Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 87. Ingin ikut.


__ADS_3

Pagi ini Ibu Alenta masih saja kepikiran ucapan Kharisma kemarin, hatinya tidak tenang sama sekali namun tidak tahu harus berbuat apa.


Ibu Alenta mondar-mandir di dalam kamarnya mencari cara supaya Kharisma jangan sampai berbicara dengan Leonardo, setidaknya balas mengancam wanita itu.


Ibu Alenta menghela nafas panjang sembari duduk di pinggiran ranjang, teringat kembali alasannya dahulu meminta Kharisma untuk pergi dengan alasan meminta gadis itu untuk mewujudkan impiannya.


Saat itu Leonardo datang ke kamar Ibu Alenta, tidak tahu apa yang ingin putranya itu mau bicarakan, namun tiba-tiba tiduran di pangkuan Ibu Alenta, kebiasaan Leonardo setiap kali ingin meminta sesuatu pada sang ibu.


"Ibu aku mau menikahi Kharisma, satu Minggu lagi aku akan melamarnya," ucap Leonardo penuh yakin.


Ibu Alenta terkejut, karena tidak ingin Leonardo menikah saat ini, namun mau menolak permintaan Leonardo tidak mungkin Ibu Alenta lakukan.


"Baiklah Ibu hanya mengikut saja apa pun yang kamu mau," ucap Ibu Alenta pada ahirnya.


Tentu seketika Leonardo senang bukan main, Leonardo langsung berganti posisi duduk kemudian mencium pipi Ibu Alenta.


Setelah selesai menciumi pipi Ibu Alenta, Leonardo menatap wajah ibunya. "Terimakasih Ibu sudah merestui hubungan kamu, Leon sayang Ibu." Leonardo memeluk Ibu Alenta.


Ibu Alenta tidak tega mau merusak kebahagiaan Leonardo, Ibu Alenta berpikir keras untuk mendapatkan cara menggagalkan pernikahan itu. Tanpa harus dirinya berkata menolak.


Diijinkan menikah namun tidak sekarang, itu yang diinginkan Ibu Alenta. Dan setelah pembicaraannya dengan Leonardo, keesokan harinya Ibu Alenta menemui Kharisma. Meminta gadis itu untuk pergi, keputusan yang sudah mantap diambilnya.


Tapi sekarang Ibu Alenta menyesal, setelah kepergian Kharisma yang ke dua tahun, Ibu Alenta ingin melihat Leonardo menikah, meminta Kharisma pulang itu tidak mungkin karena belajarnya di sana belum selesai, ahirnya Ibu Alenta memilih Leonardo mencari wanita lain, tapi Leonardo tidak mau, dan ahirnya dirinya berusaha menjodohkan Leonardo namun juga tetap tidak mau.


Hanya mementingkan egonya yang belum ingin melihat Leonardo menikah, sampai melakukan cara konyol yang tidak beralasan.


Bahkan sekarang ulahnya waktu itu tidak hanya menyakiti Leonardo atau pun Kharisma tapi juga dirinya yang sekarang juga merasa sedih.


"Leon, maafkan Ibu ... semua ini salah Ibu, tolong jangan benci Ibu." Ibu Alenta menangis tidak kuat rasanya membayangkan Leonardo akan marah padanya, meski hatinya sudah menguatkan bahwa Leonardo tidak akan marah karena sudah mencintai Milea.

__ADS_1


Tapi rasa takut itu masih Ibu Alenta miliki, tidak bisa dipungkiri bahwa dahulu Leonardo sangat mencintai Kharisma, bisa jadi kan Leonardo masih bisa marah saat mengetahui yang sebenarnya, pikiran buruk Ibu Alenta.


Ibu Alenta yang tidak menemukan jalan keluar hanya bisa menangis saat ini. Sampai tidak terasa Ibu Alenta tertidur.


Di tempat lain, Milea yang saat ini berada di toko rotinya sedang jualin roti untuk pembeli, Milea tidak bisa lama-lama di toko rotinya, karena harus datang ke perusahaan Leonardo, sesuai janjinya tadi pagi sebelum mereka terpisah berangkat kerja ke tempat masing-masing.


Ahirnya Nindi yang gantiin Milea, mereka berdua Nindi dan Tata tidak keberatan saat mau Milea tinggal.


Dan setelah itu Milea langsung memesan taksi online dan tidak menunggu lama taksi pesanan Milea sudah tiba.


Siang ini Milea mendatangi Armada Group. Namun diantar dengan sopir taksi, Milea tidak membawa mobil sendiri, karena nanti rencana akan pulang bersama Leonardo.


Saat Milea mau melangkah ke pintu masuk, sekuriti penjaga pintu masuk itu menunduk hormat pada Milea, Milea juga melakukan hal yang sama, hanya saja sekarang merasa aneh saat sekuriti tersebut menghormati dirinya, karena di pertemuan pertama sekuriti tersebut sempat mau mengusirnya.


Haha sepertinya ada kepala yang habis terbentur tembok, mengapa sekuriti menyebalkan itu sekarang bersikap baik padaku, batin Milea yang merasa aneh pada sekuriti.


Namun lagi-lagi Milea dibuat terkejut, saat baru saja masuk ke dalam melihat para karyawan wanita menunduk hormat padanya, mereka juga tersenyum ke arahnya.


Milea hanya membalas dendam senyuman, kemudian berjalan menuju lift.


Di dalam lift yang membawa Milea naik ke lantai tempat ruang kerja Leonardo, Milea masih saja terus bertanya-tanya tentang perubahan mereka.


Apa kepala mereka terbentur dinding secara masal, kenapa mereka berubah bersamaan, batin Milea yang belum menyadari bahwa saat ini mereka berubah baik karena sudah mengetahui Milea istri Leonardo.


Sampai tidak terasa pintu lift terbuka, Milea keluar dari sana.


Setelah dipersilahkan masuk, Milea masuk ke ruang kerja Leonardo, di dalam sana bertemu sekertaris Alan, namun pria itu berjalan ke arahnya, menunduk hormat saat melihat Milea, kemudian keluar dari ruang tersebut.


Sekarang tinggalan Milea dan Leonardo saja, Milea menghampiri Leonardo yang duduk di kursi sofa, Milea duduk di sebelahnya, tanpa aba-aba Leonardo kemudian menjatuhkan kepalanya di paha Milea.

__ADS_1


"Usap kepala aku."


Mendengar perintahnya, Milea langsung melakukannya.


Milea kasihan melihat Leonardo yang terlihat lelah sekali, pasti berat bekerja menjadi pemimpin utama perusahaan.


Semakin terasa lembut gerakan tangan Milea yang mengusap-usap kepala Leonardo, pria itu tersenyum bahagia dalam hati.


"Apa pekerjaannya masih banyak?" tanya Milea untuk membuka pembicaraan.


"Tidak banyak lagi, aku lagi malas mengerjakannya," ucap Leonardo, yang milih bersantai dan bermanja dengan Milea dari pada harus menyelesaikan pekerjaannya, bila tidak ia kerjakan nanti akan meminta sekertaris Alan untuk mengerjakannya pikirnya.


"Baiklah jika begitu, emm di atas meja itu surat apaan Tuanku?" tanya Milea lagi saat melihat surat di atas meja.


"Bacalah jika kau mau."


Mendapat ijin dari pemiliknya, tangan Milea yang satunya meraih surat itu, kemudian membacanya.


Surat tersebut sebuah undangan pesta yang di dalamnya ada pameran musik biola, saat membacanya mata Milea langsung terbelalak lebar, Milea ingin ikut ke acara pesta tersebut.


"Tuanku, emm apa aku boleh ikut?"


Leonardo yang tadi memejamkan mata langsung membukanya setelah mendengar pertanyaan Milea.


"Ikut kemana?" tanya Leonardo yang belum mengerti arah pembicaraan Milea.


"Ke pesta." Milea menunjukan surat di tangannya yang barusan dibaca.


Leonardo menghela nafas panjang. "Memang ada apa sampai kamu ingin ikut, aku saja malas datang."

__ADS_1


"Tuanku, harus datang di pesta ini ada pameran musik biola, aku ingin melihat."


"Ya ya, aku akan datang," putus Leonardo ahirnya tanpa pikir panjang, hal apa pun yang diinginkan Milea akan Leonardo kabulkan, meski tadinya ia malas untuk datang ke sana, malah berpikiran untuk tidak datang saja. Namun berubah seketika saat Milea memintanya.


__ADS_2