
Leonardo melangkah cepat setelah pintu kamar ruang apartemennya di bukakan oleh Sekertaris Alan.
Brukk!
Meletakkan Milea di atas ranjang dengan sedikit keras tanpa sadar, tangan kokohnya kelelahan menggendong Milea dari lobby sampai lantai dua puluh tempat ruang apartemennya berada.
Namun sialnya dua tangan Leonardo saat ini ke tindih tubuh Milea, hingga membuat jarak Leonardo dan Milea begitu intim, dengan tubuh Leonardo yang sedikit menindih Milea, bahkan saat ini hidung mereka saling bersentuhan.
Menatap Milea.
Hening.
Jantung berdebar.
Menggelengkan kepala seraya menarik tangannya perlahan supaya tidak membangunkan Milea yang lagi tidur.
Leonardo duduk di pinggiran ranjang, entah apa yang dipikirkan pria itu yang hanya diam, seraya memijit pelipisnya.
"Tiga puluh menit pelayan datang Tuan." Sekertaris Alan memberitahu yang saat ini berdiri di luar pintu yang masih terbuka.
Leonardo mendongakkan kepalanya saat mendengar suara Sekertaris Alan bicara, Leonardo hanya diam tidak menjawab sembari berdiri keluar kamar, namun tidak ia kunci.
"Kita ke perusahaan sekarang, beritahu pelayan password apartemen saya," bicara tanpa menghentikan langkahnya yang langsung menuju pintu keluar.
"Baik Tuan," jawab Sekertaris Alan yang juga sembari berjalan mengikuti langkah Leonardo, mengunci pintu ruang apartemen, kemudian menyusul Leonardo yang sudah berdiri di dalam lift.
Sampainya di lobby, dua pria yang baru keluar dari dalam lift menjadi pusat perhatian para orang yang ada di lobby, yang saat ini melihat ke arah mereka.
Karyawan receptionist sampai senyum-senyum sendiri entah apa yang membuatnya tersenyum, padahal Leonardo dan Sekertaris Alan memasang wajah dingin.
Dimana pun tempat, pesona mereka berdua selalu merubah orang waras jadi aneh, bila orang normal mana mau senyum-senyum pada orang yang jutek dan angkuh, bahkan ada yang sampai salting hanya karena bertemu mereka berdua tanpa sengaja.
Bila Leonardo saat ini sudah di dalam mobil yang sedang melaju, berbeda dengan Milea yang saat ini berbaring di atas ranjang seraya mengaduh merasa kepala pusing.
Mmm, aku dimana? gumam Milea seraya memegangi kepalanya yang terasa pusing sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Kenapa asing sekali tempat ini? dimana aku? bertanya lagi dalam hatinya seraya mencoba untuk duduk.
Mata Milea terasa berkunang-kunang.
__ADS_1
"Hah! Milea kau pasti sedang mimpi, mana mungkin kau berada di tempat yang bagus ini," ucap Milea yang disusul tawa.
Hahaha!
"Lihatlah kasurnya saja sangat empuk dan lembut seprainya." Milea menyentuh separi tersebut masih disertai tawa kecil. "Dan lihatlah Lea, ruangan ini kosong tidak ada apa pun." Milea melihat sekeliling ruangan.
Hahahah! "Apa aku sudah berada di surga bersama ibu aku, Tuhan?" tanya Milea masih disertai tawa namun matanya menangis.
"Aku ingat betul, bahwa tadi aku tertabrak mobil, jadi di sinilah aku berada sekarang. Ya, aku di surga ..." Milea loncat-loncat kegirangan, sangking asyiknya loncat-loncat di atas kasur yang empuk, tiba-tiba kaki Milea meleset di pinggiran ranjang membuatnya terjatuh ke lantai.
Brukk!
Aww! pekik Milea yang merasakan sakit di sebagian tubuhnya karena Milea jatuh dalam posisi miring.
Milea berusaha duduk, masih merasakan sakit, mengapa sakit gumamnya lagi yang masih berpikir bila dirinya saat ini tengah di surga.
Memastikan lagi, Milea menampar keras pipinya.
Plak!
Aww! " Sakit bodoh!" mengumpat diri sendiri, Milea mundur bersandar di pinggiran ranjang, masih duduk di lantai, tangannya mengusap-usap pipinya yang terasa panas yang baru dirinya tampar.
Tiba-tiba Milea menangis, dengan kepala menunduk seraya meremat ujung bajunya.
"Lea, kamu tidak apa-apa?"
Sebuah pertanyaan yang seketika membuat Milea mendongakkan kepalanya menatap mereka yang baru saja membuka pintu, dan saat ini masih berdiri di ambang pintu.
Bi Sum, Bi Ismi, Bi Parti, gumam Milea dengan rasa sedikit terkejut karena tiba-tiba ada mereka yang datang ke sini.
Eh! Tunggu, jangan bilang aku saat ini berada di ruangan laki-laki aneh itu! batin Milea terkejut sampai matanya melotot, tiga pelayan yang melihat Milea terkejut malah saling tatap dan bingung.
"Bi-bibi kenapa ada di-di sini?" Milea gugup sembari berusaha berdiri, tangannya memegang pinggiran ranjang untuk membantu menopang tubuhnya supaya tidak ambruk saat mendengar kenyataan yang bila diucapkan pelayan itu benar, seperti dugaannya.
"Kami ke sini diminta tuan muda, Lea."
Deg!
Milea langsung syok, Milea menggelengkan kepalanya. "Tidak! aku mau keluar dari sini!" Milea berjalan mau berusaha menerobos tiga orang yang saat ini masih berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
Namun dengan segara tiga pelayan itu menghalangi Milea supaya tidak bisa kabur, karena pesan Tuan Mudanya jangan sampai Milea kabur, dan itu bisa gawat untuk nasib para tiga pelayan itu bila sampai Milea kabur.
Tiga pelayan itu mendorong tubuh Milea untuk masuk ke dalam lagi, Milea memberontak melawan tidak mau, namun karena Milea cuma sendiri dirinya kalah tenaga.
Ahh!
Kreekk!
Tek!
Bersamaan Milea masuk ke dalam karena di dorong, pintu kamar di tutup lalu dikunci dari luar.
Milea hanya bisa diam dan pasrah, air matanya kembali tumpah sebagai saksi ketidakberdayaannya.
Menuju ranjang lagi menangis terisak di sana, Milea memukul-mukul bantal sampai dirinya puas sampai dirinya lelah.
Milea tiba-tiba teringat ponselnya, Milea mencari ponselnya siapa tahu Leonardo menyimpannya.
Dan ternyata benar ponsel milik Milea ada di atas meja, tadi Milea tidak melihat bahkan juga tidak mengingat, karena masih halu bila sudah berada di surga.
"Aku benar-benar stres! ini aja baru mau menikah dengan Tuan Leonardo, bagaimana nanti bila aku sudah menjadi istrinya!" geram Milea sampai meremat ponsel yang sudah berada di tangannya.
"Ah! Lea bodoh! bisa hancur bila hp kau remat seperti itu," ucapnya setelah sadar dengan apa yang dilakukannya sendiri.
Milea mulai mencari musik rock andalannya yang selalu Milea putar bila sedang stres, setelah ketemu musiknya Milea langsung memutarnya dengan volume tinggi.
Suara musik rock mulai terdengar, Milea meletakkan hp itu di atas meja lagi, lalu dirinya mulai berjoget sesuka hati.
Na na na hei hei hei.
Na na na hei hei hei.
Suara Milea sembari berjoget heboh mengikuti musik rock.
Semakin kencang musiknya, semakin heboh pula Milea berjoget.
Hahahah! Tawa Milea yang merasa senang, rasa pusingnya sedikit terobati, masih sembari berjoget heboh.
Bergoyang-goyang yang entah goyang apa namanya, mungkin namanya goyangnya orang lagi stres.
__ADS_1
Sementara Leonardo yang saat ini lagi duduk di mobil, mobilnya sedang berhenti di Pertamina mengisi bahan bakar minyak, Leonardo terkekeh melihat rekaman CCTV di hp nya, yang terhubung dengan CCTV di kamar apartemennya, kini Leonardo bisa melihat yang di lakukan Milea di sana yang sedang berjoget.
Dasar orang gila! umpatnya dalam hati, tapi matanya masih terus melihat Milea yang berjoget dengan bibir sedikit menyungging senyum.