Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 86. Ikut andil dalam penyebab perpisahan itu.


__ADS_3

Di dalam sebuah restoran ternama, sore itu ada seorang wanita cantik yang sedang duduk manis sembari menyeruput air jus, wanita itu sedang menunggu seseorang, sudah lima belas menit lamanya ia menunggu, namun yang di tunggu-tunggu belum kelihatan juga batang hidungnya.


Wanita itu membuang nafas berat berkali-kali sembari melihat jam mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.


Matanya melihat terus ke arah pintu masuk restoran tersebut, seolah mengharapkan sekali kehadiran orang yang ditunggunya itu.


Dan ahirnya senyum di bibir wanita cantik itu semaki melebar, saat melihat orang yang ditunggunya sedari tadi kini memasuki restoran.


Wanita cantik itu berdiri menyambut kedatangan orang tersebut.


Apa bila wanita cantik itu tengah tersenyum, berbeda dengan orang yang ditunggunya itu wajahnya datar nampak kesal.


"Tante, sudah lama kita tidak berjumpa, silahkan duduk."


Mereka berdua kemudian sama-sama duduk di kursi, wanita cantik itu masih saja terus tersenyum, meski menangkap wajah yang tidak enak dilihat dari wanita yang dipanggilnya Tante itu.


"Kharisma, sebaiknya langsung saja apa yang ingin kamu bicarakan, setelah ini Tante ada urusan bersama teman arisan Tante."


Kharisma terkekeh. "Kenapa buru-buru mau pergi Tante Alenta yang terhormat, saya bukan polisi seperti yang ditakuti para buronan."


Ibu Alenta langsung diam tidak bisa menjawab ucapan Kharisma barusan, dalam hati Ibu Alenta sangat kesal, apa bila Kharisma tidak mengancamnya bila dirinya tidak datang, sudah dapat dipastikan bahwa saat ini Ibu Alenta tidak mau menemui Kharisma.


Kharisma yang baru saja menghabiskan minuman jusnya, menggeser gelas itu kemudian menatap lekat wajah Ibu Alenta, yang saat ini nampak datar.


"Kenapa Tante ... kenapa Tante mengijinkan Leon untuk menikah dengan wanita lain? bukankah Tante sudah berjanji akan menjaga Leon untuk aku." Kharisma menangis air mata yang sedari tadi ia bendung kini ahirnya tumpah di depan orang yang menyebabkan perpisahan dirinya dengan Leonardo.


Ibu Alenta terdiam. Dalam hatinya sudah bergemuruh takut, tidak ingin rahasia lama terungkap, akan habis dirinya terkena amarah Leonardo, karena teringat betul putranya itu dulu mencintai Kharisma begitu dalam.


"Tante tidak lupa, kan. Bahwa dahulu aku pergi karena Tante yang minta." Bibir Kharisma bergetar bicara kalimat yang memilukan hati.


Ingatan Kharisma kembali pada saat percakapannya dengan Ibu Alenta saat itu.


"Pergilah meraih impianmu yang ingin menjadi pemain musik biola terkenal, saya sudah merekomendasikan tempat untuk kamu belajar," ucap Ibu Alenta.

__ADS_1


Kharisma yang mendengar ucapan Ibu Alenta barusan seketika bahagia, namun itu hanya sesaat karena apa bila dirinya mewujudkan mimpinya, tentu akan meninggalkan Leonardo, dan saat ini Kharisma lagi sayang-sayangnya dengan Leonardo.


"Tapi Tante aku tidak bisa meninggalkan Leon," ucap Kharisma apa adanya, baginya sangat berat untuk meninggalkan Leonardo.


Tapi Ibu Alenta menyela cepat dengan mengatakan hanya lima tahun. Kharisma jadi diam untuk berpikir.


"Setelah lima tahun dan kamu berhasil menjadi wanita yang sukses, kamu bisa kembali ke Indonesia melanjutkan hubungan kalian, dan bila perlu kalian menikah," ucap Ibu Alenta yang semkin menyakinkan Kharisma.


Setelah Kharisma pikir apa bila dirinya menjadi wanita sukses kemudian bersanding dengan Leonardo, tentu tidak mempermalukan Leonardo, ahirnya Kharisma dengan penuh semangat dan yakin milih menjawab iya.


Namun lagi-lagi Kharisma dikejutkan dengan ucapan Ibu Alenta.


"Tapi ada syaratnya," ucap Ibu Alenta disertai senyum tipis.


Kharisma semakin bingung mengapa harus ada syaratnya pikirnya.


"Kamu tidak boleh pamit dengan Leonardo ap bila kamu mau pergi meraih impianmu."


"Tapi Tante mengapa harus seperti itu? Leonardo akan khawatir apa bila aku tidak pamit dengannya, dan pasti Leonardo akan mengira bahwa aku mengkhianatinya dengan tiba-tiba menghilang, maaf aku tidak bisa dengan syarat itu, Tante."


"Kamu harus setuju dengan syarat itu, jangan khawatir soal Leonardo, Tante akan bicara nanti dengan nya."


"Sungguh Tante?" tanya Kharisma dengan tersenyum, rasa khawatir yang tadi dirinya miliki seketika hilang mendengar ucapan Ibu Alenta barusan.


Ibu Alenta mengangguk mantap.


Dan setelah pembicaraan hari itu, setelah dua hari setelahnya Kharisma terbang ke luar negeri.


Kembali ke waktu sekarang.


Kharisma semakin menangis mengingat kejadian itu, selama ini Ibu Alenta yang ia kenal begitu baik, tapi ini apa dirinya merasa dibohongi, andaikan tahu akan seperti ini, dahulu Kharisma tidak mau menerima tawaran Ibu Alenta, meski sangat menginginkan jadi pemain musik biola terkenal.


Karena saat ini keberhasilan yang dirinya raih tidak ada artinya apa-apa saat melihat pria yang dicintainya tengah menikah dengan wanita lain, apa lagi pria itu bagian semangatnya saat berusaha meraih karirnya.

__ADS_1


Kharisma semakin tidak bisa membendung air matanya yang terdengar sangat pilu.


Ibu Alenta merasa bersalah, semuanya memang salahnya dan karenanya, sadar juga bahwa dirinya ikut andil dalam membuat putranya sendiri terpuruk karena cinta bertahun-tahun.


Ibu Alenta mengakui salah, dan semakin bersalah saat melihat Kharisma terlihat begitu hancur.


"Maafkan Tante."


Hanya kata itu yang mampu Ibu Alenta ucapkan, tidak tahu lagi harus berbuat apa, mau menyatukan Leonardo dengan Kharisma juga sudah tidak mungkin, setelah pengakuan cinta Leonardo untuk Milea.


Bila dilihat dari sorot mata Leonardo, Ibu Alenta menyadari bahwa Leonardo sangat mencintai Milea saat ini, Ibu Alenta sungguh dalam posisi pusing sekarang.


Kharisma menghapus air matanya sembari tersenyum getir menatap Ibu Alenta. "Maaf Tante, semudah itu Tante bicara Maaf, apa Tante tahu gimana sakitnya perasaan aku sekarang!" Kharisma berteriak seraya menunjuk dadanya.


"Sakit Tante, sakit," suara Kharisma tercekat di tenggorokan dengan air mata kembali berderai.


Orang yang duduk di sekitar mereka, pengunjung restoran juga, menatap kasihan ke arah Kharisma yang menangis seperti itu.


Sementara itu Ibu Alenta merasa malu melihat banyak pasang mata yang menatap ke arahnya, andai tahu kejadiannya akan seperti ini Ibu Alenta tidak mau menemui Kharisma.


"Kharisma hentikan ucapan kamu itu, lebih baik sekarang kita pulang, dan lanjutkan obrolan kita besok, lihatlah para pengunjung lain melihat ke arah kita." Ibu Alenta mencoba memberi pengertian pada Kharisma.


Kharisma tidak menangapi ucapan Ibu Alenta, namun setelah bicara Ibu Alenta pergi dari tempat tersebut.


Kharisma hanya bisa menatap nanar kepergian Ibu Alenta yang tidak peduli lagi dengan dirinya.


Aku akan merusak pernikahan Leonardo, Leonardo harus menjadi milikku hanya milikku! batin Kharisma dengan tatapan tajam.


Sementara itu Ibu Alenta yang saat ini sudah berada di dalam mobil yang sedang melaju, pikirannya tidak tenang, mengingat obrolannya dengan Kharisma barusan.


"Leon sudah mencintai Milea, apa bila Kharisma memberitahu Leon yang sebenarnya bahwa aku yang telah membuat Kharisma pergi, aku yakin Leon tidak marah sama aku, karena Leon sudah mencintai Milea."


Ibu Alenta bicara sendiri meyakinkan diri.

__ADS_1


__ADS_2