
Pagi setelah Leonardo berangkat kerja, Milea tiduran di atas ranjang, merasa kurang enak badan, bahkan dua menit lalu Milea habis memuntahkan isi perutnya. Dan saat ini baru mau memejamkan matanya merasakan perutnya kembali diaduk-aduk.
Milea kembali bangun dan segera berlari ke kamar mandi. Milea kembali memuntahkan isi perutnya tapi yang kali ini cuma cairan.
Hah Milea langsung merasa lemas, kepalanya juga terasa pening, Milea mau berjalan keluar namun kembali merasakan perutnya yang bergejolak, Milea kembali lagi ke dalam dan muntah lagi.
Milea ahirnya menunggu beberapa saat berdiam diri di kamar mandi depan wastafel, setelah dirasa mendingan dan tidak mual lagi, Milea keluar dari dalam sana, Milea berjalan menuju ranjang.
Hah Milea duduk di pinggiran ranjang yang kini merasakan tubuhnya sangat lemas, matanya juga terasa berat, Milea seperti ingat sesuatu dan segera mengeceknya.
Milea mengambil hp nya membuka aplikasi kalender, Milea melihat tgl terakhir datang bulan, setelah Milea hitung ternyata sudah terlambat dua Minggu.
Apa aku? Tapi masa iya, batin Milea yang masih merasa bimbang.
Milea meletakkan hp nya lagi, kemudian Milea berjalan keluar kamar mau membuat teh hangat, tubuhnya terasa lemas Milea harus minum teh hangat supaya tidak lemas lagi, karena baru saja sarapan pagi dan belum merasa lapar.
Saat menuruni anak tangga, Milea berjalan dengan hati-hati sembari berpegangan pinggiran tangga.
Setelah sampai di lantai satu Milea bernafas lega, ahirnya selamat juga batin Milea. Wanita itu melanjutkan jalannya menuju dapur.
Sampainya di dapur Milea beneran membuat teh hangat, namun setelah teh hangat jadi Milea tinggal mau ambil air minum di dalam lemari es.
Saat tangan Milea memegang handle pintu lemari es tiba-tiba merasakan kepalanya sangat pusing sampai pandangannya berkunang-kunang dan di detik berikutnya Milea ambruk ke lantai dengan tidak sadarkan diri.
"Lea ..." teriak Ibu Alenta yang kemudian menghampiri Milea yang tak berdaya di lantai.
Pelayan yang mendengar suara teriakan Ibu Alenta ikut mendekat, karena mereka wanita ahirnya memanggil pelayan pria. Untungnya bertemu Pak Ahmad. Milea segera dibawa masuk ke dalam kamar tamu yang ada di lantai satu.
Tuan muda maaf bila saya membopong istri Anda, karena keadaan darurat, batin Pak Ahmad yang merasa tidak enak dengan Leonardo.
Dua pelayan membantu Ibu Alenta untuk membuat Milea sadar diri, tidak lama kemudian Milea sadar, namun wanita itu terlihat begitu lemas, bahkan hanya sekedar bicara tampak berat.
"Nyonya sebaiknya panggil dokter untuk mengecek keadaan Nona Lea," usul salah satu pelayan yang membantu.
__ADS_1
Ibu Alenta mengikuti saran pelayannya itu, yang kemudian langsung menghubungi dokter Arman.
Setelah satu jam menunggu dokter Arman pun ahirnya sampai.
Dokter Arman kini sudah masuk ke dalam kamar melihat Milea yang wajahnya tampak pucat. Dokter Arman memulai pemeriksaannya, dokter Arman seperti menemukan sesuatu, dan untuk memastikan semuanya Dokter Arman meminta Milea untuk tes urin melalui tes kehamilan.
"Saya harus melakukannya sekarang?" tanya polos Milea, yang saat ini dalam posisi duduk, tapi tubuhnya merasa lemas rasanya enggan mau berjalan.
Dokter Arman menghela nafas panjang menghadapi istri Leonardo yang satu ini harus ekstra sabar, eh! kok yang satu ini memang Leonardo punya istri berapa pikirnya setelah sadar salah bicara dalam hati.
Ahirnya Milea menuruti kemauan dokter Arman yang kini berjalan ke kamar mandi dengan dibantu dua pelayan.
Setelah beberapa saat kemudian Milea sudah selesai, kini keluar dari dalam kamar mandi, Milea belum melihat hasilnya namun memberikan tes kehamilan itu ke tangan pelayan, Milea takut tes kehamilan jatuh lalu patah nanti bisa dimarahin dokter Arman pikirnya.
"bagaimana hasilnya?" tanya Dokter Arman saat melihat Milea sudah kembali yang kini mendekat ke ranjang.
Milea tidak menjawab hanya menunjuk tes kehamilan melalui dagunya yang berada di tangan pelayannya.
Hah lagi-lagi dokter Arman menghela nafas panjang, bagaimana bisa tes kehamilannya malah dikasih pelayan, benar-benar unik istri Leonardo pikirnya.
Selesai bicara pelayan itu langsung melongo sadar akan ucapnya yang berkata positif pada benda tes kehamilan milik Milea, yang itu artinya tuan muda kecil akan hadir batinnya masih dalam keterkejutannya.
"Anda hamil Nona, selamat Anda hamil," ucap dokter Arman dengan tersenyum, kabar baik ini pasti akan membuat Leonardo bahagia batinnya.
"Hamil ... Saya," tunjuk Milea pada diri sendiri.
Dokter Arman mengangguk.
Milea meneteskan air mata bahagia, Milea sungguh terharu dengan kabar ini, tidak menyangka sebentar lagi akan menjadi Ibu, tangan Milea menyentuh perutnya yang masih rata itu sembari mengusapnya perlahan.
Dokter Arman keluar dari dalam kamar, di ruang tengah bertemu Ibu Alenta yang duduk di kursi sofa.
Ibu Alenta langsung berdiri saat melihat Dokter Arman keluar dari dalam sana.
__ADS_1
"Dokter bagaimana?"
"Selamat Nyonya sebentar lagi Anda akan memiliki seorang cucu."
Hah! Ibu Alenta langsung terkejut mendengar penjelasan dokter Arman. Cucu, satu kata itu seperti terdengar berulang-ulang di telinganya.
"Jika begitu saya pamit Nyonya."
Ibu Alenta tidak menyahuti ucapan dokter Arman, yang kini langsung kembali terduduk lesu di sofa.
Milea hamil anak Leon, itu artinya aku akan menjadi Nenek, ah aku tidak menyangka hal ini akan segera terjadi secepat ini, batin Ibu Alenta dengan air mata menetes.
Malam harinya.
Leonardo baru pulang dari dinas, tadi pagi memang pagi-pagi sekali Leonardo berangkat kerja karena ada dinas di kota sebelah.
Dan sekarang pukul sepuluh malam Leonardo baru sampai rumah, tadi siang Leonardo mendapat telepon dari ibunya yang mengatakan Milea pingsan, juga menjelaskan bahwa Milea sedang hamil.
Leonardo bahagia saat mendengar kabar kehamilan Milea, hanya saja siang tadi belum bisa langsung pulang, andai tidak di luar kota mungkin Leonardo sudah pulang dan langsung memeluk Milea.
Saat ini Leonardo yang baru masuk ke dalam kamar, melihat Milea yang sedang tidur dengan mata berkaca-kaca.
Milea tidur tidak menggunakan selimut, Leonardo menyibak piyama tidur Milea kemudian mencium perut Milea yang masih rata.
Milea bangun saat merasakan bibir basah mengecup perutnya. Ternyata Leonardo sudah pulang.
Milea tersenyum, Leonardo menundukkan wajahnya menatap dekat wajah senyum istrinya.
"Aku hamil," ucap Milea yang kini masih merasakan tangan Leonardo mengusap perutnya yang masih rata.
Leonardo memiringkan wajahnya, kemudian mencium bibir Milea, keduanya berbagi bahagia melalui ciuman bibir yang lembut.
Lidah mereka saling membelit dan menyesap di dalam sana, jemari Leonardo merayap di leher Milea, wanita itu menikmati sentuhan suaminya.
__ADS_1
Leonardo terus mencium bibir Milea tanpa mau menyudahi, sekarang Milea sudah bisa berciuman lebih lama, Milea juga membalas ciuman bibir itu. Dan malam ini keduanya kembali merasakan penyatuan lagi.