
"Masuklah."
Dengan memaksa senyum lagi, Suci berjalan masuk seperti perintah Leonardo.
Suci masih berdiri di depan kursi sofa, menunggu dipersilahkan duduk.
Leonardo dengan gerakan tangannya mempersilahkan Suci untuk duduk, namun pandangan matanya tidak pernah melihat Suci sejak tadi.
Suci memulai duduknya dengan gerakan luar biasa santai.
"Alan."
Sekertaris Alan langsung mendekat dengan serta membawa surat kontrak kerja yang harus Suci tanda tangani.
Meletakkan surat tersebut di atas meja tepat di depan Suci, tangan Suci terulur untuk membuka dan membaca surat kontrak kerja tersebut.
Suci mulai fokus membaca, kalimat per kalimat ia pahami, dan setelah satu lembar isi surat tersebut sudah Suci baca, ia mulai membubuhkan tanda tangan, namun baru menempelkan pena gerakan Suci terhenti saat mendengar suara tawa.
Hahaha.
Suci menatap tajam pada orang yang barusan tertawa itu.
Siapa wanita jelek itu, sudah jelek! rambutnya juga jelek, tapi kenapa dia duduk di pangkuan Leonardo, ada hubungan apa mereka berdua?
Suci menghela nafas kasar benar-benar tidak suka dengan pemandangan di depannya itu, sementara dua manusia di depannya tetap terus melanjutkan aksinya, entah apa tujuan Leonardo, Milea saja juga tidak tahu.
Milea menoleh ke arah Suci dengan tersenyum mengejek, Suci makin geram melihat senyum Milea.
Apa karena ini Tuanku mengajakku datang ke kantor, jujur saja sebenarnya saat ini aku kegelian, lihatlah pria ini sedari tadi mengecup-ngecup leherku, tapi aku senang karena dia melakukannya di depan wanita pelakor, batin Milea yang semkin tersenyum mengejek ke arah Suci.
"Nona Suci, silahkan Anda tanda tangan," suara Sekertaris Alan memutus pandangan Suci dan juga Milea.
Suci menghela nafas berat saat mau memulai tanda tangan lagi.
"Tuanku? Anda sepertinya sedang kepanasan, lihatlah dahimu berkeringat."
Kepanasan! apa nya yang kepanasan! batin terkejut Suci sampai tidak jadi tanda tangan, mendongakkan kepalanya melihat Milea yang duduk di pangkuan Leonardo, wajah mereka begitu dekat, tangan Milea mengusap-usap dahi Leonardo, mereka berdua terlihat saling melempar senyum manis.
__ADS_1
Pandangan Suci beralih melihat bibir Leonardo yang merah alami.
Aku ingin mencium bibir itu, hah! tapi semua rencana aku berantakan karena ada wanita jelek itu! siapa sih dia! kenapa dia bisa ada di sini! aku tidak ingin rencana aku gagal tapi bagaimana caranya aku mendekati Leonardo bila wanita jelek itu tetap di sini! batin Suci makin geram, tangannya di bawah meja sudah terkepal erat.
Suci benar-benar tidak bisa fokus, bahkan surat kontrak kerja di depannya yang tangannya sudah memegang pena belum juga Suci lakukan, pikirannya jadi berantakan.
Suci menundukkan kepala sembari berpikir caranya mendekati Leonardo, Suci tidak mau usahanya sia-sia begitu saja, sudah berdandan cantik, pakaian yang menggoda, tidak terima bila pulang hanya membawa tanda tangan surat kontrak kerja.
Tapi konsentrasinya terganggu saat mendengar suara decappan bibir yang saling bertaut, Suci melihat ke depan lagi dan alangkah terkejutnya saat melihat Leonardo berciuman dengan Milea.
Posisi Milea tetap di pangkuan Leonardo, namun Leonardo iringkan wajah Milea hingga wajah Leonardo berada di atasnya, tangan Milea melingkar di leher Leonardo.
Gila, ini benar-benar gila! mengapa aku disuguhi pemandangan seperti ini sih! ini dia mau pamer atau mau bagaimana! batin Suci makin frustasi dibuatnya, benar-benar tidak mengerti apa maksudnya semua ini.
Setahu aku selera Leonardo itu tinggi, mengapa dia mau bermain dengan wanita jelek seperti dia, jelas aku lebih cantik dibandingkan dia, menatap kesal ke arah Milea.
Sekertaris Alan memalingkan wajahnya menatap tembok.
Hah! mengapa nasibku di sini mengenaskan seperti Sekertaris itu, batin Suci seraya melihat Sekertaris Alan.
Drrt. Drrt.
"Leon, Suci sudah sampai di sana kan?"
Suara Ibu Alenta di sambungan telepon dapat di dengar semua orang, karena Leonardo lost speaker.
Leonardo hanya menjawab dengan dehheman, Suci yang mendengar suara Ibu Alenta merasa mendapat dukungan, dan yakin bahwa rencananya belum gagal, batin Suci sudah bahagia.
Milea kini baru mengerti bila wanita yang datang itu ada hubungannya dengan mertuanya, dan baru tahu bila nama wanita itu adalah Suci.
Mengapa tingkahmu tidak seperti nama kamu yang Suci, batin Milea seraya tersenyum sinis ke arah Suci.
"Jika urusan kalian sudah selesai, tolong kamu antarkan Suci pulang ke rumah, kasihan dia, kan mau menjadi ambassador jadi kamu harus perlakukan dia dengan baik," jelas Ibu Alenta panjang lebar sebelum sambungan telepon dimatikan.
Suci semakin melayang tinggi mendengar ucapan Ibu Alenta yang mendukung dirinya, diantar pulang? bayang-bayang hanya berdua di dalam mobil bersama Leonardo sudah menari-nari di pelupuk matanya, Suci senyum-senyum sendiri.
Milea menaikan ujung bibirnya menatap tidak suka ke arah Suci.
__ADS_1
Lihatlah baju yang dia pakai, benar-benar tembus pandang, begitu tipis, warna merah bra nya saja sampai kelihatan, dia sengaja memamerkan tubuhnya yang indah itu, batin Milea yang merasa cemburu jika Leonardo harus melihat pakaian wanita itu.
Milea memiringkan pipinya di wajah Leonardo, membuat pria itu menciumi pipi Milea, tapi Milea tidak sadar karena masih melamun melihat ke arah Suci.
Sebelum Suci menandatangani surat kontrak kerja, Suci mau berbicara dengan Leonardo, untuk menarik mata pria itu supaya melihat ke arahnya, Suci yakin setelah Leonardo melihat ke arahnya pria itu akan langsung tertarik.
Suci mengelus rambutnya dan menata senyumnya yang manis. "Tuan Leon? ma-maaf bisa Anda jelaskan mengenai surat kontrak kerja ini, emm sa-saya sedikit belum paham," bicara dengan suaranya mendayu manja.
Huekk! Milea rasanya mau muntah mendengar ucapan Suci, langsung menatap tajam ke arah Suci.
"Alan, kamu jelaskan sama dia." Leonardo bicara acuh tanpa melihat wajah Suci, tangannya malah asyik merayap di punggung Milea, menyusup masuk ke dalam baju.
Suci langsung mengerucut tajam, Leonardo sama sekali tidak melihat ke arahnya membuat harga diri Suci seolah dijatuhkan, baru kali ini ada pria yang menolak pesona Suci, benar-benar geram yang dirasakan Suci saat ini.
"Sekertaris Alan tolong tambah suhu AC dong, panas."
Alan yang sudah memegang surat kontrak kerja di urungkan saat mendapat perintah Milea.
Sebenarnya AC di ruangan ini sudah dingin, Milea sengaja meminta di tambah suhunya, karena ingin mengerjai Suci yang memakai baju tipis, supaya Suci kedinginan.
Nyess, rasa dingin seketika merayap ke seluruh tubuh Suci bahkan sampai terasa masuk ke tulang-tulang.
Sialan wanita itu, sialan! umpat Suci yang melihat senyum Milea ke arahnya.
Sekertaris Alan yang siap mau menjelaskan, namun kertas itu Suci tarik dan tanpa menunggu lama langsung memberi tanda tangan.
"Maaf Tuan tidak perlu di jelaskan, a-aku sudah mau pergi ada u-urusan."
Sialan aku jadi kedinginan, batin Suci di balik senyumnya yang dipaksakan.
Surat kontrak kerja kembali Suci serahkan ke tangan Sekertaris Alan, kemudian Suci berdiri membungkuk ke arah Sekertaris Alan juga Leonardo, walau pun pria itu tidak melihatnya.
"Saya permisi," ucapnya sebelum ahirnya berjalan pergi dari ruangan tersebut.
Hahah, batin Milea tertawa puas.
...****************...
__ADS_1
Hai kak 💖 bolehnya minta vote nya kan sekarang hari Senin, bantu pasangan Milea dan Leonardo bisa populer, mohon kak 💖🙏 mohon klik vote 🙏🙏🙏