
Setelah Leonardo pergi, Milea juga ikut pergi, namun mobil yang Milea kendarai bukan menuju pulang, tetapi masih harus kembali ke toko roti.
Dalam perjalanan ke toko roti, Milea menangis sembari menyetir mobil, rasanya itu bahagia tiba-tiba bertemu Leonardo meski terkejut karena pria itu tiba-tiba memeluknya.
Namun tidak Milea pungkiri bahwa di lubuk hatinya yang terdalam ia bahagia diperlakukan romantis di depan umum, hanya saja yang membuat Milea sedih, dirinya takut jika terlalu dalam menerima kebaikan Leonardo akan membuatnya jatuh cinta.
Jatuh cinta adalah kata yang sangat mengerikan bagi Milea, meski saat ini saja sebenarnya ia sudah jatuh cinta sama Leonardo hanya saja masih menyangkal.
Saat tiba di lampu merah, mobil Milea berhenti, di situ Milea menumpahkan air matanya sederas-derasnya.
Orang lain tidak pernah melihat Milea bisa menangis, ternyata di balik wajah yang ceria itu ia juga miliki rasa kerapuhan.
Kamu kenapa si Lea jadi lemah begini, kamu harusnya biasa saja Lea, batin Milea dalam tangisannya.
Setelah lampu berganti warna hijau, Milea kembali melajukan mobilnya, beberapa kemudian mobil Milea sampai di area toko rotinya, karena tadi memang sudah tidak jauh jarak antara lampu merah dengan toko rotinya.
Wajah lesu Milea meski tertutup dengan senyumannya tetap tertangkap Tata yang baru saja jualin roti untuk pembeli.
Ada apa dengan Kak Lea? kenapa terlihat lesu, hah pasti Kak Lea kelelahan, Kak Lea Kak Lea sudah aku bilang kan tadi itu aku saja yang antar, malah Kak Lea ngeyel, batin Tata seraya memperhatikan Milea terus yang saat ini menuju kursi.
"Nindi ... Tata ini pizza nya," ucap Milea yang sudah duduk di kursi dan meletakkan pizza di atas meja.
Nindi dan Tata kemudian mendekat, Tata masih saja terus memperhatikan wajah lelah Milea yang saat ini bersandar di kursi seraya memejamkan matanya.
Tata menyenggol lengan Nindi yang saat ini sedang membuka bungkus pizza, Nindi bertanya melalui dagunya.
"Lihatlah Kak Lea," bisik Tata di telinga Nindi, seketika Nindi melihat Milea dan memperhatikannya.
"Tidak ada masalah dengan Kak Lea," berbisik juga di telinga Tata.
Tata langsung mendesah kasar mendengar jawaban Nindi, baginya Nindi kurang peka kalo sudah ketemu makanan.
Tata ambil kursi tepat di samping Milea dan duduk di sana. "Kak Lea, kalo Kak Lea lelah aku pijitin mau?"
Milea yang tadi memejamkan matanya langsung membuka lebar. "Tidak usah aku tidak lelah, kamu makanlah pizza nya."
Tata mengangguk mengerti, tapi dalam hati Tata masih penasaran, Tata kembali melihat Milea. "Kak Lea, jika mau bercerita apa pun aku siap mendengarkan."
__ADS_1
Milea tersenyum dan menepuk pelan pundak Tata.
Milea melihat jam tangannya, waktu sudah pukul lima sore, harus pulang pikirnya.
"Kalian lanjutkan ya aku harus pulang," ucap Milea seraya berdiri.
"Baik Kak," ucap Tata dan Nindi bersamaan.
Milea keluar dari toko rotinya, klo sore hari begini akan ada banyak pedagang kaki lima yang jualan di area tempat toko rotinya.
Saat mau membuka pintu mobil, Milea melihat penjual bakso goreng, Milea mau beli sudah lama tidak makan begituan.
Setelah berdiri di dekat Abang penjual bakso, Milea memesan dua rasa bakso yaitu goreng dan bakar, masing-masing bakso jumlah lima tusuk.
Tiba-tiba Milea dapat pesan masuk dari Leonardo.
Hah Tuanku kirim pesan, aku diminta segera pulang harus sampai rumah sebelum pukul enam, his dia mah benar-benar suka ngatur-ngatur waktuku, batin Milea ngedumel seraya membalas pesan.
Bakso pesanan Milea sudah jadi, Milea menerimanya kemudian membayar harga bakso tersebut.
Milea segera berjalan menuju mobilnya, dan langsung melajukan mobilnya menuju pulang.
Namun tetap milea angkat dan hanya menjawab ya dan iya apa pun yang pria itu ucapkan.
Sepuluh menit, mobil sampai di rumah utama, Milea segera keluar dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Milea masuk ke dapur lebih dulu, meletakkan bakso goreng yang tadi ia beli, kemudian cuci tangan dan setelah itu langsung berjalan lagi menuju lantai tiga tempat kamarnya berada.
Ada apa sih? kenapa sih? begitulah arti tatapan Milea saat baru masuk kamar disambut tatapan tajam Leonardo.
Dia marah lalu apa salahku? Milea bertanya sendiri dalam hati.
Leonardo menjentikkan jari, Milea mendekat, sebenarnya tidak percaya diri takut bau karena belum mandi, sementara Leonardo sudah wangi jelas terlihat dari bajunya pria itu sudah mandi.
Leonardo menarik hidung Milea. "Mengapa kamu bandel sekali, tadi aku mengatakan kamu segera pulang, tapi apa ini hah!"
Emm ."Sakit, sakit Tuanku."
__ADS_1
Leonardo menjauhkan tangannya, menatap lekat wajah Milea yang saat ini hidungnya jadi merah.
"Aku tadi mampir ke toko sebentar untuk memberikan pizza ke Tata dan Nindi," ucap Milea jujur seraya menundukkan kepala.
Leonardo memegang dagu Milea, membawa wajah Milea untuk menatapnya. "Aku tidak bertanya alasanmu, sekarang mandilah." Mengibaskan tangannya kemudian ambruk di ranjang.
Bibir Milea mengerucut tajam, mengambil handuk kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Satu jam berlalu.
Milea sudah rapih dan juga sedang makan bakso goreng dan bakso bakarnya tadi di kamar sembari nonton TV.
Leonardo tidak ada di dalam kamar, pria itu sedang di ruang kerjanya bersama Pak Ahmad.
Milea asyik nonton TV, sampai tidak terasa bakso yang ia bawa tadi tinggal dua tusuk, tiba-tiba pintu terbuka, Leonardo masuk ke dalam kamar berjalan mendekati Milea.
Milea terbengong saat tiba-tiba Leonardo duduk di sampingnya.
"Makanan apa lagi itu?" tanya Leonardo, pria itu tahu bahwa itu ada bakso, tapi baru lihat bila bakso di campur sambal seperti itu.
Efek hidup sehat tidak pernah makan yang macam-macam, membuat Leonardo tidak mengenali aneka makanan di negeri ini.
"Ini namanya bakso goreng dan bakso bakar," jelas Milea yang memang tinggal dua tusuk.
Leonardo acuh tidak mau peduli lagi, namun tiba-tiba Milea jahil. "Tuanku harus cobain ini, satu bulat saja supaya tahu rasanya."
Tanpa pikir panjang Leonardo membuka mulutnya menerima suapan bakso bakar dari Milea.
Kunyah-kunyah namun makin lama rasanya pedas.
"Ini pedas," ucap Leonardo bibirnya langsung tampak makin merah.
Milea menhan tawa sembari menyerahkan air minum, Leonardo meminum air, namun setelah minum rasa pedasnya masih ada belum hilang juga.
Wajah Leonardo tampak lucu saat kepedesan, Milea tidak bisa nahan tawa lagi.
Hahahah, tawa Milea yang langsung diketekin sama Leonardo. "Ngeselin kamu ya."
__ADS_1
"Ampun Tuan, ampun." Milea masih saja terus tertawa meski kepalanya di ketekin Leonardo, tanpa menyadari keduanya seperti pasangan yang harmonis, saling tertawa bersama.