
Leonardo baru saja selesai mandi, saat ini sedang berdiri di ruang ganti, menghela nafas kasar saat lagi-lagi Milea belum datang, hawanya kesal saat Milea yang ditunggu tidak segera datang ke kamar malah semakin lama di bawah sana.
Itu orang makan nasi atau makan batu sih, lama banget, ngedumel seraya memakai baju kemeja malam.
Mendesah kasar lagi sembari berjalan keluar dari ruang ganti, melempar asal handuk kimono, ahirnya jatuh ke lantai, melihat tapi tidak peduli.
Leonardo menyimpan hp nya di atas meja, kemudian mau menyibak selimut, bersamaan itu di luar sana angin begitu kencang, salah satu jendela di kamar ada yang belum tertutup rapat, gorden kamar sampai bergerak-gerak.
Leonardo langsung merasakan hembusan angin kencang dari luar menerpa kulitnya, mau berjalan mendekati gorden yang sedikit tersibak, namun tiba-tiba ada bintang kumbang yang masuk.
"Ha, tolong ... tolong!"
Leonardo berteriak minta tolong sembari berlari di sekitar kamar, untuk menghindari kumbang, namun kumbang terus mengejarnya, Leonardo naik ke atas ranjang seraya tangannya menangkis kumbang itu, namun kegelian saat berhasil menyentuh sedikit.
Leonardo berputar-putar di atas ranjangnya yang luas itu, sampai tidak berbentuk karena berantakan, bantalnya saja sudah pada jatuhan di lantai.
Merasa belum aman masih dikejar kumbang, Leonardo masuk ke dalam selimut sembunyi di sana, tapi suara kumbang masih terbang di atas tubuhnya.
Milea yang sudah selesai makan menuju ke kamar, saat membuka pintu dan menutup pintu Milea masih biasa saja karena belum melihat yang terjadi di dalam.
Setelah balik badan, seketika mata Milea terbelalak lebar sampai mulutnya melongo, kamar berantakan, semua bantal di atas lantai, dan Leonardo membungkus tubuhnya dengan selimut.
"A-apa yang terjadi!" ucap Milea rumayan keras karena terkejut, Leonardo yang mendengar suara Milea langsung berteriak di dalam selimut.
"Mele! usir kumbang itu, usir!"
Milea langsung fokus pada kumbang yang masih terbang di atas tubuh Leonardo, namun Milea merasa itu terlihat lucu dan malah tertawa.
Hahahaha!
"Mele kenapa kau tertawa! buruan usir kumbang ini!" teriak Leonardo lagi, yang langsung membuat tawa Milea berhenti dan kemudian mengambil majalah untuk menangkap kumbang.
__ADS_1
"Hei kumbang nakal, sini kamu sini!" teriak Milea seraya menggerakkan majalah untuk menangkap kumbang, namun belum berhasil, Milea naik ke atas ranjang berjalan ke sana ke sini mengejar kumbang untuk ditangkap.
Leonardo merasakan kasurnya bergerak-gerak heboh sudah seperti ada gempa, tapi tetap membiarkan Milea bertingkah semaunya, rasa takut Leonardo terhadap kumbang lebih tinggi.
"Hei kumbang sialan kenapa kau tidak mau pergi, pergi sana jangan ganggu Tuan ku!" teriak Milea lagi seraya mengeluarkan jurus gesit dan sekali menggerakkan majalahnya ke arah kumbang, langsung memukul kumbang sampai jatuh ke lantai.
"Hahah, mati kau!"
Milea turun dari ranjang mau melihat kumbang yang tergeletak di lantai, Leonardo yang mendengar suara Milea berkata mati, langsung menyibak selimut yang menutupi kepalanya ingin melihat juga.
"Haha, mati dia," ucap Milea seraya menggerak-gerakan kumbang sudah tidak bergerak, Leonardo yang melihat itu langsung bernafas lega mengusap dada dan menjatuhkan lagi tubuhnya tiduran di ranjang.
Leonardo menarik nafas berkali-kali dan membuangnya dengan kasar. "Mele tunjukan kumbang itu pada pelayan yang membersihkan kamar aku!"
Eh dia mau apa, kan cukup dibuang saja kenapa harus di pamerin ke pelayan, batin Milea seraya melihat ke atas ranjang tempat Leonardo berada.
Leonardo tiba-tiba bangkit dari atas ranjang, wajahnya tampak marah, lalu berjalan keluar kamar, Milea masih tampak bingung dengan perubahan sikap Leonardo, padahal kumbang sudah Milea tangkap, batin Milea seraya melihat kumbang yang saat ini berada ditangannya.
Saat Milea masih berjalan di anak tangga, Leonardo sudah berada di lantai satu berteriak-teriak memanggil Pak Ahmad.
"Pak Ahmad ... pak Ahmad!"
Tidak lama kemudian yang dipanggil datang dengan jalan tergesa-gesa dan langsung menundukkan kepala setelah berada di depan Leonardo.
Pak Ahmad melirik sekilas wajah Leonardo yang tampak marah dan juga kesal, terdengar langkah kaki yang baru turun dari tangga, diliriknya lagi adalah Milea, sekarang gadis itu berdiri di dekat Leonardo.
"Panggil pelayan yang membersihkan kamar saya!"
"Ba-baik Tuan."
Pak Ahmad langsung berjalan cepat menuju kamar belakang tempat para pelayan berada, tidak lama kemudian Pak Ahmad sudah kembali lagi bersama tiga pelayan wanita yang selama ini dipercaya untuk membersihkan kamar Leonardo.
__ADS_1
Saat Milea menjadi pembantu Leonardo, tugasnya lebih ke melayani Leonardo, melakukan hal lain, bukan ke bersih-bersih. Bagian bersih-bersih kamar sudah ada sendiri.
Tiga pelayan wanita itu saat ini menunduk dalam, tubuhnya bergetar hebat sudah merasa takut padahal Leonardo masih diam.
Leonardo menghela nafas berat berkali-kali memandangi satu per satu pelayan yang saat ini menunduk dalam, mondar-mandir di depan mereka dengan mata menusuk tajam.
"Pak Ahmad! bagaimana bisa di dalam kamar saya ada kumbang!" bicara tegas tanpa mengalihkan tatapan tajam ke arah tiga pelayan.
Pak Ahmad yang mendengar ucapan Leonardo langsung tersentak kaget, menatap tidak percaya kemudian melirik tajam ke arah tiga pelayan, kalian menyusahkan aku, bagaimana pekerjaan kalian itu, begitulah arti tatapan tajam Pak Ahmad.
"Mengapa kalian bertiga diam! jawab!" suara Leonardo menggelegar seisi ruangan, tiga pelayan sampai jingkat, Milea juga sampai memegang dada sangking terkejut mendengar suara keras Leonardo.
Tapi tiga pelayan di depan hanya diam, tidak tahu apa-apa, dan tidak tahu bila ada kumbang masuk ke dalam kamar, karena sudah yakin memastikan kamar utama itu bersih, benar-benar tidak tahu bila akan ada kejadian seperti ini.
"Jawab!"
"Ampun Tuan, ampun ... kami akan bersihkan lagi kamar Tuan, kami akan pastikan lagi kamar Tuan bersih, ampuni kami mungkin tadi pekerjaan kami belum benar, ampuni kami Tuan," ucap salah satu pelayan dengan menjatuhkan tubuhnya ke lantai memegangi kaki Leonardo.
Leonardo berdecih membuang muka ke arah lain, kemudian menarik kakinya dan mengibaskan tangannya.
Pak Ahmad yang mengerti maksud Leonardo, langsung mengajak tiga pelayan wanita itu untuk masuk ke dalam kamar Leonardo.
Sampainya di sana seketika kamar yang berantakan lah yang menjadi suguhan pertama yang mereka lihat.
Tiga pelayan langsung membersihkan dan merapihkan lagi, Pak Ahmad mengecek jendela, ternyata ada Jendela yang belum tertutup rapat.
"Lain kali kalian semua harus pastikan semua jendela tertutup rapat dan di kancing," jelas Pak Ahmad pada tiga pelayan, seraya mengancingkan jendela.
Di lantai satu, Milea baru datang dari dapur, barusan mencuci tangannya karena habis memegang kumbang, saat Milea datang Leonardo menepuk kursi sofa di sebelahnya, dengan perasaan takut Milea duduk di sana, tanpa aba-aba Leonardo menjatuhkan kepalanya di paha Milea untuk dijadikan bantal.
Milea terkejut reflek menarik nafas dalam seraya memandangi wajah tampan Leonardo, yang saat ini tiduran di pahanya, alisnya yang tebal, hidungnya yang mancung, rahang tegas serta bibir merah alami.
__ADS_1
Plak! Plak! Milea menampar pikirannya sendiri yang mengagumi keindahan pahatan wajah yang begitu sempurna di matanya.