
Leonardo saat ini sudah berada di rumah sakit, tepatnya di ruang rawat Milea. Berdiri di samping ranjang pasien seraya terus memandangi wajah pucat Milea.
"Apa sedari tadi dia belum siuman?"
"Belum Tuan, jawab Sekertaris Alan saat mendapat pertanyaan dari Tuanya.
Leonardo menghela nafas. "Pulanglah, biar aku saja yang menemani dia malam ini." Leonardo berjalan menuju kursi sofa.
"Baik Tuan." Sekertaris Alan menundukkan kepalanya lalu berjalan pergi dari ruangan tersebut.
Sekarang di ruangan ini hanya Leonardo dan Milea, Leonardo berbaring di sofa panjang yang ada di ruangan tersebut, namun matanya tidak bisa terpejam, sesekali menoleh ke arah ranjang pasien melihat Milea yang belum sadarkan diri.
Bukan type Leonardo sebenarnya mau nungguin orang sakit, apa lagi yang di jaga adalah pelayannya sendiri, tapi entah mengapa Leonardo merasa kasihan, karena Milea sakit akibat ulah Ibunya, dan Leonardo mau menebus kesalahan itu.
Setelah lama terjaga dengan segala pikiran, ahirnya Leonardo tertidur, entah di pukul berapa.
Suara-suara burung berkicau, dari arah taman belakang di rumah sakit, suasana menjadi menenangkan, bertanda pagi telah tiba.
Milea bangun dari tidur panjangnya, terkejut saat merasa asing dengan ruangan yang saat ini dirinya lihat, Milea berusaha duduk dan mencoba menelisik seisi ruangan.
Aku di mana? Apa kah aku sudah mati, gumamnya, yang kemudian menampar pipinya sendiri.
Plak!
Aww! keluh Milea saat merasakan pipinya sakit, ini bukan mimpi, tapi aku dimana? tanya sendiri dalam hati, dan saat menggerakkan tangannya, baru Milea tahu bila dirinya berada di rumah sakit.
Aku sakit kah, ucap bodohnya, sudah tahu ada infus masih bertanya lagi pada dirinya sendiri.
Sembari melihat selang infus, Milea mengingat kembali kejadian saat kemarin dirinya pingsan, Milea ingat Leonardo berlari memanggil namanya, dan setelah itu dirinya tidak ingat lagi apa yang selanjutnya terjadi.
Saat Milea masih bingung, tiba-tiba mendengar suara pria menguap, Milea segera menoleh ke arah sumber suara, dan seketika matanya terbelalak saat melihat Leonardo tidur di atas sofa.
Milea segera kembali ke posisi semula, pura-pura tidur lagi, tidak ingin Leonardo tahu bila dirinya sudah sadar.
__ADS_1
Gue manfaatin situasi ini untuk istirahat, gue tidak mau bekerja dulu, atau di suruh-suruh lagi! Batin Milea dengan mata terpejam.
Leonardo bangun saat alarm hp nya berbunyi, kemudian duduk mengusap wajahnya lalu menatap ke arah Milea yang masih berbaring.
Lama sekali dia pingsannya, itu pingsan atau pura-pura pingsan sih? Batin Leonardo jadi penasaran, kini berjalan mendekati ranjang pasien, Leonardo mengamati wajah Milea, sudah tidak pucat lagi pikirnya.
Leonardo keluar untuk mencari dokter, dan mengatakan bila Milea belum sadar, Dokter yang ditanya terkejut, berpikir mengapa selama ini, bila karena obat, seharusnya efek obat sudah hilang pikir dokter tersebut.
kemudian bersama Leonardo, Dokter memeriksa keadaan Milea, selesai memeriksa, dokter hanya berkata bahwa sebentar lagi akan siuman, yang intinya keadaan Milea sudah baik-baik saja.
Dokter kembali keluar dari ruang tersebut, Leonardo menghubungi Sekertaris Alan untuk membawakan baju ganti.
Milea yang hanya pura-pura tidur mendengar semua pembicaraan dokter dengan Leonardo tadi, Milea sedikit mengintip dari ekor matanya, kini melihat Leonardo membuka pintu untuk keluar.
Biarin saja gue kerjain dia, dia kan suka ngerjain gue, xixixixi, batin Milea campur cekikikan.
Milea haus, terpaksa harus duduk untuk mengambil minum di atas meja, Milea tersenyum saat gelas itu berhasil di tangganya, dan mulai meneguknya.
Deg!
Milea terkejut dengan mata membola, bibir gelas masih di mulutnya, hanya saja Milea menghentikan meneguk airnya. Dari ekor mata yang Milea lihat, Leonardo tengah berjalan ke arahnya saat ini.
Sial kenapa jadi ketahuan begini sih! Kan rencana gue jadi gagal total, batin Milea masih belum berani menoleh.
Tadi Leonardo memang berencana mau sarapan dulu, tapi dompetnya ketinggalan jadi berniat untuk mengambil dompetnya itu, namun saat membuka pintu malah melihat Milea yang sedang minum air.
Leonardo membungkukkan badannya, dua tangannya di atas ranjang digunakan untuk menyanggah. "Bagaimana keadaan kamu sudah baikan? oh ya kamu mau sarapan dengan apa?"
Deg! Milea terkejut, tubuhnya langsung berasa kaku.
Kenapa dia bicara dengan aku sebaik ini, dan kenapa wajah mu begitu dekat dengan aku! Hei! Jauh kan wajah mu itu! Teriak Milea dalam hati, sungguh saat ini Milea merasa tidak nyaman.
Dia pasti pura-pura baik saat ini sama aku! Huh! Dasar manusia bunglon! Aku tidak akan percaya dengan kata-kata manismu! Karena aku tahu setelah aku sembuh kau akan kembali mengerjai ku!" batin Milea sungguh kesal.
__ADS_1
Dan wajah kesal Milea, Leonardo tangkap, pria itu mengernyitkan dahinya berpikir mungkin Milea belum maafkan kesalahan ibunya.
"Hei! kenapa muka kamu di tekuk seperti itu!"
Ah! Sial kenapa aku jadi malah membentaknya, kan tadi mau bicara baik-baik, batin Leonardo seraya menghela nafas panjang saat yang dirinya ucapkan kalimatnya salah.
Milea hanya menggeleng seraya membuang muka, Leonardo ahirnya milih keluar karena merasa lapar, soal Milea akan dirinya pikirkan nanti.
Selesai sarapan di kantin rumah sakit, Leonardo langsung membersihkan diri, Sekertaris Alan sudah tiba dan membawakan pakaian ganti, hari ini Leonardo akan berangkat kerja agak siangan.
Suster masuk ke ruang Milea, mengantar sarapan pagi, berupa bubur nasi, melihatnya saja Milea malas mau memakannya.
"Sekertaris Alan bisa tidak membelikan aku makanan di luar, ini sarapannya tidak enak," ucap Milea dengan memohon, seraya menunjukan bubur di mangkuk yang tidak dirinya sukai.
"Baiklah Nona saya belikan dulu."
"Mau kemana?" tanya Leonardo yang kini sudah rapi, saat baru masuk ke ruangan Milea melihat Alan berdiri.
"Untuk membeli sarapan untuk Nona makan Tuan," jawab Sekertaris Alan apa adanya.
Leonardo melihat ke arah Milea, di depan gadis itu sudah ada mangkuk. "Itu apa?" tanya Leonardo seraya berjalan mendekati ranjang pasien.
"Aku tidak suka ini," ucap Milea dengan wajah memelas.
"Tidak! Kamu harus memakannya!" ucap tegas Leonardo seraya mengambil alih mangkuk yang hanya Milea pegang.
"Buka mulutmu, A." Leonardo sembari meragakan mulut terbuka.
Apa! Tuan menyuapiku, batin Milea terkejut.
Aku tidak salah lihat kan? Tuan menyuapi Nona, batin Sekertaris Alan yang masih belum percaya, sampai mengucek matanya, takut salah lihat.
Milea terhipnotis dan ahirnya membuka mulutnya, pagi itu Milea sarapan di suapi Leonardo, pria yang tidak mungkin melakukan hal seperti itu, lagi-lagi Leonardo bersikap berbeda dengan Milea. Saat meninggalkan Milea sendirian meminta orangnya untuk menjaga Milea, dan setelah pulang kerja Leonardo kembali menemui Milea, menjaga Milea di rumah sakit selama dua hari, dan tepat malam ini Milea sudah boleh pulang, Leonardo sampai membatalkan meeting dengan klien malam ini, hanya untuk menjemput Milea di rumah sakit.
__ADS_1