
Leonardo membuka pintu kamar, menutupnya kembali kemudian berjalan masuk, perhatiannya langsung tertuju pada sosok wanita yang saat ini sedang tiduran tengkurap di atas sofa.
"Kamu kenapa?" tanya Leonardo yang keheranan melihat tingkah Milea yang tidak biasanya tidur seperti itu.
"Pantatku sakit jadi aku tidurnya tengkurap," jawab Milea seraya sedikit mengangkat wajahnya supaya suaranya jelas.
Leonardo mengernyitkan keningnya masih belum paham maksud Milea, sakit pantat sakit pikir Leonardo, kemudian meletakkan tangannya di pantat Milea.
"Tuan mau apa!" tanya Milea dengan suara meninggi, tiba-tiba merasakan tangan Leonardo menyentuh pantatnya.
Gerakan Leonardo terhenti. "Mau memeriksanya."
Ha! memeriksa? lalu dia mau menurunkan celana aku gitu, ah tidak-tidak! batin Milea yang ketakutan.
Milea langsung menghentikan tangan Leonardo yang mau menurunkan celananya. "Jangan Tuan, tidak usah diperiksa biarkan saja."
"Tidak aku akan memeriksanya," kekeh Leonardo karena dalam hatinya khawatir bila terjadi sesuatu yang buruk dengan Milea, Leonardo tahu bila Milea bicara tidak apa-apa karena pura-pura, Leonardo mau memeriksanya dan memastikan baik-baik saja.
Waduh ini bisa gawat! gawat ini, batin Milea yang semakin panik.
"Tuan, beneran Tuan tidak usah." Milea masih berusaha menolak, namun sepertinya sia-sia kini tangan Leonardo mulai mau menarik turun celana Milea, namun tangannya yang menahan punggung Milea supaya tidak balik badan, tanpa sengaja menyibak ke atas baju Milea, hingga kini menampakkan sedikit punggung Milea.
"Tuan ... beneran Tuan tidak perlu."
"Aku akan memeriksanya," ucap Leonardo seraya melihat kepala Milea, namun tiba-tiba perhatiannya teralihkan saat melihat punggung Milea yang ada bekas jahitan.
Leonardo terkejut seraya memegang bekas jahitan di punggung Milea. "Ini sakit! kamu pernah ngapain," suara Leonardo terdengar panik.
Milea menghela nafas panjang, pertanyaan Leonardo jadi mengingatkan Milea dengan kejadian di masa lalunya.
"Dulu aku pernah nakal, waktu aku bermain aku jatuh ke belakang, dan di belakang aku ada benda tajam jadi mengenai punggung aku."
"Lah untung punggung kamu tidak terpotong jadi dua," jawab Leonardo yang langsung membuat Milea tertawa.
"Tuan ah mengapa bicara seram begitu?"
Leonardo terkekeh kemudian menutup kembali punggung Milea, Leonardo meminta Milea untuk duduk, niatnya mau memeriksa pantat tidak jadi sudah lupa dirinya.
Milea saat ini duduk, Leonardo juga duduk di sofa yang sama dengan Milea, Milea senyum-senyum malu sehabis cerita yang barusan.
"Besok pagi aku akan mengundang dokter Arman."
"Untuk?" tanya Milea mendadak penasaran karena Leonardo mau meminta dokter itu lagi datang ke rumah.
__ADS_1
"Untuk memeriksa pantat kamu."
Hah, ternyata dia masih ingat masalah pantat, kenapa masalah pantat sampai menjadi sejauh ini sih.
"Tidak Tuan, tidak perlu." Milea menggelengkan kepala.
Leonardo menangkup wajah Milea, menatapnya dengan intens. "Harus mau."
Milea menggeleng cepat. "Tidak, tidak perlu-."
Mmm.
Bibir Milea di bungkam dengan bibir Leonardo membuat Milea menghentikan ucapannya
Milea hanyut dalam ciuman Leonardo yang terasa begitu lembut, yang tadinya menolak kini mulai menerima dan menikmati.
Leonardo menyudahi ciumannya kini melihat bibir Milea yang jadi bengkak karena ulahnya, Leonardo mengusap bibirnya Milea dengan ibu jarinya, Milea hanya diam merasakan sesuatu yang aneh dalam dadanya.
Leonardo membawa Milea menuju ranjang, Milea menurut jalan begitu saja seolah terhipnotis, melakukannya tanpa protes.
"Tidurlah," ucap Leonardo setelah membaringkan Milea di atas ranjang, mencium sekilas bibir dan kening Milea, kemudian Leonardo pergi dari dalam kamar.
Milea menatap punggung Leonardo yang berjalan keluar kamar, tidak lama kemudian Milea memejamkan matanya.
Keesokan paginya.
"Dokter Arman," jawab Leonardo yang tidak ingin dibantah, karena dokter Arman adalah dokter keluarganya, dan bila harus meminta tolong dokter wanita, Leonardo belum bisa percaya sepenuhnya.
"Aku maunya dokter wanita."
"Dokter Arman."
"Dokter wanita."
"Dokter Arman."
"Dokter wanita ...."
"Dokter Arman ...."
Milea dan Leonardo sama-sama bersungut duduk di pinggiran ranjang, sama-sama saling membuang muka.
Lucunya.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang bersiaplah."
Leonardo ahirnya memilih mengikuti kemauan Milea, dalam hati Milea senang, Leonardo keluar kamar lebih dulu, meninggalkan Milea yang akan bersiap.
Beberapa saat kemudian, Milea sudah tiba di halaman, mereka berdua segera berangkat ke rumah sakit.
Tiga puluh menit, mobil yang membawa mereka sudah sampai di rumah sakit, Leonardo dan Milea segera masuk ke dalam.
Mereka menuju ruang pemeriksaan, tidak lama kemudian seorang dokter cantik masuk ke dalam.
Dokter Yasmine, nama di tanda pengennya.
Cantik seperti wanita Korea, batin Milea yang mengagumi kecantikan dokter tersebut.
"Diperiksa dulu ya, Nyonya?" suaranya begitu lembut, Milea patuh.
Sebenarnya setelah diperiksa tidak ada masalah yang begitu membahayakan, mungkin karena jatuh yang begitu keras hingga rasa kramnya itu tidak bisa langsung hilang.
Dokter Yasmine menjelaskan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Milea mengangguk paham.
Leonardo yang juga duduk di ruangan tersebut ikut bicara, "Dokter yakin, tapi aku tidak yakin."
Dokter Yasmine dan Milea sama-sama menghela nafas panjang, memang dokter bisa salah pikir Milea.
Dokter Yasmine kembali menjelaskan pada Leonardo bahwa memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan, akan segera sembuh setelah meminum obat yang diberikan dokter.
Ahirnya Leonardo berusaha percaya, walau sebenarnya belum yakin.
Apa aku saja ya? yang memeriksa pantat Mele, aku penasaran juga khawatir, batin Leonardo, yang entah beneran khawatir atau memang miliki maksud terselubung.
Milea dan Leonardo sudah bersiap untuk pulang, kini mereka sedang sama-sama berjalan menuju tempat penebus obat, sepanjang mereka berjalan Leonardo menggenggam tangan Milea.
Jangan ditanya seperti apa wajah Milea sekarang, wanita itu tersenyum-senyum senang tangannya di genggam Leonardo, tidak menolak dan tetap membiarkan saja, seolah juga ingin pamer ini lho suamiku yang tampan.
Setelah Leonardo menebus obat untuk Milea, mereka berdua kembali berjalan menuju keluar, wanita yang berdiri di ujung sana, terus memperhatikan Leonardo, mengikuti Leonardo karena rasa penasaran memastikan Leonardo atau bukan.
Begitu yakin bila pria itu adalah Leonardo, saat Leonardo sedikit menoleh setelah menutup pintu mobil setelah Milea masuk ke dalam.
"Leonardo," ucap wanita itu dengan tatapan tidak percaya.
Kenapa Leonardo bersama wanita lain, bukankah Leonardo masih kekasih Kharisma, dua hari lalu Kharisma bercerita akan kembali ke Indonesia mau menanyakan keseriusan Leonardo, tapi tadi Leonardo?
Wanita itu tampak bingung dengan segala pemikirannya, terus melihat mobil Leonardo yang berjalan semakin menjauh.
__ADS_1
"Hah, aku harus kabarin Kharisma, iya dia harus tahu semuanya, aku tidak mau sahabat aku dikhianati."
Setelah bicara seperti itu wanita itu langsung menghubungi nomor Kharisma, namun sampai tiga kali panggilan telepon juga belum diangkat.