
Sekitar satu jam, tiga pelayan dan Pak Ahmad yang membersihkan kamar Leonardo turun ke lantai satu, mereka berempat berdiri di depan Milea yang duduk sembari memangku kepala Leonardo yang tiduran di sana.
"Kamarnya sudah selesai di bersihkan dan dirapihkan, Nyonya. Silahkan Anda dan Tuan masuk ke dalam," ucap Pak Ahmad seraya tersenyum melihat Nyonya dan Tuannya terlihat romantis.
Milea hanya mengangguk tidak menjawab takut mengganggu seseorang yang saat ini sedang tiduran.
Pak Ahmad dan tiga pelayan wanita melenggang pergi, setelah kepergian mereka Milea ingin berusaha membangunkan Leonardo, tangan Milea sudah terangkat ingin menepuk pipi Leonardo supaya bangun, tapi tidak jadi.
Milea menghela nafas panjang, saat ini yang dirasa sudah sangat pegal, satu jam dalam posisi duduk tidak bisa berubah posisi, karena ada Leonardo yang lagi tiduran dan pahanya di gunakan sebagai bantal.
Namun mata Milea terasa begitu mengantuk, setelah memejamkan mata tidak lama kemudian Milea sudah tertidur pulas sembari duduk.
Satu jam kemudian Leonardo bangun dari tidurnya, saat matanya terbuka hal pertama yang dirinya lihat adalah Milea yang lagi tidur dengan mulut melongo.
Dasar bodoh! kenapa dia tidak membangunkan aku dan malah memilih tidur seperti ini, batin Leonardo mengumpat juga merasa kasihan.
Leonardo kini sudah duduk di sebelah Milea, gerakan Leonardo yang baru duduk membuat Milea menjatuhkan kepalanya di pundak Leonardo.
Leonardo menoleh kini ia bisa mencium aroma wangi rambut Milea, Leonardo kembali menatap lurus dan menghela nafas berat, otaknya sedang berpikir-pikir ingin tidur di kamarnya atau di kamar tamu.
Ahirnya yang Leonardo pilih adalah kamar tamu, menganggap kamarnya sendiri belum bersih, belum steril jadi tidak mau memakainya.
Namun sebelum membawa Milea masuk ke sana, Leonardo mengecek kamar tamu lebih dulu, pelan-pelan Leonardo tegapkan kepala Milea, kemudian dirinya menuju kamar tamu.
Tidak lama setelah masuk dari sana, Leonardo kembali ke ruang tengah untuk menggendong Milea membawanya masuk ke kamar tamu.
Pagi harinya setelah melewati malam panjang, yang juga indah karena semalam Milea bermimpi di gendong sang pangeran.
Milea duduk sembari meregangkan otot-ototnya, matanya masih terasa mengantuk dan sesekali masih menguap, masih diam belum menyadari ada dimana.
__ADS_1
Bahkan pikirannya masih teringat pangeran tampan di dalam mimpinya.
"Tampan banget ... sayang cuma dalam mimpi," ucapnya lirih sembari memeluk guling, menenggelamkan wajahnya di guling.
Setelah beberapa saat kesadarannya mulai kembali, setelah menggeser guling dan mau turun dari ranjang, seketika Milea terkejut, teringat tadi malam tidak tidur di kamar tapi tidur di sofa.
Milea mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, makin tidak percaya setelah memahami ini bukan kamar Leonardo.
Milea langsung turun dari ranjang berdiri di dekat ranjang, masih berusaha mengingat-ingat yang terjadi tadi malam.
Mengurutkan dari Pak Ahmad yang datang bicara kamar sudah siap, dirinya yang ingin membangunkan Leonardo tapi tidak jadi, setelah itu tidur, dan tidak ingat apa-apa lagi.
Aaaaa!
"Siapa yang membawa aku ke sini!" bicara tegas pada diri sendiri, semakin dipikirkan semakin pusing dan tidak mendapatkan jawaban, ahirnya Milea putuskan untuk keluar dari sana, dan ingin mencari Leonardo.
Ingin bertanya pada pria itu siapa tahu dia tahu semuanya pikir Milea.
Seperti Dokter Arman? mengapa sudah berada di sini pagi-pagi, gumam Milea seraya berjalan ke arah pintu keluar, sampai di sana Milea mengintip dari balik dinding menetap keluar dan benar yang dilihatnya itu adalah Dokter Arman, tapi tidak mendengar apa yang mereka berdua bicarakan.
Serius amat mereka, batinnya lagi masih terus mengintip.
Melihat Leonardo dan Dokter Arman mau memasuki rumah, Milea segera sembunyi di belakang kursi sofa.
"Aku mau kau cek bersih kamarku, aku tidak mau ada kumbang masuk lagi, semprot dengan alkohol yang kamu bawa, aku tidak mau ada kuman yang tertinggal di kamarku."
Kalimat itu yang Milea dengar saat Leonardo bicara dengan Dokter Arman saat melewati ruang tamu dan berjalan menuju kamar Leonardo berada.
Milea keluar dari tempat persembunyiannya, kini ia sudah paham mengapa Leonardo memanggil Dokter Arman pagi-pagi.
__ADS_1
Ingin tahu informasi lagi, Milea menyusul mereka ikut naik ke lantai tiga, Milea sudah melupakan topik pertama yang ingin dirinya bahas saat bertemu Leonardo, kini penasaran dengan kamar Leonardo sampai mengundang seorang Dokter untuk mengeceknya segala.
Pintu kamar Leonardo tidak ditutup, Milea langsung masuk, di dalam ruang kamar ini sudah ada lima pelayan yang membersihkannya, lantai dan meja di lap bersih sampai kinclong.
Milea sampai terkagum-kagum melihat cara kerja mereka, yang patut diberi dua jempol, tapi sayang pemilik kamar masih beranggapan kotor.
Sementara itu Dokter Arman menyemprot kamar Leonardo dengan hand sanitizer saat ditelpon tadi Leonardo sudah bilang soal kumbang, jadi Dokter Arman bawa hand sanitizer sesuai perintah Leonardo.
"Bagian gorden yang paling banyak kamu semprot, semalam kumbangnya masuk dari sana."
Itu karena jendela kamu tidak tertutup rapat gila! batin kesal Dokter Arman yang menjawab ucapan Leonardo.
Bagaimana bisa ruang kamar disuruh ngecek sampai begini ribetnya, ingin rasanya memukul kepala Leonardo supaya berpikir jernih tidak menyuruh orang berbuat aneh-aneh seperti ini. Dia yang gila orang lain makin gila.
Dokter Arman dengan bibir ngedumel tapi terus melakukan perintah Leonardo, saat ini sedang menyemprot bagian lemari, semua gorden sudah Dokter Arman semprot sampai basah, biar pemiliknya puas pikirnya.
Leonardo mendekati gorden dan menyentuhnya, berdiam di sana seperti memperhatikan gorden tersebut.
"Menurut kamu gorden ini bersih apa kotor, coba kamu periksa." Melihat Dokter Arman sembari menunjukan ujung gorden yang Leonardo pegang.
Hei! aku ini seorang dokter untuk memeriksa manusia, bukan untuk memeriksa benda mati seperti itu, sana tanya sama pelayan kamu, jangan tanya sama aku, batin Dokter Arman.
Benar lama-lama aku bisa gila seperti dia, batinnya lagi seraya menghela nafas berat.
Milea mendekati Leonardo yang paham situasi saat ini. "Tuan, gorden ini masih bersih, coba kamu ingat satu hari yang lalu warnanya biru dan sekarang warnanya hijau," terang Milea seraya memegang ujung gorden.
Leonardo mengangguk-anggukkan kepala kini mulai ingat.
Untung istrinya waras, coba kalo istrinya juga ikutan gila seperti cara dia berpikir, bisa-bisa pulang dari sini bukan ke rumah sakit tempat aku kerja tapi aku malah ke rumah sakit jiwa.
__ADS_1
Aaaaa tidak-tidak!
Dokter Arman bergidik.