Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 24. Hari pernikahan.


__ADS_3

Setelah hari-hari Milea lalui dengan sangat berat versi Milea, mungkin karena dirinya terpaksa harus menerima pernikahan ini, sampai menganggap menikah dengan pria tampan dan kaya bukan keberuntungan.


Di kurung selama satu Minggu sudah seperti tahanan, hanya bedanya Milea di kurung di tempat elit, fasilitas lengkap bahkan makan sampai minuman terjamin kesehatannya.


Apa kah Milea bersyukur? Tidak! Karena bukan ini yang Milea inginkan, Milea tidak biasa hidup mewah yang banyak aturan, Milea lebih bahagia hidup biasa bebas bisa terbang kemana pun seperti kupu-kupu cantik.


Tapi dalam satu Minggu ini Milea hanya di kurung di apartemen, tidak ada yang Milea lakukan selain patuh dan menurut, bahkan semua perlengkapan pernikahan seperti gaun pengantin dan sebagainya, Milea hanya tinggal pakai tidak pusing untuk mencari atau menyiapkan, pelayan yang sudah sigap mempersiapkan semuanya.


Dan di sinilah sekarang Milea, di sebuah ruangan khusus untuk pengantin wanita di sebuah hotel.


"Wah ... Nona sangat cantik."


Satu kalimat pujian lolos di ucapkan oleh penata rias, yang saat ini masih merias Milea tinggal memperbaiki karena sebentar lagi selesai.


Tapi apakah Milea mendengar kalimat pujian itu? Tidak! Telinganya mendadak tuli, bahkan matanya tidak melihat apakah dirinya saat ini cantik atau tidak, Milea hanya menatap lurus ke depan dengan pandangan jauh menerawang.


Tubuhnya di sini tapi pikirannya jauh berkelana, tidak peduli apa pun hasilnya saat ini, bila dirinya terlihat jelek malah bersyukur dalam hatinya.


Milea sedang perang batin, menolak tidak mau, tapi bibir dan jiwanya terkunci, tidak bisa hanya sekedar bicara menolak, dengan sekali matanya berkedip air mata itu lolos melewati pipinya.


"Nona, jangan menangis nanti make up Anda akan luntur," nasehat salah satu penata rias yang kini memperbaiki make up Milea lagi.


Dan sepertinya waktu memang mendukung pernikahan ini, entahlah apa ini sudah suratan takdir, Milea tidak mampu berpikir lagi, yang saat ini sudah berada di dalam lift, di apit dua wanita yang tidak Milea kenal, mereka juga menggunakan gaun yang bagus, yang kini sama-sama akan mengantar Milea ke ballroom hotel tempat acara pernikahan.


Setiap langkah dan detik waktu seolah semakin dekat dengan perubahan statusnya, yang dari gadis menjadi seorang istri.


Ting.


Pintu lift terbuka, Milea dan juga dua wanita yang menemaninya bersama-sama menuju pintu ballroom hotel, setelah pintu terbuka seketika matanya mampu melihat banyaknya orang di dalam sana.


Wajah-wajah orang yang tidak Milea kenali kini ia melihatnya, sampai pandangannya tertuju pada sosok pria yang sudah menunggunya di ujung sana.


Milea mulai berjalan mendekat, dengan langkah pelan.


Dia yang sudah merubah hidupku mulai saat ini, dia yang akan menjadi suami ku, wajahmu memang tampan tapi maaf aku tidak cinta.


Milea menoleh ke arah ibu tirinya dan adik tirinya yang wanita, di sampingnya juga ada Arga dan juga Ayahnya.

__ADS_1


Ibuku yang saat ini bahagia melihat aku berada di sini, mereka yang menikmati uang hasil menjual aku.


Ayah yang paling aku kenal sebagai ayah jahat di muka bumi ini, karena tega lebih milih melihat aku menderita.


Aku benci senyum kalian saat ini! Benci! Sangat benci!


Segala umpatan dalam hati Milea curahkan, dengan wajahnya yang di pasang dingin, saat menatap keluarganya.


Namun karena muka Milea baby Face, memasang wajah dingin malah terlihat imut, orang yang melihatnya tidak merasa takut tapi malah tertawa. Sampai tanpa sadar kini langkahnya sudah sampai di hadapan Leonardo.


Pria itu langsung meraih pergelangan tangan Milea, membawa wanita itu duduk menghadap pak penghulu.


Dengan mengucap bismillah ahirnya ijab qobul itu pun Leonardo ucapkan hanya dalam satu tarikan nafas.


"Saya terima nikah dan kawinnya Milea Andinita binti Roni Sholeh dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!"


Sah?


Sah!!


Setelah pembacaan doa selesai, Milea mencium punggung tangan Leonardo dengan takzim. Tanpa mengubah ekspresinya yang tetap Milea tekuk.


Keduanya harus pindah tempat menuju pelaminan, di mana nanti di sana akan menyalami seluruh tamu undangan yang hadir, sebenarnya pernikahan ini hanya di lakukan dengan tertutup.


Yang hadir pun hanya keluarga dan para sahabat-sahabat Leonardo, kolega bisnis juga ada yang hadir namun hanya beberapa, tanpa ada awak media yang meliput, karena Leonardo ingin pernikahan ini tetap dirahasiakan.


Para penggemar di luaran sana tidak perlu tahu, hari yang membahagiakan ini bagi orang-orang yang menginginkan pernikahan, tapi tidak bagi Milea dan Leonardo, mereka berdua sama-sama miliki tujuan masing-masing.


"Angkat kepala kamu jangan pernah menunduk, tunjukkan senyummu," bisik Leonardo di telinga Milea yang penuh penekanan, Milea sampai merinding mendengarnya.


Sekarang Milea berlahan mengangkat kepalanya dan tersenyum, tidak seperti tadi yang hanya menunduk saat menerima jabatan tangan tamu undangan.


"Tuan Leonardo, selamat atas pernikahan Anda?" Salah satu sahabatnya mengucapkan dan memeluk Leonardo memberi tepukan di punggung Leonardo.


Leonardo hanya menanggapi dengan senyum, lanjut tamu undangan berikutnya, masih sahabat Leonardo.


"Di tunggu pestanya untuk kami Tuan Muda."

__ADS_1


Hahah!


Ucap sahabatnya itu yang disusul tawa oleh Leonardo dan sahabatnya, mereka berpelukan sembari saling menepuk punggung.


Begitu pun terus berlanjut menyalami tamu undangan, di ujung sana gadis cantik bernama Tamara sedang menatap benci ke arah Milea.


"Ibu! Suami Milea sangat tampan!" ucap kesal Tamara.


"Lalu apa salahnya?" tanya Ibu Fera yang tidak mengerti maksud ucapan Tamara.


"His! Ibu! Jika begitu kan aku mau jadi penebus hutang ayah bila calon suaminya setampan itu," ucap kesal Tamara campur malu-malu.


"Ya mana Ibu tahu! sudah-sudah tidak perlu iri begitu, nanti kau juga bisa dapet yang tampan," jawab Ibu Fera supaya Tamara tidak marah lagi.


Tamara hanya mendengus kesal, bicara dengan ibunya tidak menghasilkan apa-apa, harusnya mendukung, bila mendapat dukungan ibunya kan, Tamara ingin menikung Milea dan bisa merebut Tuan Leonardo pikirnya.


Dan setelah cukup lama berdiri, ahirnya proses menyalami tamu undangan kini selesai, Milea duduk di pelaminan, tapi Leonardo pria itu pergi entah kemana.


Mata Milea terus memandangi langkah Leonardo, untuk melihat kemana pria itu akan pergi, ternyata langkahnya terhenti di kumpulan meja para sahabat-sahabatnya, pria itu langsung di sambut oleh para sahabatnya beradu tos tangan, yang di susul gelak tawa.


Milea yang melihatnya saja sampai merinding. Berpikir laki-laki itu bisa berubah kapan pun dia mau.


Bisa berwajah dingin juga bisa tertawa membuat orang salah paham.


Para wanita yang duduk tidak jauh dari pelaminan, mulai berbisik.


"Pengantin wanitanya di tinggal sendirian."


"Iya kasihan ya?"


"Lihat Tuan Leonardo malah bergabung dengan teman-temannya."


"Apa pernikahan mereka di jodohkan? pengantin wanitanya saja tidak terlihat bahagia."


Suara-suara bisikan para wanita itu terdengar sampai telinga Milea, namu Milea tidak peduli milih diam.


Memang kenapa kalo iya, jawab batin Milea seraya melengos ke arah lain.

__ADS_1


__ADS_2