Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB. 37. Tubuh sixpack.


__ADS_3

"Kamu bila takut makan malam berdua saja sama ibu, mintalah pelayan untuk mengantar makanan ke dalam kamar," ucap Leonardo seraya mengancingkan kancing kemeja di pergelangan tangannya.


Leonardo langsung keluar dari dalam kamar, saat ini menunjuk pukul tujuh malam, sampai di lantai satu, Leonardo bertemu ibunya.


Ibu Alenta berdiri dari duduknya. "Mau kemana Leon, kenapa kamu rapi sekali?"


Menghentikan langkah menatap sang Ibu. "Ada meeting malam ini bersama klien."


Leonardo melanjutkan lagi langkahnya, Ibu Alenta tersenyum penuh arti saat mengetahui Leonardo malam ini pergi.


"Aku harus menemui Milea sekarang," ucapnya sembari berjalan menuju kamar Milea dan Leonardo berada.


Milea membuka pintu saat mendengar pintu kamarnya di ketuk, seketika terkejut saat melihat tatapan tajam Ibu Alenta ke arahnya.


Dia mau apa? dia tidak akan membunuh aku kan? waduh Tuan Leonardo sedang tidak ada lagi, ternyata pria menyebalkan itu bisa aku butuhkan bila dalam situasi seperti ini, aaaaa!


"Ikut aku!" Ibu Alenta menarik Milea, membawa Milea ke halaman belakang, Milea bingung kenapa malam-malam dibawa ke halaman belakang, sudah tempatnya gelap di bawah pohon besar semakin membuatnya seram.


Milea berdiri berdiam, Ibu Alenta seperti menarik sesuatu dan seketika.


Byuur!


Ah, pekik Milea saat tiba-tiba ada ember berisikan air dari atas pohon menjatuhi kepalanya.


Milea melihat bentuk lonjong tapi dipegang kenyal, seperti mengenali nama bentuk itu.


Ih, apa ini cendol, batin Milea seraya melihat banyak cendol yang menempel di baju sampai celananya.


Hah kenapa wanita itu tidak geli dengan cendol, harusnya kan dia geli mengira itu adalah ulat, hah sial sial! gagal lagi aku mengerjai Milea! batin Ibu Alenta mengumpat kesal.


"Mandilah kau bau sekali!" bicara ketus sembari berlalu.


Milea jadi ingin mengerjai Ibu Alenta juga, Milea segera melepas ember yang menutup kepalanya, dan saat Ibu Alenta masih berjalan, Milea segera berlari cepat menyusul Ibu Alenta, kemudian memeluk Ibu Alenta dari belakang.

__ADS_1


"Ibu aku merindukanmu Ibu ... Ibu Ibu," ucap sembarang Milea padahal hanya ingin membuat baju Ibu Alenta juga kotor.


"Lea lepaskan! lepaskan aku!" bentak Ibu Alenta namun Milea tetap terus memeluknya dan terus memanggil ibu ibu, Ibu Alenta makin dibuat kesal.


"Lea ..." teriak Ibu Alenta makin kencang, Milea melepaskan pelukannya, namun gadis itu tertawa.


Hahaha!


Tawa Milea sembari berlari, sebelum masuk ke dalam rumah, Milea menjulurkan lidahnya ke arah Ibu Alenta, masih disertai tawa kemudian masuk ke dalam.


Milea! sudah berani dia samaku! umpat kesal Ibu Alenta dalam hati, tangannya terkepal.


Ibu Alenta melihat bajunya yang kini jadi kotor, ada beberapa cendol yang menempel di bajunya, Ibu Alenta kegelian.


"Ah, cendol ... Cendol!" Ibu Alenta melompat-lompat sembari berteriak-teriak, tangannya mengibaskan cendol yang menempel di bajunya.


"Cendol ... Cendol," ucapnya terus menerus seraya berlari masuk ke dalam rumah.


Tiga pelayan yang melihat Ibu Alenta berlari terbirit-birit menatap aneh, kemudian sama mengangkat bahu tanda tidak mengerti.


Saat ini Milea sedang mengeringkan rambut di depan cermin, mau disisir atau dibiarkan rambutnya tetap jelek.


"Rambutku keriting." Milea melihat pantulan rambutnya di depan cermin. Bibirnya mengulas senyum, Milea sangat menyukai rambut keritingnya, miliki kenangan banyak, apa lagi saat masa sekolah, Milea selalu kena buli para teman-temannya karena rambutnya keriting.


Hah, Milea menjatuhkan diri di sofa, menatap langit-langit kamar, tidak lama kemudian matanya terpejam, kelelahan seharian kerja ditambah malamnya berkelahi sama mertua.


Tepat pukul dua belas malam, Leonardo baru sampai di rumah, Alan yang mengantar Leonardo pulang, diminta menginap di rumahnya malam ini.


Ada apa dengan Tuan Muda, sampai menyuruh aku menginap, tumben baik sama aku, batin Sekertaris Alan, yang kini sudah sama-sama berjalan masuk ke dalam rumah.


Malam ini tidak ada yang menyambut Leonardo pulang seperti biasanya, karena pria itu yang memintanya, Pak Ahmad juga sudah istirahat saat ini.


Leonardo sendiri yang menunjukan kamar untuk Alan tempati malam ini, lagi-lagi Alan tercengang sungguh ini bukan seperti tuannya yang biasa dirinya lihat.

__ADS_1


Aku tidak mimpi kan, aku tidak mimpi kan, batin Alan seraya mengucek matanya setelah berada di dalam kamar, untuk memastikan saat ini dirinya benar-benar menginap di rumah Leonardo.


Tuan mulai berubah apa karena Nona ya, batinnya lagi, yang kemudian tidak mau ambil pusing dan tanpa membersihkan badan, Alan langsung ambruk di ranjang mulai tidur di sana.


Berbeda dengan Leonardo, pria itu malah saat ini asyik memandangi wajah Milea yang lagi tidur, di matanya terlihat teduh, wajah ketakutan saat dirinya lihat seperti biasanya, saat ini tidak ada lagi, hanya ada wajah teduh campur lelah.


Leonardo menoleh ke arah ranjangnya, kemudian menatap Milea lagi sebelum ahirnya mengangkat tubuh Milea ala bridal style, Leonardo bawa ke atas ranjang.


Perlahan Leonardo membaringkan tubuh Milea, ini bukan yang pertama dirinya menggendong Milea, sudah yang ke tiga kalinya, tanpa Milea melihat.


Leonardo belum beranjak untuk menjauhkan diri dari Milea, masih menatap dalam wajah Milea yang sedang tidur.


Kenapa jantungku berdebar ya, batinnya.


Itu karena kamu mulai jatuh cinta, bisik hati kecil Leonardo.


"Tidak mungkin." Leonardo menjawab dengan suara pelan.


Nyatanya kamu berdebar-debar, gitu aja tidak peka, bisikkan mengejek hati kecil Leonardo lagi.


Leonardo malah jadi pusing, hati kecil Leonardo semakin tersenyum miring, Leonardo malam ini tidur di sofa, mengantikan Milea yang biasa tidur di sofa.


"Huh! tidak enak banget, kenapa dia bisa tidur di sini," ucapnya setelah beberapa saat mencoba tidur tapi tidak bisa.


Bila untuk ukuran tinggi badan Leonardo yang tingginya 180 cm, sofa yang biasa Milea pakai tentu kurang kebesaran dan kurang panjang, tapi pria itu memaksa, alhasil tidurnya tidak nyenyak semalaman.


Milea bangun saat cahaya matahari mulai masuk melalui celah jendela, mengenai matanya, yang entah sejak kapan gordennya dibuka.


"Hah! Mengapa aku ada di sini!" Milea terkejut saat mendapati kini dirinya tidur di atas ranjang, Milea reflek memegangi dadanya, tapi masih melihat baju dan celananya utuh. Milea merasa aman.


Milea menoleh ke kanan dan kiri, tidak menemukan sosok yang lagi dicarinya. kemudian samar-samar mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.


Milea segera turun dari ranjang, mendekati sofa tempat semalam dirinya tidur sebelum pindah ke ranjang.

__ADS_1


"Aku tidak mungkinkan jalan sendiri ke atas ranjang," bicara sendiri mencari jawaban, seketika menoleh saat pintu kamar mandi dibuka.


Tubuh bersih sixpack masih ada sisa air mandi kini terpampang di depan mata Milea.


__ADS_2