Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 40. Datang bulan. (menstruasi)


__ADS_3

Milea saat ini sedang duduk sembari menulis laporan bulanan, tiba-tiba Milea merasakan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, Milea menghentikan menulisnya, menunggu sejenak seperti merasa kepalanya pusing, tidak lama kemudian Milea merasa mual-mual.


Huekk! Huekk!


Milea langsung berlari menuju kamar mandi, Milea memuntahkan isi perutnya seraya memegangi perutnya yang ada rasa nyeri-nyeri tidak nyaman.


Keluar dari dalam kamar mandi, Milea dalam keadaan sangat lemas, tiba-tiba imunnya turun drastis, berjalan sedikit sempoyongan,Tata yang melihatnya langsung menghampiri Milea, memapah Milea dan membantu mengantar ke lantai dua tempat kamar istirahat di ruko ini.


"Tata bantu kasih minyak angin ya Kak Lea," ucap Tata setelah keduanya sampai di dalam kamar, dan Milea sudah berbaring di atas ranjang dengan posisi meringkuk menahan nyeri di perut.


Tata mengoleskan minyak angin di perut Milea, Milea menerimanya tidak menolak, Tata tidak merasa panik karena ini bukan yang pertama kali melihat Milea seperti ini.


"Kak Lea mau apa? mau teh hangat?" Tata menatap wajah Milea yang tampak pucat.


"Pem-pembalut belikan saya pembalut," jawab Milea dengan mata terpejam, Tata tahu bila saat ini Milea sedang menahan sakit di perutnya, tanpa bertanya lagi Tata langsung pergi ke minimarket untuk membeli pembalut.


Namun sebelum Tata keluar dari toko roti, tiba-tiba Nindi memanggilnya. Tata menoleh dengan malas.


"Sekalian dong sekalian."


"Apa?" jawab malas Tata seraya menghela nafas panjang.


"Silverqueen," ucap Nindi sembari cengengesan. Tata mendengarnya langsung menghela nafas kasar sebelum ahirnya melanjutkan langkahnya.


Tidak butuh waktu lama, Tata langsung mengambil apa yang mau dibeli saja, pembalut ukuran 29 cm yang anti bocor anti geser nyaman seharian, mengambil juga Silverqueen, setelah semua di dapat Tata langsung membayar tagihannya. Dan setelah itu segera kembali ke toko.


Di lantai satu tidak bertemu Nindi, Tata langsung melanjutkan langkahnya ke lantai dua, ternyata Nindi ada di sana, saat ini sedang ngerokin punggung Milea.


Tata meletakkan pembalut di meja, sebelahnya ada teh hangat yang bekasnya sudah diminum, Tata turun ke bawah lagi untuk menjaga toko roti.


Di kamar ini hanya Nindi dan Milea, beberapa garis hasil kerokan di punggung Milea sangat merah warnanya, selain karena lagi menstruasi ternyata Milea juga masuk angin.


"Apa Kak Lea tidak sarapan tadi pagi?" tanya Nindi sembari ngerokin, menengok ke depan ingin melihat wajah Milea.

__ADS_1


"Sarapan juga," jawab Milea dengan suara lirih, Nindi terus melanjutkan ngerokinnya, seluruh punggung Milea dikerokin, sampai belakang lengan tangan juga leher, semua merah gelap hasilnya.


Setelah selesai, Nindi membaurkan minyak angin ke punggung Milea, kemudian Nindi memijit punggung Milea, dari leher turun ke bahu turun ke punggung pindah ke lengan, Milea sudah merasa sedikit baikan.


Kemudian Nindi keluar dari ruangan tersebut, Milea dengan langkah pelan menuju kamar mandi, menggunakan pembalut, setelah kembali ke ranjang, Milea istirahat di sana.


Seharian ini Milea tidak bisa ikut membantu jualan rotinya, sampai tiba sore hari Milea harus pulang, tubuhnya masih teras lemas, kali ini Milea pulang menggunakan taksi online.


Di dalam taksi perjalanan pulang Milea tertidur, baru bangun setelah taksi yang ditumpangi sampai di depan gerbang rumah utama.


Setelah membayar tagihannya, Milea langsung menyembul keluar, Satpam langsung membukakan pintu gerbang setelah tahu siapa yang datang.


Sampainya di dalam kamar, Milea berbaring dulu di kursi sofa, untung saja saat pulang tidak bertemu Ibu Alenta, jadi Milea bisa mengumpulkan tenaganya lagi, supaya tidak lemas.


Ternyata Milea malah ketiduran, dan baru bangun setelah jarum jam menunjuk pukul tuju malam, Milea segera mandi untuk membersihkan diri menggunakan air hangat.


Sepuluh menit Milea sudah selesai mandi, biasnya Milea langsung menggunakan baju ganti, tapi tadi Milea lupa membawa pakaian ganti, Milea keluar dengan menggunakan handuk yang mampu menutup tubuhnya dari dada sampai atas lutut.


Deg!


Leonardo menatap Milea tidak berkedip, ada sesuatu yang menarik perhatiannya, Milea takut tatapan Leonardo seperti ada maunya, Milea mundur sampai membentur pintu kamar mandi, saat melihat Leonardo mendekatinya.


Dia mau apa sih! sana pergi! pergi! teriak batin Milea, kepalanya menunduk tidak berani mengangkat kepalanya, dan semakin mencium aroma parfum Leonardo bertanda pria itu kini sudah berdiri tepat di depannya.


Garis-garis merah di leher Milea, Leonardo penasaran ingin memastikannya, Leonardo memegang dagu Milea, kini terlihat jelas garis merah itu, Milea belum mengerti apa yang dilakukan Leonardo, tanpa sengaja Leonardo sedikit menggeser tubuh Milea, kini matanya langsung terbelalak saat melihat garis merah di punggung Milea begitu banyak, walau sebagian tertutup handuk.


Leonardo membalikkan badan Milea untuk menghadapnya dan menatapnya. "Itu apa! kenapa tubuhmu banyak merah-merah, katakan sama aku siapa yang sudah berani memukul kamu!"


Milea sudah tegang saat Leonardo tiba-tiba panik, tapi setelah mendengar ucapan pria itu yang mengira Milea dipukuli orang, Milea langsung menghela nafas panjang seraya ingin memukul kepala Leonardo supaya tidak jauh dalam berpikir.


Bagaimana bisa garis kerokan di samakan dengan pukulan, apa matanya tidak bisa membedakan pikir Milea yang jadi gemas sendiri.


"Kenapa kamu diam!" Leonardo mengguncang tubuh Milea saat gadis itu hanya diam saja.

__ADS_1


Idih malah bentak-bentak aku!


"Lepasin Tuan aku mau pakai baju," ucap Milea dengan suaranya yang pelan, Leonardo makin penasaran saat Milea malah mengalihkan pertanyaannya.


"Kamu mau mencoba menutupi siapa pelaku yang memukulmu!"


Aaaaa! Tun Leonardo kenapa Anda masih berpikiran jauh sih, itu garis kerokan bukan hasil pukulan.


"Tuan, ini adalah garis kerokan bukan garis pukulan," jelas Milea, Leonardo membalikan badan Milea melihat punggung Milea lagi.


"Apa ini tidak sakit?" Leonardo menyentuh salah satu garis merah di punggung Milea.


Milea menggeleng. "Aku mau pakai baju Tuan."


Dua kali mendengar Milea mau pakai baju, ahirnya Leonardo membiarkan Milea pergi ke ruang ganti.


Pukulan, kerokan. apa sih bedanya pasti itu sakit, gumam Leonardo, masih menunggu Milea selesai ganti baju.


Setelah Milea memakai baju, keluar dari ruang ganti, Eh! kenapa dia masih di sana? apa yang sedang dilakukannya pikirnya.


Dia berjalan mendekati aku lagi, batin Milea tiba-tiba panik lagi. Leonardo menarik Melia membawa Milea untuk menyuruh wanita itu tidur istirahat di atas ranjangnya.


Hah, mengapa dia memintaku tidur di sini, jangan-jangan malam itu, Milea tidak bisa melanjutkan kata-katanya dalam hati, tiba-tiba diam mematung, seraya memperhatikan Leonardo menarik selimut sampai batas lehernya, Milea hanya diam pikirannya berkelana, menduga-duga apa mungkin apa mungkin.


Dan semakin bingung Milea saat Leonardo mengusap kepalanya, wajah pria itu ada di atas wajahnya. "Tidurlah di sini, nanti malam aku kan meminta pelayan untuk mengantar makanan, setelah ini aku akan pergi ada pertemuan dengan klien di luar."


Selesai bicara Leonardo langsung keluar, tadi masuk kamar hanya mau mengambil berkas penting, Milea masih belum kembali dari rasa keterkejutannya.


Perubahan sikap Leonardo malah membuat Milea menggigil karena sangking terkejutnya.


...****************...


__ADS_1


Sekarang hari Senin, bolehnya minta vote nya kak💖 bantu karya author populer kak 💖💖


__ADS_2