maaf dan berharap diijinkan pergi.


Leonardo tidak percaya setelah mendengar pengakuan tiga penjahat itu, bila dalang di balik pencurian sepeda motor Milea adalah ibunya sendiri, tadinya Leonardo pikir adalah orang lain.


"Alan kau lapar kan, makanlah." Menepuk pundak Sekertaris Alan, sebelum ahirnya pergi dari tempat tersebut.


Sekertaris Alan langsung tersenyum dengan tatapan nyalang mengarah tiga penjahat itu, kembali menghajar mereka sampai puas.


Sementara Leonardo saat ini sedang berada di dalam mobil menuju pulang, barusan mendapat kabar bila ibunya baru saja tiba di rumah, Leonardo menambah kecepatan mobilnya untuk segera sampai.


Di dalam kamar, Ibu Alenta tertawa bahagia, karena sudah berhasil mengerjai Milea, apa lagi kabar yang dirinya dapat dari orang suruhannya tadi, Milea di tinggal di tengah jalan dalam keadaan hujan.


Ibu Alenta makin tertawa puas, benar-benar hiburan baginya.


Baru saja duduk santai di kursi sofa, tiba-tiba pintu kamarnya di buka kasar dari luar.

__ADS_1


Ibu Alenta terkejut saat tahu siapa yang tengah membukanya, apa lagi mata orang tersebut yang menatap tajam ke arahnya.


__ADS_2