
Tiba sore hari, Milea membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya, benar-benar lelah dan kepalanya terasa sangat pusing. Hanya untuk sekedar mau mandi saja Milea tidak punya tenaga untuk berjalan, semua sisa tenaganya sudah terkuras habis, mengikuti semua perintah Ibu Alenta.
Ada ya di muka bumi ini, orang kejam seperti dia, jangan sampai aku miliki mertua seperti itu, batin Milea seraya menggelengkan kepalanya.
Dengan kepalanya yang terasa berat, dan tubuh yang terasa sakit semua, ahirnya Milea memaksakan diri untuk mandi, menguatkan diri untuk tidak lemah, karena masih ada pekerjaan yang harus Milea kerjakan, yaitu menyambut Leonardo pulang, melayani pria itu sebelum waktu istirahat malam tiba.
Saat mengguyur tubuhnya dengan air hangat, Milea tersenyum miris, mengingat hidupnya yang sekarang, senang susah dirasakan sendiri, eh! banyak susahnya kok.
Sepuluh menit, Milea sudah kelar mandi, kini berpakaian rapih. Dan setelah itu keluar kamar menuju dapur.
Di dapur saat ini tidak ada siapa-siapa, Milea hanya duduk saja di tempat biasa para pelayan bersantai.
Milea memejamkan matanya, merasakan suhu tubuhnya yang hangat, dan kini sedikit menggigil.
Sepertinya aku meriang, gumam pelan Milea seraya memejamkan matanya. Tiba-tiba Pak Ahmad datang dan menghampiri Milea, lalu mengatakan bila Leonardo sudah pulang.
Milea seketika bangkit dari duduknya, kepalanya yang sakit ia lupakan, segera berjalan cepat mengikuti langkah Pak Ahmad.
Sampai di halaman rumah, pintu mobil sudah dibuka oleh Sekertaris Alan, Leonardo menyembul dari dalam, Milea yang kini berdiri di samping pintu mobil, meraih tas kerja dan jas hitam Leonardo.
Setelah menerima barang milik Leonardo, dan mau melangkah mengikuti langkah Leonardo yang kini sudah berjalan lebih dulu, tiba-tiba pandangan mata Milea berubah gelap, dan setelah itu Milea tidak sadarkan diri.
"Mele!" teriak Leonardo yang barusan menoleh ke belakang tiba-tiba melihat Milea tubuhnya mau ambruk, dengan cepat Leonardo menangkap tubuh Milea sebelum benar-benar jatuh ke lantai.
Saat ini posisi Leonardo berjongkok, dan kelapa Milea berada dalam pangkuannya, saat tanpa sengaja tangan Leonardo menyentuh tangan Milea, seketika merasakan kulit Milea yang panas.
"Alan ... Alan!" teriak Leonardo pada Sekertarisnya, Alan mendekat lalu membantu Leonardo membawa Milea masuk ke dalam.
Milea di letakkan di kursi sofa yang panjang, Pak Ahmad mulai mengompres dan memberi minyak angin, supaya Milea sadar dari pingsannya, dan setelah menunggu sampai lima belas menit, ternyata tidak ada reaksi apa pun. Dan saat Leonardo meletakkan tangannya di kening Milea, kini suhu panasnya semakin tinggi.
Leonardo mengambil termometer yang diletakkan di ketiak Milea, seketika tercengang saat melihat jumlah suhu panas Milea.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Leonardo mengangkat tubuh Milea mengendong Milea ala bridal style. Semua orang di ruang tamu syok seketika melihat Leonardo mau mengangkat Milea sendirian.
Tadi ada tiga pelayan wanita yang membantu Pak Ahmad, saat ini meronta-ronta iri melihat Milea di gendong Tuan Mudanya.
Pak Ahmad juga terkejut, namun sikapnya biasa saja.
Ibu Alenta yang saat ini berdiri di anak tangga, yang paling terkejut saat melihat putranya menggendong Milea.
"Benarkah itu tadi Leon ku, Le-leon ku menggendong wanita sialan itu! I-ini tidak mungkin!" ucapnya menyangkal semua yang barusan dirinya lihat.
Dan tiga pelayan yang tadi langsung bergosip di dapur memberi tahu teman yang lain, dan seketika nama Milea di sebut-sebut oleh semua pelayan wanita di rumah ini.
Leonardo meminta Sekertaris Alan untuk lebih cepat melajukan mobilnya, dan dalam waktu dua puluh menit, mobil sudah sampai di rumah sakit.
Tanpa Sekertaris Alan membuka pintu mobil untuk Leonardo, pria itu sudah membuka lebih dulu, dan langsung membawa Milea masuk ke dalam rumah sakit, dengan menggendongnya lagi.
Setelah Milea di dimasukan ke ruang UGD, Leonardo dan Sekertaris Alan menunggu di luar.
Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui, batin Leonardo, seraya berpikir dan kemudian mengambil benda pipih di saku celananya, lalu menghubungi seseorang.
Di seberang sana, Pak Ahmad menjawab patuh, dan langsung menjalankan perintah Tuan Mudanya.
Dokter yang menangani Milea sudah keluar, Leonardo menanyakan keadaan Milea.
"Demam pasien sangat tinggi, sepertinya sudah merasakan sakit tapi tidak diobati, hal ini tidak boleh terjadi lagi, bisa bahaya," terang dokter menjelaskan.
Leonardo mengangguk mengerti, dan meminta Milea dipindahkan ke ruang rawat VIP, Milea harus mendapatkan tempat dan penanganan terbaik, supaya cepat sembuh.
Saat ini Milea sudah di pindahkan ke ruang rawat, Leonardo yang mau masuk ke dalam untuk melihat Milea, tiba-tiba hp nya bunyi, Leonardo melihat pesan masuk,yang ternyata sebuah video.
Seketika Leonardo marah melihat Vidio itu, rahangnya mengeras dan tangan terkepal, langsung melenggang pergi tidak jadi masuk ke dalam.
__ADS_1
Mengendarai mobil sendiri dengan mengebut, lima belas menit mobil sampai di rumah utama.
Dengan langkah cepat Leonardo masuk ke dalam rumah, tujuannya adalah menemui sang ibu, yang kini Ibu Alenta sedang makan malam.
Brak!
Leonardo menggebrak meja makan, Ibu Alenta seketika terkejut dengan perlakukan Leonardo. Dan belum hilang keterkejutannya kini makin di tambah terkejut dengan pertanyaan Leonardo.
"Apa yang sudah Ibu lakukan dengan Mele!"
Ibu Alenta menggeleng ditanya seperti itu. "Apa maksudmu Leon?" Berdiri dari tempat duduk.
"Tidak usah pura-pura tidak tahu Ibu, Ibu tinggal jawab saja, mengaku bila Ibu yang telah membuat Mele sakit!" suara Leonardo makin tinggi.
Deg!
Ibu Alenta mengepalkan tangannya, menguasai diri untuk tidak terlihat panik, masih berpikir bila Leonardo tahu semuanya karena Milea yang mengadu, jadi Ibu Alenta akan berakting pikirnya.
"Leon, percayalah sama Ibu, Ibu tidak mungkin melakukan hal kotor tersebut."
Leonardo tersenyum kecil seraya melangkah lebih mendekati Ibunya, Ibu Alenta sampai mendelik melihat kemarahan putranya.
"Ingat Ibu, Mile adalah pelayan khusus untuk aku, bagaimana bisa Ibu menyiksanya seolah dia adalah milik Ibu!"
Ibu Alenta tubuhnya langsung bergetar hebat, ini kali pertamanya Leonardo semarah itu padanya.
"Yang berhak memarahi Mele hanya aku! Ingat Bu hanya aku!"
Arghhhh!
"Maafkan Ibu Leon, maafkan Ibu."
__ADS_1
Bersamaan Leonardo bicara penuh penekanan, dan mengusap wajahnya dengan kasar, Ibu Alenta meminta maaf, tapi sepertinya Leonardo benar-benar kesal dengan tingkah ibunya, dan malam itu milih pergi meninggalkan Ibunya di ruang makan, Leonardo kembali lagi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Milea, yang tadi sempat ia tunda karena harus menemui ibunya.
Setelah kepergian Leonardo, Ibu Alenta menangis di dalam kamar, satu yang ia lupakan, adalah rekaman CCTV yang ada di rumah ini, Ibu Alenta memarahi kebodohannya sendiri, melupakan tidak menghapus rekaman CCTV terlebih dahulu sebelum Leonardo mengetahui