Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 84. Belum mendapat restu ibu.


__ADS_3

Pagi hari setelah Milea dan Leonardo selesai mandi dan juga sudah berpakaian rapi, keduanya sama-sama keluar kamar turun ke bawah dengan saling berpegangan tangan.


Ini aku beneran tidak mimpi kan, batin Milea dibalik senyum-senyumnya.


Setelah mereka sampai di lantai satu, tidak lama kemudian Ibu Alenta turun saat dirinya masih menapaki anak tangga melihat Leonardo dan Milea duduk di bawah sana sembari menatap ke arahnya.


Ada apa dengan mereka? mengapa menatap aku seperti itu? batin Ibu Alenta yang penuh tanda tanya kerena melihat mereka berdua tidak seperti biasanya.


Setelah kaki Ibu Alenta menginjak lantai satu, Leonardo bersuara meminta ibunya untuk duduk di sebelahnya.


Ibu Alenta menuruti kemauan Leonardo, hanya tidak mau ribut apa bila dirinya menolak.


Leonardo dan Milea tiba-tiba bersimpuh di hadapan Ibu Alenta, yang langsung membuat Ibu Alenta tercengang, terkejut itulah yang Ibu Alenta rasakan karena tidak biasanya Leonardo mau melakukan hal seperti itu, apa lagi Ibu Alenta belum tahu tentang masalah apa sampai Leonardo mau bersimpuh.


Leonardo memegang tangan Ibu Alenta. "Ibu, Leon mau meminta restu Ibu, kali ini Leon sungguhan untuk menjadikan Milea istri Leon selamanya. Dapat atau tidak dapat restu dari Ibu."


Ibu Alenta seketika terkejut mendengar pengakuan Leonardo, apa lagi saat menatap mata Leonardo yang penuh permohonan, hati Ibu Alenta terasa sakit.


Kenapa harus Milea Leon, andai bukan wanita itu yang kamu pilih pasti sudah Ibu restui, Ibu belum rela bila kamu harus bersama Milea selamnya, belum rela Leon, batin Ibu Lenta sedih.


Ibu Alenta tidak menjawab ucapan Leonardo, malah wajahnya melengos ke arah lain.


Saat ini Leonardo menyingkir gantian Milea yang melakukan.


Milea juga melakukan hal yang sama seperti Leonardo tadi, Milea memegang tangan Ibu Alenta. "Ibu, Lea minta restu, ijinkan kami terus bersama karena kami saling mencintai."


Pelupuk mata Ibu Alenta terasa panas mendengar ucapan Milea, sebisa mungkin tidak hanyut dalam kesedihan, karena tidak mau sampai terlihat menangis.


Ahirnya Ibu Alenta tetap milih diam, tidak memberikan jawaban, karena apa bila bicara tangisnya pasti akan tumpah.

__ADS_1


Meski tanpa mereka menunjukan kebesaran cinta mereka di depannya, Ibu Alenta sudah tahu bahwa mereka berdua saling mencintai.


Suamiku? apa ini sudah waktunya aku harus menerima, andai kau masih hidup mungkin saat ini aku tidak merasakan situasi sesulit ini, batin Ibu Alenta bersedih.


Aku akan berusaha sampai aku mendapat restu Ibu, aku tahu Ibu saat ini sedang menahan ingin menangis, meski Ibu tidak menatap aku, aku tahu Ibu saat ini sedang menyembunyikan kesedihannya, batin Milea sembari menatap Ibu Alenta.


Karena Ibu Alenta tetap diam tidak memberi respon sama sekali, Leonardo mengajak Milea pergi.


"Ibu, kami pergi dulu ya," ucap Milea yang kemudian mencium punggung tangan Ibu Alenta.


Leonardo mengulurkan tangannya dan Milea meraihnya, mereka berdua kemudian berjalan bersama-sama keluar dari rumah untuk berangkat kerja.


Setelah Leonardo dan Milea pergi, Ibu Alenta tidak bisa menahan tangisnya, Ibu Alenta berlari naik tangga menuju kamarnya berada sembari menangis.


Maaf kan Ibu Leon, maafkan Ibu Milea, terlalu sombong Ibu untuk merestui hubungan kalian, maafkan Ibu, batin Ibu Alenta.


Setelah membuka pintu kamar, Ibu Alenta menangis di tempat tidur, hatinya ikut merasakan kesedihan yang mereka rasakan karena belum mendapat restu darinya.


Di dalam sebuah pesawat yang sedang terbang mengudara, salah satu penumpangnya adalah wanita cantik asli kelahiran Indonesia, dan saat ini tengah pulang ke tanah air, setelah sekitar lima tahun tinggal di luar negeri.


Namun sayang wajah cantiknya yang dipoles dengan make-up kini mulai luntur karena terbasahi air matanya, sejak tadi wanita cantik itu menangis sembari menyebut nama kekasihnya.


"Bukankah kamu sudah berjanji padaku Leon, bahwa kamu tidak akan menikah dengan wanita selain aku."


Wanita itu semakin menangis setelah bicara seperti itu, seolah semua kenangan indah bersama kekasihnya itu tergambar jelas di ingatannya.


Di waktu saat mereka bersama, tertawa bersama, liburan kemana pun, semuanya kebersamaan itu wanita cantik itu ingat kembali.


"Padahal aku baru saja pergi lima tahun dan kamu sudah tidak bisa menunggu aku lagi."

__ADS_1


Wanita cantik itu teringat alasannya mengapa pergi ke luar negeri, karena pertama ingin mengejar mimpinya sebagai pemain musik biola yang sukses, bahkan saat ini karirnya di luar negeri sedang naik daun, tapi rela harus ia tinggalkan karena demi menemui kekasihnya setelah mendengar dan melihat berita Leonardo menikah.


Wanita cantik itu tersenyum getir. "Istrimu saja tidak lebih cantik dari aku, malah dia pantas jadi tukang rongsokan, tapi kamu malah mejadikan dia istrimu dan milih ninggalin aku."


Sakit sangat sakit hatinya namun mau bagaimana lagi semua sudah terjadi, menyesal yang dirasa saat ini, andai waktu bisa di putra kembali milih tetap bersanding di samping Leonardo dan tidak perlu mewujudkan impiannya.


"Setelah aku sadari beberapa hari kemarin, ternyata kamu lebih berarti, aku pikir aku mengetahui kau menikah di saat aku sudah sukses, aku bisa tegar tapi ternya aku tetap hancur ... Hancur hatiku Leon ..." Wanita itu berteriak di dalam pesawat tersebut, tidak peduli orang yang duduk di sebelahnya terganggu.


Wanita itu menumpahkan semua isi hatinya yang terasa sesak, ingin rasanya sakit itu ia cabut lalu ia buang, namun pada kenyataannya hanya bisa dirasakan dalam dada.


"Setelah aku tiba di Indonesia, aku akan segera menemui mu Leon, aku yakin kamu pasti merindukan aku juga kan," wanita itu tertawa menyedihkan.


Orang yang duduk di sebelahnya sampai kasihan melihatnya, karena sedari tadi melihat wanita itu hanya bicara sendiri sembari menangis.


Dipikirnya apa kah wanita gila, namun andai gila kok bisa ada dalam pesawat, tapi kalo waras kenapa bicara sendiri dan menangis terus. Begitulah pikir orang yang duduk di sebelahnya.


Hiks hiks, Isak tangisnya bahkan terdengar pilu, namun lama-kelamaan ahirnya wanita itu tertidur.


Setelah berada di dalam pesawat yang begitu lama dan dalam perjalanan panjang, ahirnya pesawat tersebut mendarat.


Wanita cantik itu tersenyum getir saat melangkah keluar dari dalam pesawat, karena dahulu impiannya andai saat pulang ke tanah air, Leonardo yang akan menjemputnya di bandara. Namum kenyataannya sekarang tidak ada yang menjemput.


Namun saat wanita cantik itu memasuki bandara, tiba-tiba ada wanita yang menyebut namanya.


"Kharisma ..." teriak wanita paruh baya itu.


"Ibu?" ucap Kharisma yang kemudian mereka berdua saling berjalan mendekati dan saat bertemu di tengah jalan mereka langsung berpelukan.


"Ibu bahagia melihat kamu pulang," ucap Ibu Wati dengan menangis.

__ADS_1


Hati kharisma seakan tertusuk jarum mendengar ucapan ibunya, karena saat pulang ke tanah air tidak sempat memikirkan ibunya hanya Leonardo yang terus Kharisma pikirkan.


__ADS_2