
Leonardo menjentikkan jarinya, Milea langsung mendekat berdiri tepat di depan pria itu yang saat ini masih duduk.
"Telat satu menit, dari mana saja."
Pertanyaannya terdengar dingin, Milea langsung memutar otak untuk mencari alasan, tidak mau pria di depannya itu marah.
Milea teringat barang belanjaannya dan langsung menunjukan pada Leonardo bahwa dirinya mampir belanja dulu.
"Apa itu."
Pertanyaan Leonardo masih terdengar dingin, Milea harus sabar, kemudian membuka kantong tersebut dan menunjukan apa saja yang barusan dirinya beli.
"Hei itu makanan tidak sehat." Leonardo mengambil pop mie rasa sambal pedas di tangan Milea. "Ini bisa membuat perut kamu sakit," ucap Leonardo menatap Milea kemudian beralih menatap pop mie lagi yang berada di tangannya.
Dia kenapa sih kan itu makanan kesukaan aku, tidak apa-apa lah makan pop mie pedas asal tidak tiap hari, aku juga tahu bila tidak bagus dikonsumsi.
"Pokoknya kamu tidak aku ijinkan makan yang beginian," ucap Leonardo tegas seraya mengumpatkan Popo mie tersebut dibelakang punggungnya supaya tidak Milea ambil.
Hah diumpetin malahan, batin Milea lesu.
"Yang itu tuh, semua boleh kamu makan," jelas Leonardo seraya menunjuk snake di lantai melalui dagunya.
Dengan malas Milea hanya mengangguk saja, tangannya mulai memasukkan lagi snake yang barusan ia keluarkan dari kantong.
Milea kemudian membawa kantong berisi cemilan yang ia beli naik ke lantai tiga menuju kamarnya berada.
Bibir Milea terus menggerutu karena tidak boleh makan pop mie pedas, sementara Leonardo langsung berjalan menuju sampah.
"Makanan bahaya tidak boleh dimakan," ucap Leonardo seraya membuang pop mie ke tong sampah, setelah membuang pop mie Leonardo langsung cuci tangan, ini adalah kebiasaannya menjaga kebersihan.
Milea yang baru masuk kamar, melihat kamarnya berantakan, handuk mandi ada di lantai dekat ranjang, baju kotor jatuh kelantai tidak masuk ke ranjang kotor.
Milea membuang nafas berat. "Ini pasti kerjaan Tuan Muda yang bawel itu tuh."
__ADS_1
Setelah meletakkan barang belanjaannya di atas meja, Milea memunguti handuk di lantai ia bawa ke tempat jemuran, kemudian Milea memasukkan baju kotor yang jatuh kelantai ke dalam ranjang baju kotor.
Kemudian Milea membersihkan badan, seharian kerja rasanya juga lelah, ingin mengguyur tubuh menggunakan air dingin supaya tubuhnya yang kaku menjadi rileks.
Di rumah lain.
Pria tampan, saat ini sedang berdiri di balkon kamar, menikmati sejuknya hembusan angin malam, memejamkan mata seraya menghirup dalam-dalam.
Pria itu terus mengingat wanita yang tadi sore tanpa sengaja bertemu di minimarket.
Teringat senyumnya, dan paras manisnya, membuatnya senyum-senyum sendiri.
"Kak Hansen," suara sang adik menyadarkan pria itu dari lamunannya.
Hansen menoleh ke belakang, Bella sudah berdiri di dekatnya.
"Kak, wajah Kak Hansen terlihat beda," ucap Bella saat menangkap wajah rona di pipi Hansen.
"Kakak sedang mikirin wanita ya," tebak Bella disertai tawa. Hansen menggelengkan kepala cepat. "Tidak, apaan sih kamu." Hansen beralih menatap lurus ke depan masih disertai senyum-senyum yang tidak ingin ditangkap Bella.
Hansen tertawa. "Enggak Dek, enggak." Hansen terus menyangkal ucapan Bella, belum berani menjawab iya, karena Hansen masih ingin memastikan perasaannya ini tentang apa.
Melihat sang Kakak tetap tidak mau ngaku, Bella terus melakukan aksinya, menggelitik Hansen membuat Hansen semakin tertawa karena kegelian, tapi tetap saja Hansen belum mau menjawab, sampai ahirnya Bella menyerah dan pergi dari kamar Hansen.
"Aku yakin Kak Hansen jatuh cinta, tapi siapa wanita yang sudah berhasil membuat Kak Hansen jatuh cinta? hah aku penasaran,'" ucap Bella yang saat ini berdiri di depan pintu kamar Hansen, setelah baru saja menutup pintu itu.
Bella membawa langkah kakinya masuk ke dalam kamarnya, menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, malam ini Bella tidur cepat karena besok harus berangkat sekolah.
Sementara Hansen masih setia berdiri di balkon, sekarang matanya menatap bintang-bintang di langit.
Setelah aku yakin jika perasaan yang aku miliki ini adalah cinta, aku akan segera melamarmu, tidak akan lagi aku tunda, karena aku tidak mau kehilangan wanita sebaik kamu, batin Hansen tersenyum.
Milea, batinnya lagi semakin membuat Hansen tergelak tawa, nama Milea terdengar indah di telinganya, bahkan hanya menyebut namanya saja jantungnya sudah merasa berdebar-debar.
__ADS_1
Hansen merasakan hal beda yang tidak pernah Hansen rasakan sebelumnya, karena selama ini Hansen hanya fokus dalam bekerja, tidak pernah terfikir akan dekat dengan wanita, apa lagi sampai jatuh cinta.
Dunia pria tampan itu hanya dipenuhi oleh pekerjaan, dan setelah kenal Milea sejak awal bertemu, seolah ada sebuah magnet yang terus ingin berlanjut kenal dengan Milea.
Yang saat itu melihat Milea jualan roti, ahirnya memesan roti untuk acara perusahaan, dan ahirnya bisa lebih akrab seperti saat ini.
Hansen masih terus saja tersenyum, yang aslinya memang pria ramah banyk senyum, bayang-bayang wajah milea terus nampak di matanya, membuat Hansen terus senyum-senyum sendiri.
"Hansen, ayolah sadar jangan halusinasi," ucapnya pada diri sendiri seraya mengusap wajahnya untuk berhenti membayangkan Milea.
Tidak ingin terus-menerus kepikiran wajah Milea, ahirnya Hansen memutuskan untuk tidur, karena waktu juga sudah malam.
Saat mencoba untuk tidur, Hansen terkena insomnia jadi sudah tidur, masih terus terbayang senyum Milea, begitu lengket di ingatannya.
Hansen sampai menutup wajahnya dengan bantal supaya bayang-bayang wajah milea hilang, namun hal itu juga tetap tidak berhasil membuat bayang-bayang wajah milea di pikirannya hilang, malah semakin jelas terlihat saat dirinya memejamkan mata.
Hansen tidak nyaman tidurnya, berguling ke kiri dan ke kanan, entah sampai pukul jam berapa, sampai ahirnya Hansen tertidur.
Di rumah utama.
Milea ternyata belum tidur, saat ini sedang nonton film Drakor, hanya sendirian karena Leonardo sudah tidur.
Di depan Milea duduk di atas karpet, ada tisu juga ada bungkus isi cemilan, sembari kunyah-kunyah cemilan, mata Milea fokus nonton film Drakor, Milea ikutan menangis saat adegan sedih, membayangkan seolah dirinya yang lagi di dalam film.
Mengusap matanya dengan tisu sampai sudah banyak tisu yang berceceran di depannya.
Yang paling sedih, saat peran utama di tinggal pergi oleh suaminya dengan kekasih lama, karena suaminya amnesia.
Milea nonton sampai ikut nangis sesenggukan, tanpa Milea sadari, Leonardo yang sudah tidur sampai terbangun mendengar suara tangisan.
Leonardo terkejut saat mendapati Milea beneran menangis bukan mimpinya.
Mele, siapa yang sudah membuat Mele menangis, batin Leonardo, tiba-tiba terpikir ibunya yang bikin ulah. Sudah siap mau turun ranjang namun diurungkan setelah mendengar suara Milea.
__ADS_1
"Hei, kau bodoh sekali meninggalkan istrimu ..." teriak Milea marah seraya berdiri dan menunjuk televisi.
Leonardo langsung membuang nafas panjang seraya menepuk jidatnya, setelah baru tahu Milea nangis karena nonton TV.