
Tepat pukul lima subuh tadi, Milea bersama Leonardo dan juga Sekertaris Alan pulang ke rumah.
Pukul enam pagi baru tiba di rumah utama, Milea lanjut menyiapkan air hangat untuk Leonardo mandi, karena pagi ini pria itu harus berangkat kerja.
Milea juga mempersiapkan pakaian kerja Leonardo, saat pria itu kini sedang mandi.
Setelah semua sudah Milea kerjakan, dirinya kembali turun ke bawah, menuju kamarnya, karena Milea harus mandi juga.
Sampai di dalam kamar, Milea langsung membersihkan badannya, lima belas menit Milea sudah selesai, segera berpakaian dan mengeringkan rambutnya, karena harus segera tiba di meja makan sebelum Leonardo datang.
Belum begitu kering rambut Milea, sudah wanita itu biarkan, kini berjalan cepat menuju ruang makan.
Milea mengucap syukur saat sampai di sana, Leonardo belum tiba, Milea langsung menata sarapan Leonardo, yang tadi pria itu mengatakan ingin Sarpan menggunakan sandwich.
Sandwich buatan pak Ahmad, selaku koki yang sudah Leonardo percayai, selain tangan Pak Ahmad, Leonardo tidak mau memakannya.
Ibu Alenta datang dan langsung duduk di kursi yang biasa dirinya tempati.
"Lea?"
Milea menoleh saat namanya dipanggil oleh Ibu Alenta, meletakkan pekerjaan lalu menatap wajah Ibu Alenta.
"I-iya Nyonya," ucap Milea gugup, seraya menunduk.
Ibu Alenta menghela nafas. "Nanti temui saya setelah Leonardo berangkat kerja."
"Ba-baik Nyonya," jawab Milea lagi, tiba-tiba hatinya jadi was-was memikirkan apa yang akan Ibu Alenta bicarakan padanya, entah mengapa berurusan dengan orang-orang di rumah ini membuat nyali Milea menciut.
Apa karena dirinya sudah di jual oleh ayahnya? Entahlah Milea bingung dan milih melanjutkan lagi pekerjaannya.
Tidak lama kemudian Leonardo datang, sudah rapi dan wangi, tentu terlihat sangat tampan bagi yang mengagumi.
__ADS_1
Tapi tidak bagi Milea, wanita itu berasa ingin memukul kepala Leonardo, giginya sudah geget-geget gemas, teringat kelakuan pria itu yang selalu mengerjainya.
Huh! Huh! Gumam pelan Milea seraya ingin mengangkat tangannya, tapi tidak mungkin ia lakukan karena bisa langsung didepak dari rumah ini.
Bersyukur sih bila ahirnya didepak dari rumah ini, itu artinya Milea bebas, tapi lagi-lagi keadaan orang tuanya mengingatkan Milea, kembali pasrah dan menerima.
Tidak lama kemudian Leonardo sudah selesai sarapannya, Milea membawakan tas kerja Leonardo, berjalan di belakang pria itu.
Di luar sudah ada Sekertaris Alan, setelah Leonardo masuk ke dalam mobil, Milea meletakkan tas kerja Leonardo di dalam mobil, Sekertaris Alan kemudian melajukan mobilnya meninggalkan rumah utama, dan menuju perusahaan.
Seperti perintah Ibu Alenta, setelah Leonardo pergi berangkat kerja, Milea langsung menemui wanita itu, yang saat ini duduk di ruang keluarga.
"Ikut aku," ucap Ibu Alenta saat Milea sudah berdiri di dekatnya, Milea mengikuti langkah wanita itu, entah mau dibawa kemana.
Ibu Alenta ingin bicara serius, dan tempat yang aman adalah di dalam kamarnya, karena tidak ingin ada pelayan yang mendengarnya.
Saat pintu kamar Ibu Alenta terbuka, seketika Milea bisa melihat keindahan kamar pemilik Nyonya di rumah ini.
Wahh bagus sekali, gumam Milea menatap kagum.
"I-iya Nyonya," jawab Milea menunduk.
Ibu Alenta membuang nafas berat. "Kamu adalah orang terdekat Leonardo saat ini, karena setahu saya kamu adalah pembantu pribadi putraku, dan saya mau kamu membujuk Leonardo untuk mau menikah."
"Me-menikah," ulang Milea dengan terbata-bata, seraya mengangkat kepalanya menatap Ibu Alenta yang saat ini menatap ke arah luar jendela.
"Iya, kamu benar? jika kmu berhasil membujuknya aku akan memberimu imbalan yang besar, tapi-," ucapan Ibu Alenta terhenti seraya menoleh. "Bila kamu tidak mau membantu saya, maka akan saya buat keluarga kamu susah!"
Duar!
Milea langsung terlonjak kaget mendengar kalimat yang terakhir Ibu Alenta ucapkan, bagaimana bisa semua masalahnya harus disangkut-pautkan dengan keluarganya.
__ADS_1
Milea kesal ingin menolak tapi tidak punya keberanian, dan pria yang harus Milea hadapin adalah Leonardo, laki-laki yang selalu bertindak semaunya, milia jadi pusing bingung bagaimana dirinya harus membujuk Leonardo.
Tatapan pria itu saja sangat mengerikan, tidak punya keberanian bila Milea tiba-tiba datang dengan sok menggurui dan menasehati pria itu.
Memang dirinya dekat dengan Leonardo, karena memang pekerjaannya selalu di dekat laki-laki itu, tapi coba lihatlah ada tembok tinggi pembatas antara Leonardo dan Milea.
Milea hanya pembantu yang selama ini bekerja sesuai perintahnya, tanpa ada komunikasi yang baik, bahkan seingat Milea dirinya belum pernah bicara ngobrol bersama Leonardo, selain obrolan kata perintah.
Dan Milea berharap jangan sampai terjadi, karena membayangkan saja merinding bila harus terjebak berdua saja lalu mengobrol dengan Leonardo.
Hih aku tidak mau digoda sama dia, dia kan pria yang selalu berganti wanita setia malam, batin Milea seraya bergidik ngeri.
"Milea kenapa kmu diam!" bentak Ibu Alenta karena Milea tidak menjawab, dan malah terlihat melamun.
"Ah! ma-maaf Nyonya, ba-baik sa-saya a-akan ban-bantu Nyonya."
Ibu Alenta tersenyum puas, berharap dengan bantuan Milea rencananya untuk ingin Leonardo segera menikah akan terwujud.
Semua yang Ibu Alenta lakukan demi penerus Armada Group, dan Ibu Alenta sudah memiliki calon wanita yang akan ia jodohkan dengan Leonardo, wanita berkelas, wanita cantik, wanita berkarir, yang pasti akan cocok bila dipamerkan pada teman sosialitanya, Ibu Alenta tersenyum.
Milea sudah di ijinkan keluar dari dalam kamarnya, Milea memegangi dadanya yang saat ini sudah bisa bernafas lega.
Meski masih pusing bagaimana caranya menjalankan rencananya, saat ini Milea milih untuk turun ke bawah dulu, mau sarapan dulu seraya memikirkan rencana, saat ini lapar otaknya tidak berfungsi untuk berpikir.
Pelayan yang lain sudah pada selesai sarapan pagi, giliran Milea yang belum, beruntung sarapan pagi ini menu sayurnya sup ayam dan ayam goreng, adalah makanan kesukaan Milea.
Milea langsung makan dengan lahap, melupakan masalahnya, fokus dengan makannya, tidak ingin kehilangan selera makan, hanya karena memikirkan masalah yang rumit.
Selesai sarapan Milea meminum dulu, kemudian masuk ke dalam kamarnya, Milea mulai berpikir hal apa yang harus ia lakukan.
Pertama harus membuat Leonardo senang dan jangan sampai marah dulu terhadapnya, baru langkah selanjutnya Milea punya keberanian untuk berbicara dengan laki-laki itu pikir Milea.
__ADS_1
Dan berarti pagi ini Milea tidak akan ke toko rotinya, ia akan di rumah saja menunggu Leonardo sampai pulang, supaya bisa menyambut dengan tepat waktu kedatangan pria itu.
Milea tersenyum di depan cermin, merasa rencananya sudah bagus, dan menepuk dada dengan bangga sembari berkata Milea.