Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 18 Rencana baru.


__ADS_3

Milea dan Leonardo sampai di rumah pukul sembilan malam, Milea yang saat ini berjalan melewati ruang makan, menundukkan kepalanya saat melihat Ibu Alenta sedang makan malam sendirian.


Sementara Leonardo, pria itu langsung masuk ke dalam kamar, Pak Ahmad mengantar makan malam ke kamar Leonardo, malam ini pria itu tidak mau makan bersama dengan Ibunya, rasa marah dan kesal belum bisa Leonardo hilangkan.


Sedangkan saat ini Milea sudah berada di dalam kamar, Milea bersyukur karena malam ini dirinya diijinkan untuk langsung istirahat, tidak perlu melayani Leonardo lagi, sudah ada Pak Ahmad yang menggantikan Milea.


Milea yang mau menarik selimut tiba-tiba dikagetkan dengan kedatangan tiga pelayan wanita, mereka bertiga langsung duduk di atas ranjang Milea, dan memberi Milea pertanyaan bertubi-tubi.


"Lea gimana keadaan kamu?"


"Kemarin kamu di gendong Tuan Muda lho, oww so sweet?"


"Lea, seakarab itu kah kalian?"


Aaaaaa! Tidak! Kalian salah semua, kenyataannya tidak seperti itu, batin Milea yang menyangkal semua tuduhan tiga temannya itu.


"Ayo Lea jawab," Salah satu pelayan yang sudah tidak sabar mengguncang tubuh Milea.


"Ok ...kami hanya sebatas bawahan dan atasan, ya mungkin kemarin Tuan Muda menggendong aku karena panik," jelas Milea, yang langsung membuat mereka bertiga mengangguk, membenarkan yang Milea jelaskan.


"Bila tidak dalam keadaan panik tidak mungkin Tuan Muda menggendong aku, karena aku bagaikan debu yang hanya dia tiup langsung hilang," jelas Milea lagi, salah satu pelayan langsung memeluk Milea dari samping seraya menyandarkan kepalanya di pundak Milea "Maafkan kami yang telah berpikir yang tidak-tidak tentang kamu."


"Sudah-sudah, tidak apa-apa," jawab milea seraya tersenyum dan mengusap lengan temannya itu yang masih memeluk Milea.


Pelayan yang dua ikutan memeluk Milea, malam ini sebelum tidur Milea merasa bahagia, dikelilingi teman-temannya yang baik, tadinya sempat sedih memikirkan yang sedang sakit tapi jauh dari keluarga.


Meski ayah dan ibu tirinya tidak peduli bila Milea sakit saat dulu tinggal bersama, tapi Arga adiknya itu yang paling perhatian, dan Milea merindukan itu, tapi sekarang saat teman-temannya peduli Milea merasa sudah cukup.

__ADS_1


Setelah ketiga pelayan keluar, Milea langsung bersiap untuk tidur, namun belum sempat memejamkan matanya, hp Milea bunyi ternyata telepon dari Arga, Milea mengangkatnya.


"Kak Lea baik-baik saja kan di sana? Kak Lea sehat kan?" tanya Arga di sambungan telepon, yang seketika membuat Milea tersenyum, ternyata perasaan Arga bisa merasakan bila dirinya sedang tidak baik-baik saja. Tapi Milea tidak akan berkata jujur.


"Kakak sehat, Dek?" jawab Milea dengan suara dibuat biasa karena tidak ingin Arga sampai curiga.


"Aku mimpi Kak Lea sakit, aku jadi khawatir Kak," jelas Arga di sambungan telepon.


"Sudah Kakak baik-baik saja? sekarang kamu tidur lagi aja, Ya?" nasehat Milea, sekaligus supaya pembicaraan ini segera selesai, bila terlalu lama Milea takut Arga curiga, karena Milea masih lesu dan susah mempertahankan suaranya yang biasa saja.


"Baiklah Kak, selamat malam Kak Lea."


"Malam," balas Milea, dan setelah itu sambungan telepon dimatikan. Milea kembali meletakkan hp nya di atas meja, dan kemudian langsung tidur malam.


Malam panjang terlewati.


Ternyata Ibu Alenta tidak akan menyerah sebelum sampai Leonardo menikah, Ibu Alenta akan terus berusaha, dan kali ini rencana Ibu Alenta akan mempertemukan Leonardo dengan para gadis-gadis, tidak cuma satu, tapi sepuluh gadis, dengan tujuan Leonardo memilih salah satu dari sepuluh gadis tersebut.


Satu per satu, Ibu Alenta menghubungi para sahabatnya yang memiliki anak gadis.


Tentu mereka yang miliki anak gadis sangat kegirangan, diajak besanan dengan Ibu Alenta.


Dan siang ini, Ibu Alenta berkumpul di restoran di ruang VIP bersama sepuluh sahabatnya yang miliki anak gadis.


Ada yang bingung kenapa yang mau di ajak berbesan banyak sekali, ada yang berpikir apa kah Ibu Alenta membuat sayembara untuk putranya, ada juga yang merasa aneh apakah akan menjadikan sepuh orang ini menjadi besannya semua.


Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan di benak sepuluh orang tersebut, sebelum Ibu Alenta buka suara dan menjelaskan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Jadi begini BESTie ... Niat saya mengumpulkan kalian semua di sini, karena saya ingin anak gadis kalian semua datang ke rumah saya, mau saya jadikan menantu, salah satu dari mereka yang nanti putra saya pilih," terang Ibu Alenta, yang langsung membuat sepuluh sahabatnya kini mengerti.


Setelah mendengar penjelasan Ibu Alenta, ada yang langsung kecewa karena harus ada pemilihan, ada juga yang tetap semangat berharap putrinya akan di pilih, ada juga yang berpikir bila putrinya pasti akan kalah, karena sudah mengenal Leonardo pria dingin yang sulit didekati.


Ibu Alenta juga sudah menentukan harinya, yaitu besok malam, selesai berbicara serius semua temannya di traktir makan siang, Ibu Alenta pulang lebih dulu, namun sebelum itu sudah membayar seluruh tagihan makanan di restoran.


Ibu Alenta bukan pulang, melainkan mendatangi tempat lain, mobil yang Ibu Alenta tumpangi berhenti di apartemen.


Ibu Alenta menggunakan kaca mata hitam seraya berjalan masuk ke dalam apartemen, terikat berbincang dengan receptionist, yang entah membicarakan apa, namun setelah itu Ibu Alenta berjalan menuju lift.


Dari gayanya saja semua orang bisa tahu bila Ibu Alenta dari kalangan orang kaya, Ibu Alenta melangkah keluar lift setelah pintunya terbuka, berjalan dengan langkah anggun menuju kamar yang ia tuju.


Menunggu beberapa saat, seseorang yang dirinya tunggu kini membuka pintu.


Deg! Orang pemilik kamar terkejut saat melihat siapa yang datang.


"Tan-tante," ucap wanita itu dengan gugup.


"YA, ini saya. Saya mau kamu membantu saya untuk melancarkan rencana saya," ucap Ibu Alenta dengan seringai tipis.


"A-apa yang bi-bisa saya bantu?" tanya wanita itu lagi masih dengan suaranya yang gugup, pasalnya ia sudah tidak ingin berhubungan lagi dengan Ibu Alenta, wanita itu hanya ingin hidup tenang.


Ibu Alenta tersenyum tipis kemudian membisikan sesuatu di telinga wanita itu, dan seketika wajah wanita itu menjadi pias, sangat bingung, ingin menolak tapi Ibu Alenta sudah mengancamnya Hinga tidak ada pilihan bagi wanita itu, perlahan menganggukkan kepalanya.


"Bagus Erin," ucap Ibu Alenta seraya mengusap lengan Erin, yang kemudian langsung berjalan pergi meninggalkan tempat tersebut.


Sementara Erin langsung menutup pintunya, bersandar di pintu seraya mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


"Sialan! Harusnya aku segera pergi dari negara ini sejak kemarin, supaya aku tidak dijadikan kambing hitam terus oleh Alenta!" Erin berteriak marah.


__ADS_2