
Milea segera memalingkan lagi wajahnya, mengalihkannya dengan selimut yang berantakan di sofa, Milea merapikannya.
"Dimana baju kerja aku." Leonardo bicara masih berdiri di tempat yang sama.
Milea langsung teringat bahwa dirinya belum menyiapkan pakaian kerja, karena bangun tidur terkejut tiba-tiba berada di atas ranjang Leonardo, membuatnya lupa akan tugasnya.
Milea dengan segera berjalan menuju almari, Leonardo mengikuti langkah Milea dari belakang, di sana Milea mengambil satu set jas, dan kemeja satu, berikut juga dalaman.
Leonardo langsung mengambil alih semua pakaian kerja itu dan mulai memakainya.
Milea menyiapkan juga kaos kaki, serta jam tangan mewah yang akan Leonardo pakai.
Setelah selesai berpakaian, Leonardo menyisir rambut, menatap diri di cermin terlihat masih ada yang kurang, ternyata belum memakai dasi.
"Mele ambilkan dasi!" seru nya sembari menyisir rambut.
Milea menghampiri sudah membawa dasi, mengatungkan ke arah Leonardo, karena memang biasnya pria itu sendiri yang memasang dasi, jadi Milea menganggap saat ini yang dilakukannya tidak salah.
"Maksud kamu apa! ya pakaikan lah!" ucapnya ketus melirik Milea sekilas.
"Ba-baik Tuan," jawab Milea dengan tersenyum padahal dalam hatinya dia mengumpat kesal.
Tubuh Milea yang kecil, membuat dirinya menjinjit saat memasangkan dasi ke leher Leonardo, padahal pria itu sudah sedikit membungkuk.
Jangan ditanya seperti apa suara jantung Milea saat ini, sudah berdegup kencang, apa lagi wajah keduanya begitu dekat, Milea merasa terintimidasi di tatap lekat Leonardo, sampai membuatnya tidak berani membalas tatapan mata pria itu, Milea hanya fokus memasang dasi.
Dasi terpasang rapi di leher Leonardo, perlahan pria itu menjauhkan wajahnya, melengos melenggang pergi.
Milea pun ikut menyusul langkah kaki Leonardo, sembari membawa tas kerja.
Sampainya di ruang makan, langsung menyantap sarapan, namun sarapan pagi ini tidak ada obrolan sama sekali.
Milea sudah merasa bersyukur, berharap hari ini bisa masuk lagi ke toko roti.
Sampai sarapan selesai dan mengantar Leonardo ke halaman rumah, Milea bibirnya masih menyungging senyum.
Merasa hari ini dirinya akan bebas, menyerahkan tas kerja Leonardo ke Sekertaris Alan dengan suka hati.
Milea makin tersenyum setelah benar-benar tidak ada pembicaraan, karena kaca mobil sudah tertutup rapat tanda mobil akan segera melaju.
__ADS_1
Dan benar saja tidak lama dari itu mobil mulai berjalan, Milea masih tersenyum eh! tiba-tiba mobil berhenti saat sudah mau sampai gerbang siap keluar.
Waduh kenapa berhenti, apa yang ketinggalan ya, batin Milea yang bingung.
Milea belum terpikir menjurus pada dirinya, masih positif aja bila mungkin ada barang yang tertinggal.
Loh loh mobil ko mundur, batinnya lagi mata terbelalak, tapi masih berpikir hal lain.
Sampai mobil tepat berada di depan Milea, Leonardo menurunkan kaca mobilnya. Milea memberi hormat dan tersenyum, masih berpikir bila akan disuruh mengambilkan barang yang tertinggal.
"Apa ada barang yang tertinggal Tuan?" tanya Milea yang merasa pertanyaannya itu benar. "Biar saya ambilkan," imbuhnya lagi.
Bibir Milea masih setia tersenyum sampai seketika menghilang setelah mendengar ucapan Leonardo.
"Ke kamar sekarang, dan kamu mandi, aku tunggu lima menit sudah sampai di sini kita ke kantor."
Duar! Sialan!
Milea terlonjak kaget seperti mendengar petir, hari ini yang ingin bebas tidak bisa lagi.
"Li-lima menit Tuan, mana cu-cukup," jawab Milea bernegosiasi.
"Ah iya ya li-lima menit." Milea langsung berlari masuk ke dalam rumah terbirit-birit.
Setiap detiknya Leonardo menghitung, seolah tidak sabaran menunggu, berulang kali menghela nafas kasar, padahal Milea baru masuk ke dalam.
Melihat jam ternyata Milea sudah lebih dari lima menit. "Alan, panggi Mele!"
Sekertaris Alan sudah bersiap mau membuka pintu mobil, namun tiba-tiba terdengar langkah kaki cepat, melihat ke arah spion, ternyata Milea sedang menuju mobil.
Sekertaris Alan terkekeh geli saat melihat rambut Milea yang belum di sisir, gadis itu belum rapi sama sekali, sampai tangannya memegang sisir, dan baru menyisir rambut di dalam mobil.
Mobil melaju meninggalkan rumah utama, Milea duduk di sebelah Leonardo, tapi pria itu melengos ke arah lain, Milea tidak menegurnya.
Sepanjang perjalanan hanya diam saja, Sekertaris Alan hanya fokus untuk mengemudi.
Tiga puluh menit, mobil sampai di gedung Armada Group, sekarang Milea tidak merasa kagum lagi melihat gedung menjulang tinggi di hadapannya itu, karena sudah kemari bukan yang pertama.
Milea berjalan di samping Sekertaris Alan di belakang Leonardo, kedatangan Milea hari ini tentu menjadi pusat perhatian para karyawan lagi.
__ADS_1
Menatap tidak suka ke arah Milea, sampai pintu lift menyembunyikan mereka.
Milea hanya menunduk berdiri di tengah-tengah dua orang yang miliki sikap dingin sangat tidak nyaman, sampai pintu lift terbuka tiba di lantai tertinggi.
Langkah Milea terus mengikuti di belakang Leonardo, saat pintu di buka oleh Leonardo, ternyata yang masuk ke dalam hanya Milea dan Leonardo.
Sementara Sekertaris Alan, pria itu masuk ke ruang kerja yang lain, mungkin saja ruang kerjanya sendiri.
Milea berdiri mematung setelah dirinya menutup pintu, malah bingung mau melakukan apa.
Anda begitu suka membuat orang merasakan suhu es, apa tidak bisa membiarkan aku bebas di luar sana, berkeringat di bawah sinar matahari, dari pada di sini aku tidak tahu harus ngapain, ngedumel dalam hati menatap kesal ke arah Leonardo, yang saat ini duduk di sofa bukan di kursi kerjanya.
"Kemari lah!"
Eh! dia mau apa?
Milea menurut mendekat ke depan Leonardo, entah pria itu mau melakukan apa, Milea merasakan hawa tidak enak.
Dan benar saja, tiba-tiba Leonardo melepas pakaian jas nya, otak Milea traveling saat melihat Leonardo melepas pakaian jas nya, apa lagi di ruangan ini hanya berdua.
"Tu-Tuan mau apa-."
Ucapan Milea gagap saat tiba-tiba Leonardo berdiri kemudian memasangkan jas yang baru diri lepas ke tubuh Milea.
Tubuh Milea yang mungil dan kecil membuat jas tersebut terlihat kebesaran, apa lagi rambut Milea yang keriting belum diikat karena masih basah, di mata Leonardo terlihat lucu seperti mainan.
Hahahah!
Tawa Leonardo terhibur penampilan Milea, Leonardo memutar-mutar tubuh Milea, makin kencang tertawa.
Hahahah!
Tertawa terus memutar tubuh Milea terus dan menerus.
Hei sialan hentikan aku! kau anggap aku apa, aku manusia bukan permainan woi! maki Milea hanya mampu di dalam hati.
Sementara Leonardo masih saja tertawa seolah baru menemukan permainan lucu.
Memutar sekali menghentikan tepat menghadap Leonardo, wajah Milea ditekuk, Leonardo tertawa puas melihat wajah kesal Milea.
__ADS_1
"Pulanglah! terserah mau kemana, aku hanya minta kamu mengantar aku sampai kantor," bicara sembari mengibaskan tangan, menjatuhkan diri ke sofa, disertai tatapan tidak peduli.