
Di Ruko roti tempat Milea berjualan.
"Biar aku saja yang mengantar," ucap Milea seraya sudah mau menyusun roti di dalam bok yang mau diantar ke rumah pembeli.
"Kak Lea tidak apa-apa?" tanya Nindi memastikan.
"Slow aja," jawab Milea seraya tertawa.
Ahirnya Nindi juga membantu Milea untuk menyusun roti-roti tersebut, di tempat toko roti ada sepeda motor khusus untuk delivery.
"Hati-hati Kak Lea!" teriak Nindi seraya melambaikan tangan, saat Milea sudah melajukan motornya.
"Siap!" balas Milea juga berteriak, Milea melajukan motornya memasuki jalan raya, tidak harus dua temannya yang harus delivery, Milea juga kadang melakukannya seperti saat ini, dan sekarang ini ada lima rumah yang harus Milea datangi, untuk mengantar pesanan.
Lima belas menit sampai di perumahan gang Anggrek, Milea langsung menyerahkan pesanan rotinya setelah pemilik rumah keluar, mengucap syukur saat menerima uang.
Milea melanjutkan lagi perjalannya, dua puluh menit sampai di perumahan gang anggur, Milea menyerahkan roti pesannya, dan langsung lanjut lagi berkendara.
Sepuluh menit sampai di gang Mawar, Milea menyerahkan pesanan rotinya, begitu pun seterusnya saat sampai di gang melati dan juga di perumahan gang Apel.
Setelah semua sudah Milea antar, saat ini Milea berhenti di dekat pohon, depannya Milea ada tukang cendol, Milea merasa haus, memesan cendol untuk dirinya minum.
Setelah cendol jadi, Milea langsung meminumnya.
"Hem seger ..." ucapnya seraya tersenyum, rasa hausnya seketika hilang, penjual cendol adalah laki-laki tua, melihat itu Milea merasa kasihan, setelah merasa cukup waktu istirahatnya, Milea melanjutkan lagi perjalannya menuju toko rotinya, namun sebelum itu Milea memberi pak tua tukang cendol selembar uang biru.
Milea mengendarai sepeda motornya dengan bersenandung merasa bebas dan bahagia, tanpa Milea fokus dengan jalanan, tiba-tiba...
Aaaa!
Ciiiiittttttt!
Astaghfirullah! Ya Allah! Gumam Milea seraya memegangi dadanya.
"Untung, untung masih selamat, aku bisa segera mengerem," ucap Milea masih dengan dadanya yang takut.
Dari dalam mobil yang hampir tabrakan dengan Milea, seorang pria menyembul keluar masih menggunakan kaca mata hitam, pandangan Milea terkunci melihat pria berkaca mata hitam yang saat ini menghampirinya.
"Nona tidak apa-apa?
Milea menggeleng.
"Atau ada yang terluka?"
Milea menggeleng lagi.
"Baik lah jika begitu saya pergi."
Milea mengangguk.
__ADS_1
Semua gerakan Milea bagai terhipnotis, hanya menggeleng dan mengangguk tanpa berucap.
Namun saat sudah mau membuka pintu mobil, pria itu mengurungkan niatnya, dan kembali menoleh ke arah Milea. Melihat bok di belakang Milea yang bertulisan roti enak dan lezat.
"Nona penjual roti?" tanya pria itu seraya melepas kaca mata hitamnya.
Deg!
Seketika Milea bisa melihat sepenuhnya wajah tampan pria itu, dan lagi-lagi Milea hanya mampu mengangguk.
Dan pria itu hanya tersenyum kecil, kemudian berjalan mendekati Milea lagi.
"Boleh saya minta no hp nya, lusa di perusahaan saya ada acara, jika jadi saya ingin memesan roti Nona," ucap pria itu setelah berdiri di samping Milea.
Milea kemudian memberikan kartu nama buat konsumen, yang siapa saja bisa memesannya.
Pria itu kemudian pergi, melajukan mobilnya, Milea masih melihat sampai mobil tersebut menghilang dari pandangannya.
Tidak tahu namanya siapa, Milea hanya hafal nomor polisi mobilnya Hansen R.G
Milea kemudian melajukan lagi motonya, kini lebih hati-hati tidak ingin kejadian barusan terulang lagi.
Tidak lama kemudian Milea sudah sampai di toko rotinya, saat ini sudah masuk jam makan siang.
Nindi dan Tata baru saja beli somay, ternyata membelikan juga buat Milea.
"Wahh, enak ini," ucap Milea dan langsung menyantapnya.
Nindi juga membeli es degan, menyerahkan satu gelas es degan untuk Milea.
"Cocok, siang-siang minum es degan," ucap Milea seraya meminum sedikit.
"Bener Kak, apa lagi saat ini cuaca panas banget," ucap Tata menimpali.
Setelah selesai makan siang, Milea berjalan ke lantai dua, sembari tiduran di ranjang, Milea membaca nomor hp Sekertaris Alan.
Setelah sejenak Milea berpikir ahirnya mengirim pesan ke Sekertaris Alan.
"Sekertaris Alan, kabarin bila Tuan Muda mau pulang ke rumah," bunyi pesan yang Milea kirim.
Milea menunggu balasan dari Sekertaris Alan, namun ternyata cuma di lihat dong, centang sudah berubah warna biru.
His! Dia benar-benar, Sekertaris menyebalkan, batin Milea kesal seraya bibir mengerucut tajam.
Milea berpikir sejenak, tidak ingin dikerjai seperti waktu itu, ahirnya Milea memutuskan untuk pulang lebih awal.
Saat ini sudah pukul setengah dua siang, Milea mengambil tasnya, kemudian melangkah berjalan keluar.
Di lantai satu, Milea berpamitan pada dua temannya, bila dirinya harus pulang. Milea langsung naik ojek online yang tadi udah ia pesan.
__ADS_1
Sampainya di rumah utama, Milea ikut bekerja membantu pelayan yang lain, sampai tiba sore hari, ternyata Leonardo pulang malam, Milea langsung mandi sore saat sudah tiba waktunya.
Matahari mulai tenggelam, adzan magrib berkumandang, Milea bersama teman-temannya yang muslim melaksanakan ibadah sholat Maghrib.
Selesai sholat magrib, Milea tidak melakukan apa pun lagi, pelayan yang lain juga sudah bisa bersantai.
Tepat pukul tujuh malam, Leonardo pulang, seperti biasanya Milea akan menyambut pria itu.
Membantu melepas sepatunya, dan menerima jas kotor yang Leonardo berikan, berjalan di belakang pria itu yang saat ini masuk ke dalam kamar.
Sebelum menuju kamar mandi untuk menyiapkan air hangat, Milea meletakkan jas di ranjang baju kotor.
Setelah Milea selesai mengisi air bathtub, ia ingin keluar dari kamar Leonardo, namun di panggil pria itu lagi.
"Jangan turun ke bawah, tunggu di depan pintu kamar, aku mau bicara dengan kamu!" bicara tegas seraya masuk ke dalam kamar mandi.
Apa lagi sih, batin Milea seraya menghela nafas panjang.
Lima belas menit menunggu di luar kamar, Leonardo membukakan pintu minta Milea untuk masuk.
Dengan kepala menunduk Milea berjalan masuk, berhenti di belakang pria itu yang saat ini berdiri memunggunginya.
Saat Milea menunggu hal apa yang ingin Leonardo bicarakan, tiba-tiba mendengar suara gelas yang dibanting.
Pyaarrrrr!
Ah!!
Milea reflek menjerit seraya menutup mata dan telinganya, sementara pecahan gelas kini berserakan di lantai.
Apa aku membuat kesalahan, mengapa dia marah seperti itu, batin Milea ketakutan.
Leonardo balik badan dengan mata tajam. "Mele! Kamu harus membantu saya untuk menggagalkan semua rencana ibu yang ingin menikahkan saya!"
Deg!
Milea langsung mengangkat kepalanya menatap Leonardo, namun hanya sesaat, sedetik kemudian menunduk kembali.
"Ta-tapi- Tuan," ucap Milea dengan gugup, sungguh saat ini dirinya bingung, Ibu Alenta dan Tuan Leonardo sama-sama meminta bantuannya.
Leonardo berjalan mendekati Milea, membuat Milea mundur sampai membentur dinding, Milea sangat takut melihat Leonardo yang marah seperti ini, kaki Milea sudah bergetar hebat, matanya sudah mau menangis.
Deg!
Tangan Leonardo mencengkram dagu Milea dan menekannya. "Lakukan perintahku atau keluargamu-."
"Ba-baik Tuan, ba-baik," jawab Milea dengan susah payah.
Leonardo tersenyum menyeringai seraya melepas cengkraman tangannya.
__ADS_1