Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 31. Adik dan Kakak.


__ADS_3

Di sebuah rumah yang tidak kalah besar dengan rumah utama miliki Leonardo, namun penghuninya kali ini hanya dua anak muda, Kakak beradik, kedua orang tuanya sudah meninggal lima tahun yang lalu.


Kakak laki-lakinya begitu menyayangi adik perempuannya, apa pun yang diminta sang adik pasti akan dituruti, mau bermain kemana pun pasti akan diijinkan, asal tidak lewat batas.


Kakak laki-lakinya memiliki kecerdasan yang tidak kalah dengan kecerdasan Tuan Leonardo yang terkenal di negeri ini.


Yang juga mampu memimpin perusahaan peninggalan ayahnya, diusianya yang masih muda, sejak lima tahun yang lalu.


Hansen D R C.


Itulah nama perusahaannya, yang dibangun tidak jauh dari perusahaan Armada Group, meski berdekatan, namun selama ini belum pernah melakukan kerja sama.


Dan saat ini dua anak muda itu, sedang menikmati makan malam di meja makan.


"Kak, lusa ada wali murid yang harus datang ke sekolah Bella, Kakak bisa datang tidak?" tanya Bella sembari kunyah-kunyah makanan.


"Nanti ya Kakak lihat dulu agenda Kakak kosong apa tidak," ucapnya seraya melirik sang adik.


"Baik Kak, tapi Bella berharap Kakak Hansen bisa datang," ucap Bella lagi dengan wajah sedih, karena pasti semua teman-temannya orang tuanya pada datang, sedangkan dirinya? Bella tidak bisa melanjutkan pikirannya yang sedih mengingat sang ibu dan ayah yang sudah meninggal.


"Kakak usahakan ya, Jagan bersedih? ayo habiskan makannya," ucap Hansen lembut disertai senyum yang teduh seraya mengusap rambut panjang sang adik.


Bella tersenyum bahagia, yang kemudian langsung menghabiskan makanannya.


Setelah makan malam selesai, mereka berdua duduk di ruang keluarga, nonton TV acara sepak bola, yang hobi nonton hanya Hansen, tapi Bella ikut duduk di samping sang Kakak seraya bersandar di bahu sang Kakak.


"Kak?"


Hem.


"Aku boleh curhat tidak?"


"Soal Arga lagi."


"Iya Kak, Kakak sudah bisa nebak sekarang," ucap Bella tertawa cekikikan.

__ADS_1


"Ya pasti dia kan yang akan kamu ceritakan, Kakak saja bosan mendengar cerita kamu yang itu itu mulu, tapi kamu nya masih betah saja. " Bicara tapi matanya terus melihat permainan bola.


"Cinta Kak, Cinta!" Bella meninggikan suaranya, bibirnya mengerucut tajam.


"Cinta kalo tidak dibalas buat apa sih, hem?"


"Aku yakin suatu saat nanti Arga akan membalas cintaku, setelah melihat penantian panjang ku," jawab Bella penuh yakin.


"Takutnya ... bukannya dibalas tapi dia malah bersama yang lain."


"Ih, Kakak!" Plak!


Bella kesal memukul lengan Hansen, yang disusul tawa pria itu.


Hahah!


"Nyebelin!" Bella membuang muka.


"Hei bukan seperti itu, Kakak cuma tidak-."


Pintu kamar terbuka, seketika Bella menangis, melihat seisi ruang kamarnya yang penuh foto-foto Arga. Di mading juga di dinding juga ada semua foto Arga.


Segitu cintanya Bella dengan Arga? sampai mengoleksi foto-foto pria itu.


Ya, Bella sangat mencintai Arga, sangat menyayangi Arga, tidak peduli dirinya yang perempuan menyatakan cinta lebih dulu pada pria, Bella lakukan meski hasilnya Bella menerima penolakan.


Bella menangis duduk di pinggir ranjang, semua sudah Bella lakukan untuk membuat Arga jatuh cinta padanya, lebih tepatnya menunjukan besarnya rasa cinta dan sayang yang dimilikinya untuk pria itu.


Tapi Arga tetap tidak menoleh ke arahnya, tetap angkuh dan tidak mengakui cintanya.


Bella melirik foto Arga yang berukuran paling besar, Bella bingkai sendiri di panjang di dinding. "Apa salah aku Arga, kenapa kamu tidak bisa mencintai aku! kenapa!" teriak Bella dengan menangis, sampai suaranya menghilang hanya air matanya yang terus mengalir.


"Kamu tidak tahu sakitnya mencintai Arga! kamu tidak tahu!" Bella menunjuk wajah Arga dalam foto.


"Jika aku sanggup menghapus cinta ini sudah aku hapus Arga!" teriaknya dengan lebih kencing.

__ADS_1


"Sakit Arga, sakit." Bella memukul-mukul dadanya seolah menunjukan luka di dalam sana.


Apakah Bella pernah berusaha melupakan Arga? jawabannya pernah, hanya saja setiap kali berusaha menjauh malah rasanya ingin mendekat. Semakin Bella Inging melepas perasaannya semakin kuat rasa cinta Bella untuk Arga.


Menangis sampai membawa tubuhnya tiduran di atas ranjang, matanya terus melihat foto-foto Arga yang terpajang rapih di mading.


Jika kamu tidak bisa membalas cintaku, ajari aku melupakanmu Arga, gumam Bella disela-sela tangisnya.


Bella hanya fokus terus menatap foto-foto Arga, sampai tidak mendengar bila saat ini pintu kamarnya telah dibuka oleh Hansen.


Pria itu berdiri mematung di ambang pintu, menatap lekat sang adik yang saat ini berbaring di atas ranjang dengan memunggunginya.


Suara isak tangisnya sampai terdengar ke telinganya, sakit juga yang dirasakannya, melihat adiknya patah hati karena cinta.


Hansen berjalan mendekat, berdiri tepat di depan Bella, mata gadis itu langsung menangkap kaki sang Kakak, Bella mendongak seketika melihat wajah sang Kakak yang tersenyum.


Hansen duduk di pinggiran ranjang, satu pahanya naik ke kasur, kaki satunya tetap menyentuh lantai.


Hansen membawa kepala Bella untuk tiduran di pahanya, menjadikan pahanya sebagai bantal buat sang Adik.


Hansen mengusap puncak kepala Bella dengan sayang, suara Isak tangis Bella masih terdengar, namun sudah tidak sekencang tadi, Bella berangsur-angsur mulai tenang, sampai suara tangisnya menghilang.


"Jangan bersedih, kamu adalah wanita hebat, jangan menangis hanya karena seorang pria," nasehat Hansen sembari terus mengusap lembut rambut Bella.


Hansen tidak bisa melakukan lebih selain menasehati sang Adik, tidak bisa ikut campur urusan sang Adik, meski dirinya juga terbilang posesif bila soal sang Adik, tapi bila soal urusan ikut campur masalah pribadi Bella, Hansen tidak pernah melakukan itu.


Cukup mengawasi Bella supaya tidak ada pria jahat yang mendekati Bella, dan soal Arga, Hansen memang sudah tahu karakter Arga, karena pernah menyelidiki Arga tanpa sepengetahuan Bella.


Hanya memastikan Arga anak baik atau bukan, bahkan tentang Arga yang tidak ingin pacaran sampai tidak pernah dekat dengan para gadis lainnya, Hansen juga tahu.


Tentu diamnya ada alasan, memang disini Bella terlalu menggebu, tapi Hansen tidak bisa menyalahkan sang Adik, karena rasa sayang yang begitu besar.


Membentak pun tidak pernah, mengingat Bella ditinggal ayah dan ibu masih kecil, dan Hansen sebagai pengganti orang tua untuk Bella, tidak tega jika harus berlaku tegas.


Hanya dalam hal cinta, Bella menggebu kekeh ingin bisa pacaran dengan Arga, tapi dalam hal lain, gadis itu penurut sangat penurut.

__ADS_1


Suara dengkuran halus mulai Hansen dengar, perlahan membawa tubuh Bella ke tengah ranjang, menarik selimut sampai batas leher, menyibak rambut yang menutupi kening Bella, mencium sekilas kening sang Adik, sebelum ahirnya pergi meninggalkan kamar itu.


__ADS_2