Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 90. Tugas nanti malam.


__ADS_3

Gedung Hansen Corp.


Seorang pria tampan sedang sibuk dengan pekerjaannya, banyak sekali file-file yang menumpuk di atas mejanya.


Hari sudah mulai siang satu jam lagi pukul dua belas siang waktunya jam makan siang. Tapi pekerjaan masih banyak.


Matanya tampak lelah tapi tangan harus terus tetap di paksa untuk bertanda tangan dan mata untuk membaca berkas-berkas di depannya.


Helaan nafas berat itu berulang kali dilakukan saat melirik pekerjaannya yang seolah tidak berkurang masih saja tampak banyak.


Biasalah ahir bulan pekerjaan pasti banyak dan menumpuk. Untungnya otaknya cerdas jadi tidak begitu sulit baginya, hanya merasa lelah.


Hal seperti ini sudah sering dihadapinya sebagai seorang pemimpin perusahaan, adalah hal yang wajar. Tidak perlu mengeluh lagi karena memang sudah pekerjaannya.


Saat sedang fokus dengan berkas di tangannya, tiba-tiba pintu ruang kerjanya di buka dan seketika mendengar suara yang saat dikenali.


"Kakak," suara Bella yang bicara penuh semangat, dengan bibir tersenyum berjalan masuk menghampiri Hansen berdiri di samping pria itu sembari tangannya melingkar di pundak sang Kakak.


"Kamu bolos?" Hansen memberikan pertanyaan curiga sembari melirik Bella.


Bella mendengus kesal. "Kakak selalu curiga mulu tiap kali Bella pulang cepat, kan pulang cepat bukan berarti bolos Kak. Sekolah ada rapat jadi semua murid diminta pulang."


"Emm kirain." Hansen kembali sibuk dengan pekerjaannya.


Bella mengintip yang sedang Hansen kerjakan, otaknya langsung pusing karena tidak mengerti hal begituan.


Bella juga melihat tumpukan file-file di atas meja yang begitu banyak, dalam hati Bella merasa kasihan sama Hansen, karena selama ini selalu bekerja keras sendiri.


Bella berganti memijit pundak Hansen. "Kak aku pijit ya supaya lelahnya berkurang."


Hem. jawab Hansen singkat.


"Kak, aku datang kesini bawa sesuatu lho." Bella ingin berbagi hadiah tapi menunggu Hansen mau atau tidak.


Hem.


Mendengar sahutan dari sang Kakak, Bella menghentikan memijitnya kemudian membuka tasnya, Bella mengambil sesuatu di dalam tasnya, dan dengan semangat menyerahkan untuk Hansen.


"Ini Kak."


Hansen melihat yang di kata hadiah oleh Bella dengan kening berkerut.


"Permen lollipop." Hansen hampir tidak percaya bahwa itu hadiahnya.

__ADS_1


Bella mengangguk cepat. "Enak lho bisa membuat Kakak makin semangat kerja."


Hansen langsung menghela nafas panjang mendengar penjelasan Bella, tapi karena tidak ingin mengecewakan adik kesayangannya, Hansen lebih milih mengiyakan dan menerima permen lollipop itu.


Saat Hansen mau mengambil permen lollipop dari tangan Bella, gadis itu melarangnya.


"Jangan dulu Kak, aku bukain dulu bungkusnya." Selesai membuang bungkus permen, Bella menyerahkan permen itu ke Hansen dengan langsung menyuapinya.


Bella tepuk tangan, dikira apaan sampai tepuk tangan, ya itu lah Bella gadis unik yang selama ini Hansen jaga, karena adik satu-satunya, yang manja juga bandel tapi pintar.


Bella tidak menganggu Hansen lagi, milih istirahat di kursi sofa, tidak lama kemudian Bella tidur di sana.


Hansen melanjutkan pekerjaannya sampai tiba sore hari waktunya jam kantor selesai.


Ahirnya tumpukan file-file yang banyak tadi berhasil Hansen selesaikan, Hansen menumpuknya kembali dengan rapi dan ia geser ke samping kiri atas meja.


Hansen meregangkan otot-ototnya, rasanya lelah sekali, seharian duduk hanya coret-coret di atas kertas.


Hansen kemudian menoleh melihat Bella yang masih tidur di sofa, Hansen tersenyum melihat gadis kecilnya, kemudian berjalan mendekati Bella.


Hansen membangunkan Bella. "Bel Bella," ucapnya lembut sembari menoel-noel hidup mancung sang adik.


Hacih ....


Hansen langsung berdiri menjauh.


"Ka-kakak! Kenapa ada di sini?" tanya Bella bingung saat bangun melihat Hansen dikira sedang berada di dalam kamarnya.


Kebiasaan Bella apa bila bangun tidur pasti lupa tempat.


Hansen menghela nafas panjang. "Kamu tidur di kantor Kakak, mau pulang tidak?"


Bella mencoba mengingat-ingat ternyata benar ia sedang berada di kantor kakaknya. Bella kemudian ingat sesuatu tujuannya datang kemari tadi.


Hansen sudah mau melangkah menuju pintu.


"Kak, aku mau nonton, temani aku ya kak."


Hansen menghentikan langkahnya berbalik menatap Bella. "Ya, berangkat sekarang."


Bella langsung bersorak gembira, yang langsung bangun dari duduknya menyusul Hansen.


Mereka keluar bersama-sama dari Gedung Hansen D R C.

__ADS_1


Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil yang sedang melaju dengan tujuan ke mall.


Tiga puluh menit, mobil pun sampai di mall terbesar di kota Jakarta. Hansen dan Bella masuk ke dalam bersama-sama.


Mereka menaiki eskalator, saat berdiri di sana sayup-sayup Hansen seperti melihat Milea, arah matanya terus menatap gadis itu, dan saat gadis itu menoleh ternyata benar dia adalah Milea yang sedang bersama teman-temannya.


Hansen dan Bella sampai di lantai tiga, Bella mau keliling dulu sebelum masuk ke ruang bioskop.


Dan dilantai inilah Milea bersama Nindi dan Tata sedang belanja baju, Hansen terus memperhatikan Milea yang tersenyum terus sedang berbicara dengan dua temannya.


Aku tahu ini pertama kali aku jatuh cinta, tapi aku sudah sangat mencintaimu, dan ternyata kamu sudah miliki suami yang tidak mungkin aku tandingi, semoga kalian bahagia, batin Hansen yang perlahan kemudian memutus pandangan itu dan mengajak Bella pergi dari sana.


Milea sedang ketawa-ketawa malu saat tangannya memegang lingerie.


"Ayo Kak Lea pilih yang ini, ini lebih seksi." Nindi menunjuk lingerie satunya lagi sembari terkekeh.


"Ah tidak jadi lah jangan beli baju kurang bahan seperti ini." Milea menggeleng meletakkan kembali lingerie yang sudah berada di tangannya.


Tata mengambil lagi lingerie itu dan memberikannya pada Milea lagi. "Kak Lea harus pakai ini, supaya suami Kak Lea semakin cinta dan semakin hot ehem-ehemnya."


Aaaa! Milea menjerit dalam hati sembari menutup wajahnya semakin malu saat Tata memperjelas ucapannya, Milea jadi malu membayangkan saja, dirinya tidak pakai lingerie saja sudah dimakan habis-habisan tiap malam, bagaimana kalo pakai lingerie pikir Milea.


Tingkah Milea menggemaskan, Tata dan Nindi baru tahu sisi lain Milea yang ternyata menggemaskan, lihatlah wajahnya kini sudah Semerah udang rebus.


"Hayo ... Kak Lea mikirin apa ..." canda Tata yang semakin membuat Milea malu.


Milea memukul lengan Tata dan Nindi yang mencandainya yang kemudian berakhir tertawa bersama.


"Sudah sudah, aku mau beli satu set saja untuk percobaan, tapi bagusan yang warna apa? Warna putih atau hijau atau merah?"


"Merah." Ada suara menyahut cepat.


Milea dan Nindi juga Tata menoleh ke arah sumber suara, mereka terkejut tapi yang pling terkejut Milea.


Kenapa dia ada di sini, batin Milea saat melihat Leonardo tiba-tiba datang.


Leonardo mendekati Milea, melihat wajah wanitanya kemudian melihat beberapa lingerie, Leonardo mengambil yang warna merah dan memberikannya pada Milea.


Leonardo mendekatkan wajahnya pada Milea, bila dilihat dari tempat posisi Tata dan Nindi berdiri saat ini, mereka seperti sedang mau ciuman.


"Pakailah untuk tugas nanti malam," bisik Leonardo di telinga Milea disertai seringai tipis.


Ih Milea jadi malu dilihat dua teman-temannya.

__ADS_1


__ADS_2