Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 67. Pamer tangannya di perban.


__ADS_3

Milea melanjutkan lagi pekerjaannya, sudah ada lima puluh lembar yang sudah Milea print, Milea membuat lagi sampel nama dengan bentuk font yang berbeda.


Setelah selesai menentukan bentuk font, Milea ingin menggambar animasi kartun, meski bukan dunianya dalam menggambar, Milea berusaha mencobanya, toh tidak akan salah selagi ada rasa mau belajar.


Di saat melakukan sebuah pekerjaan dengan perasaan bahagia semua itu terasa menyenangkan dan pasti akan menimbulkan hasil memuaskan.


Seperti pekerjaan yang Milea lakukan saat ini, meski harus membutuhkan konsentrasi yang penuh, tapi semua dilalui dengan lancar.


Saat ini sudah hampir selesai, tinggal sedikit lagi memperbaiki akan terlihat lebih sempurna, Milea menggambar animasi kartun dengan pipi chubby warna merah merona, seolah sedang menggambarkan dirinya sendiri.


Hanya kepala saja yang Milea gambar, tanpa badan, Milea tertawa melihat gambarannya sendiri.


Arga yang sedang tiduran sembari main hp, sampai bangun dan mendekati Milea, berdiri di belakang Milea melihat ke arah laptopnya Milea.


"Kak, serem amat itu gambar tidak ada badannya," celetuk Arga memberi komen.


Hahaha!


"Lucu tau, Dek." Milea menjawab sembari tertawa.


Arga hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Milea. "Terserah Kak Lea saja lah, asal Kak Lea happy," putusnya seraya kembali tiduran lagi di ranjang dan memainkan lagi hp nya.


Pintu terbuka.


"Kak Lea, Kak Lea!"


Milea menoleh saat pintu terbuka bersamaan namanya dipanggil.


Nindi berjalan masuk tergopoh-gopoh. "Kak Lea di luar Kak Lea." Nafas Nindi terengah-engah, membuat Milea tidak paham apa maksudnya.


Arga yang tadi tiduran langsung duduk di ranjang melihat Nindi yang baru datang dengan wajah panik.


Milea bangun dari duduknya. "Ada apa Nindi ayo jelaskan!"


Nindi mengatur nafas supaya bisa menyampaikan kalimat dengan jelas.


"Di-diluar a-ada-." Berhenti lagi mengatur nafas, Milea sampai seolah membantu Nindi dalam bernafas, membuat Milea semakin panik.


Arga yang tidak sabaran dengan tingkah Nindi malah cuma tarik nafas buang nafas, ahirnya milih mengintip dari tirai jendela, kini Arga bisa melihat di luar sana.


Deg.

__ADS_1


Mobil Kak Leon, gumamnya, kemudian menoleh ke belakang memberitahu Milea.


"Kak lihat itu."


Mendengar suara Arga, Milea menoleh, kini melihat Arga di dekat jendela sedang menatap ke luar.


Milea penasaran mau mendekati Arga.


"Ada Presdir Armada Group."


Deg.


Langkah kaki Milea yang mau mendekati Arga langsung terhenti disertai jantung berdebar-debar.


Ada apa? ada apa sampai Tuanku datang ke sini, batin Milea penuh tanda tanya, ahirnya mutusin untuk segera berlari keluar.


Setelah turun dari tangga, semua yang dikatakan Nindi benar, bahwa yang berdiri di ambang pintu saat ini adalah Presdir Armada Group, suaminya, Leonardo.


Milea terkejut, sampai bingung harus mendekat menemui, atau mengumpat, tapi andai dirinya mengumpat khawatir bila pria itu akan marah, karena datang ke sini tidak ia temui, ahirnya Milea milih mendekat, dengan langkah pelan dan jantung berdebar-debar.


Hei jantung diam lah jangan seperti ini, berdetak lah sewajarnya karena aku takut nanti kau melompat keluar! batin Milea memarahi jantungnya yang berdetak hebat.


Tata yang berdiri di samping etalase roti, berdiam diri seraya melihat bergantian ke arah Milea juga ke arah Leonardo.


Pikirannya bertanya-tanya, ada hubungan apa mereka berdua? mengapa terlihat so sweet cara mereka saling memandang.


Yang dilakukan Nindi juga sama saja seperti Tata, banyak pertanyaan karena memang tidak tahu sama sekali tentang Milea, soal Milea dekat dengan siapa, mereka berdua tidak ada yang tahu.


Dan selama ini tidak pernah ada yang meminta ingin bertemu Milea selain konsumen dan juga Arga.


Jadi sekalinya ada yang menemui adalah pria terkenal di negeri ini, juga pria pujaan hati banyak wanita, tentu saja Nindi dan Tata sangat terkejut dan heboh sendiri.


Jika bukan karena Kak Lea aku tidak mungkin bisa melihat Presdir Armada Group sedekat ini, ini nyata lho bukan di televisi yang biasanya aku lihat ada dia sedang diundang sebagai bintang tamu di acara televisi.


Eh, eh mereka mau kemana! teriak batin Tata yang melihat Leonardo menarik tangan Milea membawanya keluar toko.


Tata langsung berdiri di pintu melihat ke arah luar, Nindi juga ikutan berdiri di pintu, ternyata di dekat mobil sana juga ada pria tampan yang sedang membuka pintu mobil untuk Leonardo.


Tata dan Nindi mulutnya melongo saat Milea masuk ke dalam mobil di susul Leonardo yang masuk juga.


Wah wah Kak Lea diam-diam, batin Nindi dan Tata bersamaan.

__ADS_1


Untung saja di dalam mobil itu ada tiga orang yang Tata dan Nindi lihat, jadi menjaga pikirannya yang tidak-tidak, walau masih penasaran dengan di dalam mobil sana.


"Kerja Kak kerja."


"Eh." Tata dan Nindi menoleh kebelakang bersamaan saat mendengar suara Arga, jadi sama-sama salah tingkah karena bukannya fokus kerja malah ngurusin bos yang tentu bukan urusannya, mau Milea dekat dengan pria mana saja.


Di dalam mobil.


Leonardo tiduran di mobil dengan paha Milea digunakan sebagai bantal, pria itu meminta Milea untuk mengusap kepalanya.


Barusan pamer bila telapak tangannya diperban.


"Memang tadi ada masalah di kantor, sekertaris Alan?" tanya Milea menatap ke depan seraya tangannya terus mengusap kepala Leonardo.


Sekertaris Alan bingung mau menjawab, karena itu semua hanya akal-akalannya Leonardo supaya mendapat simpati Milea.


Sekertaris Alan tahu karena tadi dirinya yang memperban telapak tangan Leonardo, yang sebenarnya tidak luka sama sekali.


Tapi demi nyawanya selamat ahirnya Sekertaris Alan lebih milih bohong dan mengikuti sandiwara Leonardo.


"Benar Nona, tadi karyawan di kantor ada yang bikin ulah, membuat Tuan Leonardo marah dan tanpa sengaja memecah gelas." Membuang nafas panjang seraya melirik Milea, wajah Milea berubah sedih.


Hah semoga Nona Milea percaya dengan cerita karangan aku ini gumamnya, melihat Milea bersimpati pada Leonardo, hah dia percaya batinnya bersyukur.


Dan semua itu benar seperti yang Sekertaris Alan lihat, Milea jadi kasihan melihat Leonardo yang bekerja sampai melukai tangannya karena kesal sama karyawannya.


Usapan lembut Milea di kepala Leonardo, membuat pria itu terasa nyaman. Yang tadinya Milea pikir Leonardo tidur ternyata tidak, sedari tadi hanya memejamkan mata tapi tidak tidur.


"Sore ini mau pulang bareng aku atau sendiri?"


"Em, aku sudah janji mau mengantar Tata dan Nindi pulang Tuanku, karena aku bawa mobil baru." Selesai bicara Milea tertawa, dan hal itu terdengar indah di telinga Leonardo.


Leonardo tidak akan melarang, membiarkan Milea mengantar dua temannya pulang, hatinya bangga miliki istri yang baik hati.


"Baiklah aku ijinkan, tapi sampai rumah harus tepat waktu."


"Terimakasih Tuanku," ucap Milea disertai senyum manis.


Beberapa saat kemudian Milea keluar dari dalam mobil, setelah itu mobil Leonardo melesat pergi.


Milea mengusap-usap tengkuknya, rasa geli dikecup Leonardo barusan masih terasa.

__ADS_1


__ADS_2