
Milea meringis merasakan lututnya tergores.
"Makanya kalo jalan lihat-lihat!" bentak ibu-ibu gendut itu yang mendorong troli belanjaan.
Milea hanya diam saja sembari melihat ibu-ibu itu masuk ke dalam lift.
Ah perih juga rasanya, gumam Milea seraya melihat lututnya yang lecet.
Milea melihat sekeliling tempat ini banyak sekali pakaian baju, Milea kemudian berdiri, berjalan ke arah baju-baju mencari tempat sembunyi di sana.
Meski para wartawan sudah tidak lagi mengejarnya, namun Milea was-was saja, Milea menormalkan detak jantungnya seraya bersandar di patung baju-baju.
Dari arah belakang tiba-tiba ada orang yang memukul Milea, Milea langsung kaget dan menoleh menatap orang tersebut.
"Pergi dari sini jangan nempel-nempel di patung baju aku!" bentak wanita itu seraya memukul Milea lagi.
Milea jingkat untuk menahan wanita itu memukulnya. "Baik Bu saya pergi," ucap Milea kemudian berlari.
Apes deh aku apes, batin Milea seraya terus berjalan, untung saja Milea memakai topi jadi bisa untuk menutupi wajahnya, Milea kemudian turun lagi ke lantai satu.
Sampainya di lantai satu, Milea berjalan hati-hati takut diketahui para wartawan lagi, seraya terus berjalan keluar dari mall, Milea segera menuju tempat keberadaan mobilnya tadi.
Cukup jauh untuk Milea jalan menuju mobilnya berhenti, setelah sampai di dekat mobilnya Milea langsung bernafas lega dan segara masuk ke dalam mobil.
Milea mengelus-elus dada.
Hah hari ini aku selamat dari pengejaran para wartawan, aku tidak mau seperti ini terus-menerus, bisa gagal untuk pekerjaan aku, aku harus bicara dengan Tuan Leonardo, dia harus membayar semua ini! batin Milea marah karena semua ini berawal dari Leonardo.
Milea kemudian melajukan mobilnya, sembari terus berpikir caranya untuk menyampaikan pada Leonardo, Milea tidak mau salah bicara dan memicu kemarahan pria itu.
Setelah menempuh waktu tiga puluh menit, mobil Milea sampai di area toko rotinya.
Milea berjalan sedikit dengan langkah kaki pincang, Tata yang memperhatikan Milea yang baru datang langsung bertanya.
"Kak Lea kakinya sakit?"
Milea mengangguk. "Tolong belikan aku obat."
__ADS_1
Tata menurut langsung membeli obat ke apotik sebelah.
Tidak lama kemudian Tata sudah kembali dengan membawa obat oles, Milea membersihkan dulu luka lecet di lututnya, dan setelah itu memberikan obat oles.
Milea hari ini tidak lanjut bekerja lagi, beristirahat di kamarnya yang berada di lantai dua, Milea tidak menceritakan kejadian yang ia alami saat dikejar-kejar oleh wartawan ke Tata mau pun Nindi.
Setelah tiba sore hari, Nindi membangunkan Milea, karena sudah jam biasanya Milea pulang.
"Sudah jam lima sore Kak, bangun?" Nindi membangunkan dengan suara lembut.
Milea mengerjapkan mata sembari duduk dan bersandar. "Baik, terimakasih sudah membanggakan aku."
Setelah itu Nindi pamit keluar, Milea kemudian membasuh mukanya di kamar mandi, setelah lebih segar. Milea langsung berjalan keluar.
Sampainya di lantai satu, Milea berpamitan pada dua temannya itu, kemudian berjalan menuju mobil.
Keadaan Milea masih sedikit takut, trauma bila ada wartawan datang lagi, Milea berjalan cepat tidak menghiraukan lututnya yang sakit.
Setelah berada di dalam mobil, Milea segera melajukan mobilnya menuju rumah, mobil yang Milea kendarai sedikit lebih cepat, tidak butuh lama setelah dua puluh menit mobil sampai di rumah utama.
Sementara itu Leonardo yang saat ini sedang berada di dalam kamar, mondar-mandir di depan pintu seraya membawa sebuket bunga mawar.
Saat handel pintu di putar, Leonardo yang berada di dalam semakin merasa berdebar-debar jantungnya saat yakin pasti itu Milea.
Dan benar saja, setelah pintu berhasil dibuka, menampakkan sosok yang sejak tadi Leonardo tunggu, namun perhatian Leonardo teralihkan saat Milea berjalannya pincang.
Sebuket bunga mawar yang Leonardo pegang langsung jatuh kelantai, Leonardo berjalan mendekati Milea tanpa sadar menginjak bunga itu.
Leonardo langsung menggendong Milea, membawa Milea ke pinggiran ranjang dan mendudukkan di sana.
Leonardo berjongkok melihat lutut Milea yang ada goresan luka. "Kamu jatuh." Menatap Milea.
Milea mengangguk, tidak tahu kenapa padahal hanya goresan-goresan gitu tapi rasanya pedih dan nyeri.
Leonardo bangkit. "Kita harus ke dokter sekarang."
Milea menggeleng cepat seraya memegang tangan Leonardo. "Tidak perlu nanti juga pasti sembuh."
__ADS_1
"Tidak, kamu harus saya bawa ke rumah sakit sekarang."
Milea menggeleng lagi. "Panggil dokternya ke sini, aku lelah."
Leonardo yang sudah hampir mau berjalan keluar kamar untuk memerintah Pak Ahmad, jadi diurungkan niatnya setelah mendengar suara Milea.
Leonardo menoleh menatap Milea, melihat istri kecilnya yang berkata lelah, seakan hatinya tersayat karena telah membiarkan istri kecilnya bekerja.
Leonardo mendekati Milea lagi dan membungkuk di depan Milea seraya menangkup wajah Milea. "Maafkan aku, harusnya kamu tidak perlu bekerja, harusnya kamu cukup bersenang-senang seperti belanja dan bermain untuk menghabiskan uangku."
Milea menggeleng seraya memegang tangan Leonardo yang saat ini menangkup wajahnya. "Tidak apa-apa, bukan itu masalahnya, jangan salahkan dirimu."
Leonardo langsung mengecup kening Milea dan memeluk Milea, entah bahagia atau sedih mendengar jawaban Milea, tapi yang pasti Leonardo saat ini sudah yakin untuk membuat pernikahan ini menjadi serius.
Setelah satu jam berlalu, Milea juga sudah mandi kini sedang berbaring di atas ranjang, dokter wanita mewakili dokter Arman kini telah tiba.
Dokter tersebut mulai memeriksa lutut Milea, memberikan obat untuk lutut Milea juga memperban lukanya.
"Lukanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dan akan segera sembuh," ucap dokter tersebut setah selesai melakukan tugasnya.
Milea tersenyum. "Maaf Dokter, sudah merepotkan."
Dokter tersebut tersenyum sebelum ahirnya pamit untuk pergi, berjalan keluar kamar, Leonardo yang melihat dokter tersebut sedang turun menapaki tangga sudah tidak sabar untuk menanyakan hasil pemeriksaannya.
Dokter yang sudah sampai di lantai satu, kembali menjelaskan pada Leonardo bahwa luka di lutut Milea tidak begitu bahaya, dan akan segera sembuh.
Leonardo ingin bertanya lagi namun di tahan oleh Ibu Alenta, dan ahirnya dokter tersebut pun pergi.
"Ibu kenapa menghalangi aku," protes Leonardo pada ibunya setelah dokter pergi.
Ibu Alenta memutar bola mata malas. "Leon, apa lagi sih yang mau kamu tanyakan, Milea baik-baik saja, lagian kamu kenapa berlebihan seperti itu."
Leonardo menatap mata ibunya. "Karena Mele istriku, dan selamanya akan menjadi istriku."
Leonardo menekan kata selamanya akan menjadi istriku, Ibu Alenta yang mendengar sampai terkejut, itu artinya dirinya akan semakin sulit untuk memisahkan Milea dan Leonardo.
Leonardo meninggalkan ibunya berjalan menuju kamar untuk melihat Milea.
__ADS_1
Setelah tiba di depan pintu dan membukanya Leonardo melihat Milea sudah tidur dengan tubuh terbungkus selimut.
Lucunya, guamnya.