
Keesokan harinya.
Kabar Leonardo sakit ternyata terdengar juga sampai telinga Anggun, wanita cantik itu pagi ini berencana untuk datang ke rumah Leonardo.
"Aku harus tampil cantik, justru di saat Leonardo sakit seperti ini, aku harus menunjukkan perhatianku," ucapnya yang saat ini masih berdiri di depan cermin untuk melihat tampilannya.
Anggun tersenyum kecil, setelah selesai bersiap Anggun meraih tasnya kemudian berjalan keluar dari dalam kamar.
Bibirnya terus tersenyum dengan langkah yang semangat terus berjalan menuju halaman rumah.
Sampai di sana, mobil sudah disiapkan oleh sopir, Anggun tinggal membawanya pergi.
Setelah mobil melaju, Anggun ingin membeli sesuatu dulu sebelum sampai di rumah Leonardo, karena tidak mau di bilang calon mantu yang tidak peka.
Setelah menempuh perjalanan sepuluh menit, mobil Anggun berhenti di sebuah minimarket, Anggun masuk ke dalam sana, dan membeli buah, setelah membayar tagihannya, Anggun kembali keluar.
Disebelah minimarket ada toko kue, Anggun sekalian membeli kue, cukup tahu bila Ibu Alenta menyukai kue.
Anggun tersenyum setelah semua ia dapat, kemudian kembali melajukan mobilnya.
Di rumah utama.
Kesehatan Leonardo sudah membaik pagi ini, kepalanya sudah tidak pusing seperti kemarin, wajahnya sudah tampak kelihatan rona merah tidak pucat seperti kemarin.
Pria itu saat ini sedang berjemur di halaman belakang, ditemani oleh Milea.
Kebersamaan mereka di lihat oleh Pak Ahmad, pria yang sudah tidak lagi muda itu, sampai meneteskan air mata, melihat Tuan Mudanya tersenyum bahagia seperti itu bersama istrinya.
Senyum yang sudah lama sekali tidak Pak Ahmad lihat, ternyata pria tua itu banyak tahu tentang Leonardo.
Menyaksikan sendiri tumbuh besarnya Leonardo dari kecil usia dua tahun sampai sedewasa itu.
Hanya mendapatkan kasih sayang dari Ibu, karena ayahnya meninggal sejak usianya dua tahun.
Masih bisa tersenyum sampai ahirnya kejadian lima tahun lalu yang dikhianati kekasihnya mengambil semua senyum Leonardo, menjadikannya pribadi yang dingin tidak mudah disentuh.
"Semoga Tuan Muda selalu bahagia," doa Pak Ahmad sebelum ahirnya pergi kembali mengawasi para pelayan yang bekerja.
Saat Pak Ahmad menuju halaman rumah, melihat ada mobil yang baru datang, Pak Ahmad berdiri memperhatikan sampai seorang wanita cantik keluar dari dalam mobil.
"Pagi Pak?" sapa Anggun pada Pak Ahmad.
"Pagi juga," jawab Pak Ahmad seraya tangannya di belakang punggung.
Dari dalam rumah Ibu Alenta datang. "Anggun!" teriak Ibu Alenta, Anggun tidak jadi bertanya pada Pak Ahmad, kemudian berjalan mendekati Ibu Alenta.
__ADS_1
Anggun dan Ibu Alenta saling berpelukan, Ibu Alenta mengajak Anggun masuk ke dalam rumah.
Anggun membawa buah dan kue, Ibu Alenta yang melihat itu menepuk pelan pundak Anggun.
"Lain kali tidak usah repot-repot," ucap Ibu Alenta yang kemudian disusul tawa oleh Anggun.
Kini mereka berdua sudah duduk di ruang tamu.
"Aku dengar Leon sakit Tante?" Anggun menampakkan wajah khawatir.
"Iya, kemarin tapi sekarang sudah agak baikan," terang Ibu Alenta yang langsung mendapat anggukan kepala Anggun.
"Aku mau bertemu Leon Tante, apa boleh?" Ibu Alenta menyela cepat," Boleh dong, tunggu di sini Tante akan memanggil Leon dulu."
Anggun menyetujui, Ibu Alenta segera berjalan menuju halaman belakang, sampai di sana melihat Milea dan Leonardo sedang asyik menyiram bunga, malah pelayan yang ditugaskan menyiram bunga jadi penonton.
Ibu Alenta menghela nafas panjang seraya mendekati mereka berdua.
"Leon, kamu kan baru sembuh sakit, ayo letakkan alat itu."
Mendengar suara Ibu Alenta, Leonardo dan Milea menoleh ke belakang bersamaan.
Dih mereka kompak sekali, batin Ibu Alenta mendengus kesal.
Tapi mereka berdua hanya menoleh saja, tidak memberi interaksi apa pun pada Ibu Alenta, dan malah kembali menyiram bunga-bunga.
"Leon, ada Anggun yang ingin bertemu kamu," jelas Ibu Alenta ahirnya, karena tidak mau Anggun sampai lama menunggu.
Milea langsung terkejut mendengar nama Anggun disebut oleh Ibu Alenta, Leonardo memperhatikan tangan Milea yang langsung melepas selang air yang tadi dipegang.
Apa Mele cemburu? hemm sepertinya aku punya cara untuk mengetahuinya, batin Leonardo disertai seringai tipis di bibir.
Leonardo melepas selang air yang ia pegang, kemudian berjalan mendekati Ibu Alenta.
"Katakan padanya, Bu. sepuluh menit datang ke kamar aku," ucap Leonardo sembari berjalan menuju rumah.
Ibu Alenta tersenyum mengejek ke arah Milea yang saat ini sendirian ditinggal Leonardo.
Milea hanya bisa melihat nanar ke arah mereka berdua yang mulai melangkah jauh.
Hah bosan juga nyiram bunga bila tidak bersama Tuan Leonardo, batinnya sedih seraya menatap bunga-bunga yang sudah tersiram.
Eh, tunggu-tunggu mengapa aku merasa sedih dia pergi, itu kan tandanya bagus dia tidak akan menyusahkan aku lagi, batin Milea lagi yang sebenarnya cemburu tapi berusaha menyangkal.
Milea mau kembali menyiram bunga-bunga, tiba-tiba kepikiran Leonardo lagi.
__ADS_1
Tadi Tuanku bilang si Anggun wanita ganjen malam itu di minta masuk kamar, Milea menutup mulutnya setelah selesai bicara dalam hati, tiba-tiba pikiran buruk melintas.
Aku harus mengintip mereka, batinnya lagi yang kemudian langsung berjalan cepat masuk ke rumah.
Pelayan yang bertugas menyiram bunga-bunga, membereskan selang-selang air yang barusan digunakan.
Seperti perintah Leonardo, setelah sepuluh menit Anggun memasuki kamar Leonardo, Ibu Alenta yang mengantar Anggun karena gadis itu belum tahu kamar Leonardo.
"Masuklah, Leon sudah menunggumu di dalam." Ibu Alenta tersenyum seraya mengusap lengan Anggun.
"Anggun gerogi Tante," ucap Anggun jujur, entah mengapa mau masuk ke kamar Leonardo perasaannya jadi campur aduk.
Ayolah Anggun jangan gerogi, nanti juga kalo kamu sudah menikah dengan Leon, kamar ini juga akan menjadi kamarmu, batin Anggun menyemangati.
Ibu Alenta menepuk pelan bahu Anggun seolah meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.
Anggun mengangguk yang kemudian memutar handel pintu seketika Anggun bisa melihat pria yang sedang duduk di dalam sana.
Leon kau tampan sekali, batin Anggun mengagumi sebelum ahirnya kakinya melangkah masuk.
Tanpa mereka berdua sadari, Milea menguping pembicaraan mereka berdua, Milea mencari ide supaya bisa masuk ke dalam sana.
Saat ini Milea sedang berada di dapur, pura-pura membawakan air untuk Leonardo supaya bisa masuk ke dalam kamar.
Dengan penuh semangat Milea membawa nampan yang ada gelas berisi air putih, namun saat baru sampai pintu ruang keluarga, Milea dihadang oleh Ibu Alenta.
"Mau kemana kamu." Ibu Alenta bicara dingin.
Milea menunjuk gelas berisi air dengan dagunya.
Ibu Alenta menghela nafas panjang. "Pergilah, ingat harus langsung keluar, jangan ganggu mereka di dalam kamar." Ibu Alenta mengibaskan tangannya.
Milea mengangguk patuh kemudian melanjutkan perjalanannya menuju kamar.
Lea kamu kenap? apa kamu cemburu sampai melakukan semua ini? Tidak! aku tidak cemburu aku hanya ingin tahu mereka di dalam kamar ngapain aja, Milea perang batin, sembari terus berjalan, hatinya bersahut-sahutan.
Kamu cemburu Milea.
Tidak!
Cemburu?
Tidak!
Cemburu?
__ADS_1
Milea menggelengkan kepala sembari matanya merem-merem.