Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 33. Pelan-pelan makannya.


__ADS_3

Pagi ini Milea telat bangun, masih tidur pulas di atas sofa, biang menyebalkan baru bangun, saat ini masih duduk di atas ranjang, matanya melihat ke arah Milea yang tubuhnya masih terbungkus selimut, terlihat seperti kepompong, Leonardo tersenyum menyeringai.


Leonardo turun dari ranjang, mengambil ponsel di atas naskah, berjalan mendekati Milea, langsung tersenyum setelah berhasil mendapatkan gambar Milea yang lagi tidur.


Leonardo menuju dinding letak kemoceng bulu ayam di gantung di sana, Leonardo mencabut satu balu ayam di kemoceng tersebut, dengan tersenyum jahil berjalan mendekati Milea lagi.


Leonardo berjongkok kini jaraknya lebih dekat dengan Milea, Leonardo mulai melakukan kejahilannya, memasukkan bulu kemoceng ke hidung Milea dan mulai menggerak-gerakkan dengan pelan.


Saat Milea merasa gatal dan menggaruk hidungnya, Leonardo menjauhkan bulu kemoceng tersebut, dengan tawa yang tertahan.


Leonardo usil lagi saat Milea sudah kembali tenang, Milea tiba-tiba bersin-bersin sampai terbangun dari tidurnya.


Hacih!


Hacih!


Hahahah! Tawa Leonardo saat melihat Milea bersin-bersin, membuang bulu kemoceng ke wajah Milea.


Milea yang masih terkejut menghubungkan tawa Leonardo dengan bersin-bersinnya, seketika menemukan jawabannya saat bulu kemoceng di lempar ke wajahnya.


Dasar biang usil! bisa tidak sedetik saja tidak mengganggu aku, batin kesal Milea sembari melihat bulu kemoceng di tangannya.


"Aku mau mandi!" teriak Leonardo yang saat ini sedang mengambil handuk.


Sudah usil sekarang nyuruh! mengumpat kesal dalam hati seraya berjalan menuju kamar mandi.


Setelah air hangat di bathtub penuh, Milea mau langsung keluar, tidak tahu bila Leonardo sudah berdiri di belakangnya sedari tadi, dan saat Milea mau melangkah pergi, Leonardo menarik tangan Milea sama-sama masuk ke dalam bathtub.


Byurrr!


Tubuh mereka berdua sempurna masuk ke dalam bathtub.


Hahahah! Leonardo tertawa melihat wajah Milea yang panik.

__ADS_1


"Tuan Leonardo, le-lepaskan aku." Milea memohon, sungguh saat ini dirinya merasa takut campur malu, apa lagi saat merasakan sesuatu yang aneh di bawah sana, yang entah apa, Milea juga tidak tahu.


"Tuan aku mo-mohon."


Wajah Milea yang memelas seketika membuat Leonardo melepaskan wanita itu, niat hati ingin menjahili Milea lebih lama, tidak jadi, teringat akan ada meeting bersama klien pagi ini.


"Pergilah!" ucapnya dingin seraya melepas pelukannya pada Milea. Gadis itu langsung merayap naik, dengan baju yang sudah basah kuyup, Milea berjalan cepat keluar dari dalam kamar mandi, Leonardo hanya menoleh sekilas sembari menghela nafas.


Milea tidak berani berjalan jauh, karena tetesan air dari baju basahnya akan membuat lantainya basah, kini Milea berdiri di depan pintu kamar mandi, sembari menunggu Leonardo selesai mandi.


Ada ya manusia seperti itu di muka bumi ini, suratan takdir apa sih yang sedang aku jalani ini? kenapa harus menghadapi orang aneh seperti dia, batin Milea sedih.


Bagaiman tidak sedih, sudah saat tidur diganggu sampai bersin-bersin, dan saat di dalam kamar mandi, malah dibuat basah.


Ruang AC kamar belum dimatikan, tubuh Milea menggigil, karena bajunya yang basah di ruang ber AC.


Krekk.


Leonardo keluar, hanya menoleh sekilas lanjut berjalan lagi.


Hem.


Leonardo hanya menjawab singkat, Milea langsung masuk ke dalam kamar mandi, mandi bersih selama lima menit sudah selesai, Milea tidak membawa handuk juga, bingung harus bagaimana.


Ahirnya karena tidak ada pilihan, Milea memeras baju yang basah tadi sampai tidak keluar air, Milea pakai kembali untuk menutupi tubuhnya yang polos.


Saat Milea berjalan menuju ruang ganti, Leonardo hanya melirik, kini sudah rapi menggunakan pakaian kerja lengkap, yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin.


Sebelum Milea keluar dari ruang ganti, Leonardo sudah keluar kamar lebih dulu, kini Milea tidak lagi melihat pria itu di dalam kamar.


Setelah semua siap, rambut sudah kering dan sudah di sisir, Milea turun ke bawah, sampainya di ruang makan, sudah pada menyantap sarapan pagi, tentu juga sudah ada Ibu Alenta.


Milea menyapa Ibu Alenta dengan tersenyum dan menunduk sebelum ahirnya menarik kursi dan ikut duduk di sana.

__ADS_1


Saat Leonardo sedang menyuap makanan, hidungnya mencium aroma shampo dari rambut Milea yang begitu menyengat wanginya.


"Kamu memakai shampo berapa banyak?" Melirik Milea lanjut menyuap lagi.


"Ah, apa bau sekali wanginya Tuan, besok saya kurangi," ucap Milea seraya menyengir kuda.


"Pemborosan!" celetuk Ibu Alenta menimpali dengan suara yang terdengar sangat tidak suka.


"Iya, Ibu. Besok saya kurangi," ucap Milea dengan tersenyum.


Apa sih cuma kebanyakan memakai shampo saja diributin! pelit banget sih kalian, kan orang kaya katanya, ngedumel dalam hati seraya terus menyuap dan menyuap lagi sampai bibirnya belepotan, mulutnya penuh makanan.


"Pelan-pelan makannya." Leonardo mengusap belepotan di bibir Milea menggunakan ibu jarinya, Milea mematung sampai menghentikan mengunyahnya, tidak berani melirik wajah Leonardo, juga tidak berani bergerak sampai menahan nafas.


"Lanjutkan makannya," ucap Leonardo sembari berdiri, meraih jas yang tadi ia sampirkan di sandaran kursi, kemudian memakainya sembari berjalan meninggalkan dua wanita yang masih terkejut di ruang makan.


Yang muda jantungnya berdebar-debar, yang tua berdecak kesal dengan tangan terkepal.


Bersamaan terdengar bunyi sendok dan garpu di atas piring dengan keras, Ibu Alenta bangkit dari duduknya menyusul pergi dari ruang makan.


Milea hanya menoleh sekilas ke arah Ibu Alenta pergi, seraya memegangi jantungnya yang masih berdebar-debar.


Dia pasti sengaja, aku yakin Tuan Leonardo sengaja melakukan itu supaya aku baper dan jatuh cinta padanya, itu tidak akan! Milea kamu harus ingat jangan sampai jatuh cinta, tiba waktunya kamu dibuang, bagaimana hatimu nanti, siapa yang kan menolong.


Milea tidak melanjutkan sarapannya malah asyik mengetuk-ngetuk meja.


"Hah, lebih baik ke toko saja mencari hiburan." Milea langsung berdiri, berganti pakaian di kamar, setelah itu berangkat ke toko roti.


Hari ini di toko roti banyak sekali pengunjung, Milea yang baru saja tiba, sampai tidak mengenali apa kah ini toko rotinya, yang begitu terkejut melihat para pembeli mau mengantri di depan, ada beberapa Abang ojek juga ikutan mengantri


Milea mengucap syukur dalam hati, melihat toko rotinya hari ini banjir rejeki, Nindi sampai membisikkan di telinga Milea bahwa setok roti mulai menipis.


Milea langsung membuat roti, sementara sendirian, karena dua temannya sedang melayani di depan.

__ADS_1


Milea yang sibuk dengan pekerjaan sampai tidak ingat lagi kejadian saat di rumah tadi, tujuannya ke toko roti mengalihkan masalahnya, kini benar-benar jadi kenyataan.


Antrian di depan toko roti sampai selama tiga puluh menit, saat ini tinggal beberapa stok roti yang masih ada. Milea mulai dibantu temannya untuk membuat roti.


__ADS_2