Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 59. Pencurian sepeda motor.


__ADS_3

Keesokan harinya, Milea sudah bisa beraktivitas seperti biasanya, sudah masuk kerja di toko rotinya, membantu dua temannya di sana.


Saat ini Milea sedang duduk di toko sembari makan bubur kacang hijau.


"Kak Lea sekarang Kak Lea tinggal dimana sih?" tanya Tata yang tiba-tiba duduk di kursi sebelah Milea.


Yang biasanya diam tidak peduli saat ini mulai kepo, Milea langsung menghentikan mengunyah bubur, dan menatap Tata dengan mata mendelik karena terkejut.


"Hei Kak jangan seperti itu, biasa saja matanya, aku jadi takut."


Hehehe. Tata tertawa.


Milea menggeleng kemudian meraih minuman botol mineral yang ada di ats meja.


Glek- glek, suara Milea minum air.


Tata terus memperhatikan sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Kak Lea terlihat aneh, apa dia marah ya sama aku, kan aku cuma tanya, tapi kenapa sampai terlihat gugup seperti itu, batin Tata seraya terus melihat Milea.


Milea menghela nafas panjang, menoleh ke Tata, Tata yang dilihat Milea merasa tidak enak hati, Milea terlihat tidak suka.


"Kak," ucap lembut Tata.


"Aku tinggal di rumah orang, tidak bersama ayah dan ibuku lagi."


Haduh mata Milea jadi terlihat berkaca-kaca, Tata merasa menyesal sudah bertanya hal itu.


Dasar mulut ini tidak bisa dijaga, batinnya lagi seraya melihat Milea yang kembali meminum air.


"Kak maafkan aku tidak bermaksud membuat Kak Lea sedih," ucap Tata dengan tulus.


"Slow aja."


"Kak Lea rotinya sudah siap!" teriak Nindi yang baru selesai menyusun roti di bok sepeda motor.


Milea langsung bangkit, Tata melihat punggung Milea yang berjalan keluar, diselimuti perasaan bersalah.


"Hati-hati, Kak."


Emm. Jawab Milea tersenyum ke arah Nindi sebelum ahirnya pergi untuk delivery.


Delivery kali ini bukan mengantar ke rumah-rumah, tapi mengantar ke perusahaan dan cukup satu tujuan.

__ADS_1


Empat puluh menit, Milea sudah sampai di sana, Milea menghubungi nomor hp yang kemarin memesan roti, tidak lama kemudian orang tersebut datang, kemudian mengambil roti pesanannya.


Tanpa Milea sadari, Ibu Alenta saat ini juga sedang berada di perusahaan ini, dan sekarang sedang melihat ke arah Milea.


Entah apa yang sedang Ibu Alenta pikirkan saat ini, wanita paruh baya itu tiba-tiba tersenyum penuh arti seraya menghubungi seseorang.


Setelah selesai bicara dengan seseorang, Ibu Alenta menatap remeh ke arah Milea, kemudian berjalan berlalu dari tempat itu masuk ke dalam perusahaan.


Sementara Milea kembali menghidupkan mesin motornya, setelah orang yang memesan rotinya pergi, kemudian Milea pergi meninggalkan perusahaan tersebut.


Setelah menempuh waktu lima belas menit, jalanan yang Milea lewati saat ini cukup sepi, meski masih ada kendaraan yang lalu lalang, tetap saja terbilang sepi.


Apa lagi tiba-tiba turun hujan deras, kendaraan yang lewat semua mengebut, termasuk Milea juga, namun tiba-tiba ada mobil yang mirip mobil penjahat di film-film, menghadang motor Milea.


Ciiiiittttttt.


Suara decitan motor Milea saat harus mengerem dadakan, saat Milea masih terkejut, tiba-tiba empat orang berbadan kekar keluar dari dalam mobil kemudian mendatangi Milea.


"Berikan motor Anda!" Empat orang tersebut mau merebut motor Milea dengan paksa.


"Jangan! jangan ambil motor saya, nanti saya pulangnya bagaimana!" kekeh Milea yang tidak ingin memberikan sepeda motornya.


"Aku tidak peduli! sekarang menyingkirkan!" ucap kasar salah satu pria berbadan kekar seraya menarik Milea untuk turun dari sepeda motornya.


Karena sepeda motor itu berharga bagi Milea, bersejarah dalam hidupnya mulai sejak berjualan roti.


"Jangan bawa motorku ..." teriak Milea bersamaan sepeda motornya yang sudah dibawa pergi, dua pria yang memegangi tangan Milea melepaskan, kemudian berjalan masuk ke dalam mobilnya dan ikut pergi juga meninggalkan Milea yang saat ini tertunduk di jalanan menangis meneriaki sepeda motornya yang dicuri.


"Jangan bawa pergi," suara lirih Milea campur tangis pilu.


Duar ...


Suara petir yang menggelegar langsung membuat tubuh Milea jingkat, sadar bila saat ini berada di tengah jalanan, Milea kemudian berdiri, toleh-toleh mencari tempat teduh, karena jalanan ini ada di pinggir pepohonan, Milea berlari ke arah pohon rindang, berteduh di bawah sana, meski masih tertetesi air hujan setidaknya rumayan.


Hujan begitu deras, kendaraan yang lalu lalang tampak tidak ada, Milea mulai kedinginan dan tubuhnya menggigil.


Tiba-tiba ponsel milik Milea bunyi, sadar masih mengantongi ponsel Milea langsung bersyukur, tadi kelupaan karena terkejut malah diam diri tidak menghubungi temannya untuk menjemput.


Setelah tahu siapa yang menelpon, Milea langsung mengangkatnya dengan semangat.


"Tuanku, Tuanku tolong aku."


"Aku kecopetan, sepeda motor aku dicuri."

__ADS_1


"Di jalan xx."


Milea langsung mematikan sambungan telepon setelah selesai bicara, berdiam diri di bawah pohon sembari menunggu mobil datang menjemputnya, suara-suara petir memekik telinga, tidak hanya merasa kedinginan, Milea juga merasa ketakutan mendengar suara-suara petir.


Duar ...


Ah! Milea langsung menutup dua telinganya saat kembali mendengar suara petir yang begitu keras, Milea berjongkok menahan tubuhnya yang menggigil, Milea menangis karena takut.


Tiga puluh menit, mobil yang mau menjemput Milea datang, di dalam sana ada Leonardo dan Sekertaris Alan sebagai pengemudi.


Sekertaris Alan baru mau bicara akan menjemput Milea dari pada Leonardo yang basah kehujanan, tapi Leonardo sudah lebih dulu membuka pintu mobil seraya membawa payung berjalan ke arah pohon tempat Milea berteduh.


Duar ...


Suara petir kembali menggelegar sampai menghentikan langkah Leonardo yang juga kaget, Milea masih posisi jongkok menutup dua telinganya dan matanya dengan bibir terus membaca doa-doa.


Mele pasti ketakutan.


Leonardo kembali melanjutkan langkahnya, Milea merasakan tidak ada air lagi yang menetesi tubuhnya, berpikir apa hujan sudah reda tapi suaranya hujan masih ada, Milea membuka mata, sepatu pantofel di depannya yang pertama Milea lihat, sadar itu milik siapa, Milea langsung mendongakkan kepalanya.


"Tuanku." Milea berdiri, Leonardo langsung memeluknya.


Beberapa saat mereka saling memeluk, Milea baru merasa tenang karena pelindungnya sudah datang, Leonardo marah melihat Milea yang tubuhnya basah, Leonardo murka sama penjahat itu.


Kemudian Leonardo mengajak Milea berjalan menuju mobil, Milea masuk lebih dulu kemudian di susul Leonardo.


Leonardo tidak tega melihat Milea yang bajunya basah, dan terlihat menggigil, tadi karena buru-buru tidak kepikiran bawa baju ganti untuk Milea.


Teringat di mobil ini ada dua set jas miliknya sengaja di letakkan di mobil, sewaktu-waktu mau ganti mudah.


"Jangan jalan dulu Alan."


Sekertaris Alan menurut, tapi Milea bingung mengapa dilarang jalan pikirannya.


Leonardo mengambil satu set jas miliknya di belakang dirinya duduk, di gantung di sana.


"Pakailah," ucapnya seraya menyodorkan satu set jas yang masih terbungkus plastik laundry.


Milea menerima tapi bingung gimana cara pakainya, Leonardo yang paham Milea merasa malu, ahirnya buka suara.


"Alan tutup matamu!"


Tapi matamu juga harus ditutup Tuan, mengapa malah lihatin aku, batin Milea seraya tepuk jidat.

__ADS_1


__ADS_2