
Ternyata kalimat yang Leonardo sampaikan pada pelayan berbeda dengan yang Milea ucapkan tadi, Leonardo mengatakan bila Milea sedang sakit tubuhnya banyak warna merah.
Seketika kalimat yang Leonardo sampaikan itu membuat Pak Ahmad yang di ajaknya bicara jadi salah paham, membuat seluruh pelayan heboh karena kalimat yang Leonardo ucapkan salah.
Padahal cuma kerokan malah jadi sakit parah, Milea yang saat ini berbaring di ranjang jadi bingung saat melihat lima pelayan wanita masuk ke dalam kamar.
Di ambang pintu sana Milea melihat ada Pak Ahmad, Milea jadi sedikit mengerti bahwa ini adalah suruhan Leonardo.
"Kami kompres dulu ya Nyonya," ucap salah satu pelayan, yang kemudian menyibak selimut yang menutup perut Milea, menyibak sedikit baju Milea.
Rasa hangat seketika yang Milea rasakan setelah kain yang dicelupkan di air hangat itu menempel di kulit perutnya.
Milea menengok ke ambang pintu lagi, Pak Ahmad sudah tidak lagi di sana, dua pelayan yang lain memijit kaki Milea, dua pelayannya lagi memijit tangan Milea, pelayan satunya lagi fokus mengompres perut Milea.
Oooo siang tadi aku seperti orang tidak berguna dikerjai, dan malam ini aku seperti ratu, wahh enak sekali di pijitin, sepertinya mereka sudah ahli memijit, batinnya Milea seraya senyum-senyum.
Tunggu-tunggu apa mereka yang nyuruh beneran Tuan Leonardo? bodo amatlah siapa pun yang nyuruh mereka, yang penting sekarang aku merasa enak dipijitin, apa aku pura-pura sakit terus saja ya xixixixi, dalam hatinya tertawa cekikikan.
Sementara itu Ibu Alenta yang saat ini berada di lantai satu, mencari Pak Ahmad, setelah bertemu ternyata pria itu keluar dari ruang kerja Leonardo.
"Pak Ahmad, Atun dimana? mau aku suruh pijat leher aku," ucap Ibu Alenta seraya memegangi lehernya yang terasa kaku.
"Atun sedang di kamar Tuan Muda, Nyonya."
"Ngapain di sana! Leonardo kan tidak ada di rumah," bicara ketus dan marah.
"Benar Nyonya, tapi Nyonya Lea sakit, Tuan Muda meminta pelayan untuk mengurus Nyonya Lea saat ini," jelas Pak Ahmad yang semakin membuat Ibu Alenta marah, tanpa pikir panjang Ibu Alenta langsung berjalan cepat menuju kamar Leonardo, Pak Ahmad mengikuti langkahnya di belakang.
"Lea!"
__ADS_1
"Nyonya mau apa?" Pak Ahmad menghalangi Ibu Alenta yang ingin masuk ke dalam setelah membuka pintu.
Milea dan kelima pelayan langsung menoleh ke arah pintu, ternyata Ibu Alenta yang saat ini sedang dihalangi Pak Ahmad, yang saat ini sedang adu mulut tidak ada yang mau mengalah.
"Minggir Pak Ahmad!" Ibu Alenta berusaha menyingkirkan tubuh Pak Ahmad yang menghalangi langkahnya.
"Tidak bisa Nyonya silahkan Anda kembali." Pak Ahmad menggiring Ibu Alenta keluar, namun Ibu Alenta semakin marah.
"Kau berani mengaturku! aku bisa memecatmu!" Tunjuk Ibu Alenta di wajah Pak Ahmad. Namun Pak Ahmad tetap kekeh tidak peduli dengan ucapan Ibu Alenta, dan terus menggiring Ibu Alenta sampai benar-benar keluar, segera memegangi tangan Ibu Alenta meski dia memberontak, salah satu pelayan yang berada di dalam, langsung mengunci setelah tahu kode dari Pak Ahmad.
"Lepaskan tanganku lepas! hih beraninya tangan kamu memegang tanganku!" Ibu Alenta mengibaskan tangannya seraya mengusap-usap, terlihat begitu jijik habis dipegang Pak Ahmad.
"Maaf Nyonya, maafkan kelancangan saya." Pak Ahmad menunduk, kemudian berlalu dari hadapan Ibu Alenta.
"Aku tidak akan memaafkanmu!" teriaknya dengan marah, Pak Ahmad mendengar karena berjalan belum jauh, tapi tidak dihiraukan.
Sementara itu di dalam kamar, masih lanjut pijit-memijit, dan mengompres perut Milea, karena tadi belum selesai dan malah berhenti terjadi drama Ibu Alenta yang datang tiba-tiba marah.
"Sudah cukup, kalian istirahat lah."
"Tapi Nyonya," jawab salah satu pelayan mewakili para temannya.
Milea menepuk bahu pelayan itu, yang memang duduknya tepat di sebelah Milea. "Tidak usah dipikirkan, nanti saya yang bicara dengan Tuan Muda."
Awalnya para pelayan ragu mau menyudahi tugasnya, tapi setelah Milea bersikeras meminta mereka untuk istirahat, ahirnya mereka berlima menurut, pergi meninggalkan kamar utama, meninggalkan Milea sendirian.
Milea saat ini duduk sembari memeluk guling, kepalanya ia tidurkan ke guling tersebut seraya mendekapnya erat. "Jika Tuan Leonardo bersikap seperti ini yang perhatian tidak galak, peduli, sampai mengirim pelayan untuk memijit badanku juga mengompres perutku, dia seperti kekasih ideal."
Milea senyum-senyum sendiri seraya menggoyangkan pelan tubuhnya masih mendekap guling.
__ADS_1
"Kekasih ideal, seperti drama Korea yang romantis banget," gumam nya lagi dengan senyum-senyum sendiri.
Cie Milea mulai suka, bisik hati Milea
"Tidak, aku tidak suka," jawab Milea yakin.
Halah pake tidak mengakui, bisik hatinya mengejek.
"Benar aku tidak suka, bila tidak percaya ya sudah lah!" jawab marah Milea.
Tidak suka tapi memikirkan, tuh kan kamu terbayang-bayang wajahnya, bisik hatinya meledek lagi.
"Diam diam!" Milea membentak seraya menutup telinganya untuk tidak mau mendengar suara bisik-bisik hatinya lagi.
Milea memang terbayang-bayang wajah Leonardo saat tadi bicara ramah padanya, tapi kan tidak tahu nanti kalo pria itu usil lagi, mungkin Milea tidak akan teringat dia lagi, begitu hati Milea sebenarnya menjawab.
Tidak lama kemudian akhirnya Milea tertidur, saat Leonardo pulang tentu Milea tidak tahu, Leonardo yang baru saja tiba sampai di rumah, langsung memasuki kamarnya, melihat Milea, yang saat ini tidur pulas.
Informasi yang diberikan Pak Ahmad tadi, semua pelayan menjalankan tugasnya sesuai perintahnya, otomatis Milea saat ini sudah dipijit dan sudah dikompres air hangat pikir Leonardo.
Tangannya terulur menyentuh anak rambut yang menutup wajah Milea, Leonardo selipkan di telinga, namun ternyata hal kecil ini mengingatkan dirinya dengan wanita di masa lalunya, karena dulu Leonardo sering menyelipkan rambut kekasihnya ke belakang telinga.
Tiba-tiba Leonardo kembali marah, tangannya terkepal erat sampai buku-buku tangannya memerah, dari matanya yang yang tajam, pria itu masih dendam dengan masa lalunya.
Leonardo milih pergi dari dalam kamarnya, berjalan menuju ruang kerjanya, Ibu Alenta yang keluar kamar ingin ambil minum, melihat wajah putranya yang marah saat mau memasuki ruang kerja.
"Ada apa dengan Leon?" tanyanya sendiri, pikiran Ibu Alenta bertanya-tanya, tidak mau ambil pusing, milih melanjutkan tujuannya yang mau ke dapur mau ambil minum.
Setelah malam terlewati dan pagi tiba, Milea yang sudah bangun, mencari Leonardo, membuka kamar mandi ternyata tidak ada pria itu, turun ke lantai satu bertanya pada beberapa pelayan juga Pak Ahmad mereka tidak ada yang tahu, tapi Pak Ahmad cerita tadi malam Leonardo pulang.
__ADS_1
Dimana dia, gumam Milea tiba-tiba panik.