Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 88. Pemain musik biola.


__ADS_3

Milea saat ini sedang berdandan di depan cermin, tadinya mau Leonardo ajak ke salon tapi Milea tidak mau, memilih dandan sendiri.


Leonardo yang sudah rapih menggunakan setelan jas warna silver serta rambutnya yang disisir rapi membuat penampilannya semakin rupawan.


Milea berdiri setelah selesai bermake-up. "Tuanku, apa aku sudah cantik?" tanya Milea sembari melihat hasil make-upnya dan gaun yang Milea pakai. Gaun yang baru sore tadi Leonardo belikan.


Milea jadi malu menanyakan apakah dirinya cantik pada Leonardo.


Leonardo mendekati Milea memeluk Milea dari belakang. "Mau seperti apa pun penampilan kamu, kau tetap cantik bagiku."


Aaaa, Milea berasa mau terbang melayang mendengar ucapan manis Leonardo.


Kemudian Leonardo mengajak Milea keluar dari kamar, sembari menggenggam tangan Milea berjalan keluar turun dari tangga menuju lantai satu dan berjalan ke halaman rumah.


Malam ini Leonardo mengendarai mobilnya sendiri tidak bersama Sekertaris Alan, tidak mau momen berduaan dengan Milea kacau apa bila ada Sekertaris Alan, padahal sejak kapan sekertaris Alan akan menganggu. Hanya alasan Leonardo saja.


Setelah Leonardo menjalankan mobilnya di jalan raya, Milea merasa Leonardo dalam mengendarai mobil tidak seperti biasanya, sangat lambat.


"Tuanku, mengapa jalan mobilnya lambat sekali?" tanya Milea yang merasa tidak sabaran dengan cara Leonardo menyetir, ingin rasanya dirinya saja yang menyetir.


"Di depan macet," jawab asal Leonardo.


Milea langsung menatap depan yang jelas-jelas jalan sangat lancar, bahkan jalan di depan bisa diisi sampai lima mobil tapi sedang kosong, itu artinya tidak macet, macet dari mana pikir Milea.


"Tuanku, nanti kita bisa telat," protes Milea lagi yang tidak paham kode Leonardo yang sengaja melambatkan laju mobilnya supaya lama dalam berduaan di dalam mobil bersama Milea.


"Jaga keselamatan," jawab Leonardo, yang langsung membuat Milea diam meski dalam hati gemas dengan laju mobil yang begitu lambat.


Hah sampai sana yang ada acara sudah bubar, batin lesu Milea sembari bersandar.


Setelah menempuh perjalanan empat puluh menit ahirnya mobil pun sampai di tempat tujuan, yang seharusnya mobil sudah sampai dua puluh menit yang lalu.


Saat baru saja keluar mobil Milea menghela nafas panjang, mau marah tapi yang berniat ulah sedang tertawa terhadapnya.


Leonardo menghampiri Milea merangkul pundak Milea mengajak wanita itu untuk berjalan bersama memasuki ballroom hotel.

__ADS_1


Sampainya di dalam sana, Leonardo langsung disambut spesial oleh para teman kolega bisnisnya.


Leonardo kemudian mengajak Milea untuk mencari kursi tempat duduk, Leonardo membawa Milea duduk di dekat minuman.


Leonardo mengambilkan satu gelas minuman untuk Milea yang bebas alkohol. Leonardo dan Milea bersulang hingga menimbulkan dentingan gelas.


Yang tadinya Milea ngambek kini sudah tidak lagi, Leonardo tidak membiarkan Milea sendirian, Leonardo duduk di sebelah Milea, tidak peduli teman kolega bisnisnya yang ingin mengajaknya bicara, tapi Leonardo acuh lebih mentingin Milea.


"Tuanku, lihatlah sepertinya mereka ingin bicara dengan Tuan," ucap Milea saat menangkap seseorang yang ingin mendekati Leonardo tapi terlihat tidak jadi.


"Biarkan saja sudah biasa," jawab Leonardo sembari merapihkan anak rambut Milea yang sedikit berantakan.


Milea diam tidak memberikan komentar lagi, tidak mau ikut campur urusan Leonardo, malahan saat ini Milea senang karena ditemani Leonardo, karena sudah dapat dipastikan apa bila pria itu kumpul dengan para teman kolega bisnisnya, Milea akan sendirian.


Tiga puluh menit kemudian.


Saatnya pameran musik biola dimainkan, semua orang sudah mengambil posisi duduk santai sembari menikmati hidangan.


Satu gesekan biola mulai dimainkan hingga kedua dan ketiga sampai menimbulkan nada yang indah.


Deg.


Kharisma, apa kah yang memainkan ini adalah Kharisma? batin Leonardo bertanya-tanya namun kepalanya menggeleng, merasa tidak mungkin apa bila itu adalah Kharisma, karena seingatnya Kharisma berada di luar negeri.


Sementara Milea yang sangat menyukai musik biola begitu menikmati sembari menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan.


"Kamu happy?" tanya Leonardo pada Milea saat melihat istrinya tersenyum begitu menikmati nada musik.


"Aku sangat menyukai musik biola Tuanku," jawab Milea yang langsung mendapat pelukan Leonardo.


Milea bingung saat tiba-tiba Leonardo memeluknya. "Tuanku kenapa?"


"Aku sangat mencintaimu, kau begitu unik, lucu dan menggemaskan," jawab Leonardo yang kemudian menggigit kecil telinga Milea, namun tidak lama kemudian Milea mencubit pinggang Leonardo, keduanya jadi tertawa bersama.


Apa yang Leonardo lakukan barusan adalah untuk mengalihkan perasaannya yang tiba-tiba mendadak tidak enak.

__ADS_1


"Bagaimana jika kita pulang sekarang?"


"Tidak Tuanku, aku masih mau menunggu musik biola selesai, lihatlah ke sana." Milea mengajak arah mata Leonardo melihat ke arah seseorang yang memainkan musik biola.


Dilihat dari rambutnya yang panjang itu sudah jelas pasti wanita, namun wajahnya tidak begitu jelas karena lampu di sana sengaja menyala temaram.


Dan bersamaan selesainya memainkan musik Biola lampu berubah terang dan seketika wajah seseorang yang memainkan musik biola terlihat jelas.


Leonardo masih terus menatap lurus sampai matanya bertemu dengan orang yang memainkan musik biola itu.


Leonardo terkejut, apa yang barusan ia pikirkan ternyata jadi kenyataan, sangking tidak percayanya sampai membuat Leonardo tidak mendengar ucapan Milea yang memanggilnya.


"Tuanku, Tuanku ..." Milea menggoyangkan bahu Leonardo seketika pria itu sadar dari keterkejutannya.


"Apa? Mau pulang sekarang?"


Milea mengangguk karena yang ditunggu sudah selesai, Leonardo dan Milea kemudian berdiri mau berjalan pergi.


Namun tiba-tiba lengan Leonardo ditahan seseorang, Milea yang merasa langkah kaki Leonardo terhenti jadi menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, niat hati mau bertanya pada Leonardo namun malah melihat wanita lain yang saat ini memegang lengan Leonardo.


Wanita itu beralih menatap Milea, dalam hatinya tidak suka melihat tangan Leonardo memegang tangan Milea.


Jadi ini istri Leonardo, sungguh masih cantikan aku, batin wanita itu bicara sengit.


Wanita itu tersenyum ke arah Milea kemudian mengulurkan tangannya. "Nama aku adalah Kharisma."


Milea menerima jabatan tangan itu. "Milea."


"Senang bertemu dengan Anda Nona Milea," ucap Kharisma lagi yang entah apa tujuannya menyapa Milea sebaik itu.


"Mele ayo pulang." Leonardo siap mau berjalan mengandeng tangan Milea, namun lagi-lagi ditahan oleh Kharisma.


"Leon, kau tidak ingin bicara dengan ku lebih dulu?" tanya lembut Kharisma disertai tatapan memohon.


Leonardo melepas tangan Kharisma yang memegang lengannya. "Ada wanita yang menjadi prioritasku saat ini, dia sudah mengantuk dan aku harus pulang sekarang."

__ADS_1


Leonardo bicara dingin tanpa pedulikan Kharisma lagi, Leonardo menggandeng tangan Milea untuk pergi dari tempat tersebut.


Sudut mata Kharisma langsung mengeluarkan cairan bening saat melihat Leonardo lebih milih wanita lain dibandingkan dirinya.


__ADS_2