Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 32. Diamkan tertawamu!


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, keluarga Ayah Roni berkumpul di ruang tengah, ada Tamara, ada Ibu Fera, juga ada Arga.


Hanya kurang tidak ada Milea, tapi gadis itu memang tidak pernah dihitung dalam daftar keluarga, kasihan? memang benar.


Tidak tahu apa yang ingin Ayah Roni sampaikan, tiba-tiba semua diminta berkumpul di ruang tengah.


Arga yang wajahnya paling terlihat ditekuk, karena biasanya anak muda itu langsung masuk ke dalam kamar bila sudah selesai makan malam.


Semenjak Milea sudah tidak tinggal bersama di rumah ini, Arga jarang sekali ngobrol bersama keluarganya sendiri, bisa dibilang malah tidak pernah.


Dan saat ini Arga duduk diantara keluarganya karena terpaksa, tadi saja Arga sudah masuk ke dalam kamar, hanya saja dipaksa keluar oleh Ibu Fera.


Tidak ada pilihan lagi, Arga mengikuti, dan di sinilah sekarang semua berkumpul di ruang tengah.


Arga hanya menunduk malas menatap ayahnya atau keluarga yang lain, namun tiba-tiba kalimat yang ayahnya ucapkan, seketika membuat Arga tidak suka dan langsung marah.


"Arga, Ayah mau kamu pindah sekolah ke luar negeri!" ucapnya tegas tidak mau dibantah.


"Ke-ke luar negeri! serius Ayah!"


"Ya, karena kamu putra Ayah satu-satunya yang akan jadi penerus di perusahaan kita nanti."


Hah! Penerus! bahkan perusahaan itu sudah bangkrut bila bukan kak Lea yang menolongnya, kita semua sudah tidak punya apa-apa! itu milik kak Lea.


"Arga tidak mau!" menolak tegas sembari mau berdiri.


"Berani melangkah pergi dari ruangan ini Arga, kamu akan tahu akibatnya!" sentak Ayah Roni yang seketika ikutan berdiri.


"Jangan memaksa Arga, Ayah!"


Ayah Roni mengangkat tangannya siap mau menampar. "Kau!"


"Ayah, Ayah sudah ... sudah. Biar Ibu saja yang bicara dengan Arga," ucap Ibu Fera yang saat ini mengusap lengan suaminya supaya amarahnya mereda.


"Urus saja itu anakmu! bocah susah diatur!"


Setelah bicara marah seperti itu, Ayah Roni pergi lebih dulu dari tempat tersebut.


Ibu Fera menghela nafas panjang, dan mau mendekati Arga, namun anak muda itu langsung pergi menuju kamarnya, tidak mau mendengar ceramah ibunya lagi.

__ADS_1


Ibu Fera menahan geram saat melihat Arga malah pergi


Arga! semoga ibumu ini bisa selalu sabar dan diberi umur panjang, sudah anaknya keras kepala, bapaknya juga ikutan keras kepala! batin kesal Ibu Fera.


Sementara Tamara hanya diam tidak peduli.


Hah! untung Arga yang diminta pindah sekolah ke luar negeri, bukan aku. batin Tamara bersyukur.


Arga yang sudah berada di dalam kamar, langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang secara dramatis.


Aku tidak mau! gumamnya terus menerus menolak perintah ayahnya.


"Arga!"


Hah! Nenek tua lagi, batin kesal Arga saat tahu siapa yang saat ini masuk ke dalam kamarnya.


Mau kamu nasehati seperti apa pun aku tidak akan mau pindah sekolah ke luar negeri! batin Arga sudah menjawab lebih dulu, padahal sang Ibu belum bicara, luar biasa bisa menebak apa yang mau ibunya bicarakan.


"Arga, Nak? ayo lah duduk dulu, Ibu mau bicara sebentar," bicara lembut merayu sang putra supaya mau menurut.


Arga ahirnya duduk, Ibu Fera tersenyum seraya mengusap puncak kepala Arga, berharap dengan bicara lembut dan dari hati ke hati, Arga mau mengerti dan mau pindah ke luar negeri.


"Bukan seperti itu Arga, ayo lah pikirkan dulu untuk masa depan keluarga kita, Ayah hanya mau penerus keluarga kita nanti orang yang cerdas, dan Ayah ingin kamu orangnya, Nak?"


"Tidak! Arga tidak mau! sekarang Ibu keluar dari kamar Arga!" Arga kembali berbaring di atas ranjang dengan posisi tengkurap, menutup telinganya menggunakan bantal, apa pun yang Ibu Fera ucapkan, dirinya tidak akan dengar.


"Arga!"


Arghhhh!


Ibu Fera kesal, akhirnya memaki Arga juga, karena tidak sanggup sabar lagi, Ibu Fera keluar dari kamar Arga, menutup pintu kamar dengan keras. Arga yang sudah menjauhkan bantalnya, langsung terlonjak kaget. Arga melempar bantal ke arah pintu.


Arga kemudian duduk di pinggiran ranjang, melamun dan berpikir, karena dirinya tidak mau bila sampai ada adegan di culik lalu dibawa keluar negeri saat dirinya sedang tidur.


Hanya ada di dalam pikiran konyol Arga saja, namun khawatir bila jadi kenyataan.


"Aku tinggal bersama kak Lea saja, ah iya." Arga sudah semangat mau ikut Milea, mengambil tas ransel dan mulai memasukkan beberapa bajunya ke dalam tas ransel.


Namun saat mau memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, tiba-tiba melihat foto pernikahan Milea dengan Leonardo.

__ADS_1


Kak Lea kan di sana tinggal di rumah suaminya, ada suaminya dan keluarga suaminya, mana mau menampung saya di sana, batinnya dengan wajah sendu seraya membawa tubuhnya untuk duduk di kursi meja belajar.


Ahh!


Arga mengeluarkan semua baju-bajunya yang sudah dimasukkan di dalam tas, Arga melempar baju-bajunya mengudara, karena kesal.


Seketika lantai ruang kamar Arga berantakan hampir semua ada baju tergeletak di lantai.


Setelah membuat kamarnya sendiri berantakan, Arga langsung menuju ke atas ranjang, tidur di sana, tidak peduli dengan ruang kamarnya yang berantakan.


Saat pagi tiba, dan Arga sudah berangkat ke sekolah, pelayan rumah yang mau membereskan kamar Arga langsung menjerit kencang, membuat Ibu Fera datang menghampiri pelayan tersebut.


Aaaaa!


Teriak pelayan yang begitu terkejut, melihat kamar berantakan serta baju milik Arga berserakan di atas lantai.


Astaghfirullah Den Arga, kenapa dia bisa sejorok ini, biasanya juga anak itu bersih, batin pelayan tersebut seraya mulai mengambil satu per satu baju yang tergeletak di lantai.


"Apa yang terjadi! kenapa kamu-," ucapan Ibu Fera yang baru datang menghilang bersamaan rasa keterkejutannya melihat kamar Arga yang berantakan.


"Mengapa bisa seperti ini!" bicaranya membentak pada pelayan yang lagi memunguti pakaian di lantai itu.


"Tidak tahu Nyonya."


"Cepat bereskan!" perintah tegasnya kemudian berlalu dari tempat tersebut.


Saya saja juga terkejut ko ditanya, ya tidak tahu lah Nyonya, batin pelayan sembari terus menyelesaikan pekerjaannya.


Sementara Ibu Fera terus mengumpati Arga, kelakukan Arga benar-benar kelewatan menurutnya, dan akan memberi pelajaran anak itu supaya tidak nakal lagi.


Terus berjalan menapaki anak tangga malah fokusnya mengumpati Arga, tiba-tiba kesandung karpet tebal, saat menginjak lantai satu.


Brukk!


Aww!


Hahahah!


Bersamaan Ibu Fera jatuh ke karpet dan mengaduh kesakitan, Tamara malah tertawa kencang, yang membuat Ibu Fera sudah kesal malah semakin kesal.

__ADS_1


"Diamkan tertawamu Tamara!" bentak Ibu Fera, karena tidak mau dijadikan bahan tertawaan.


__ADS_2