Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 92. Milea dan Kharisma.


__ADS_3

Siang ini Ibu Alenta menemui Kharisma, mengajak wanita itu untuk bertemu di sebuah restoran, Ibu Alenta sudah menunggu sejak lima belas menit yang lalu.


Sudah mau habis jus mangganya, tapi kharisma belum juga datang, Ibu Alenta berulang kali menghela nafas panjang. Apa bila Kharisma sampai tidak datang ia akan menemui gadis itu di rumahnya pikir Ibu Alenta yang sudah tekat.


Tapi ternyata tiba-tiba yang ditunggu-tunggu telah datang, Kharisma baru saja menyembul dari pintu masuk berjalan mendekati Ibu Alenta dengan senyuman memukau.


Cantik, ya gadis itu sangat cantik Ibu Alenta akui, apa bila dibandingkan dengan Milea tentu Milea tidak ada apa-apanya.


"Tante maaf saya sedikit telat," ucap Kharisma setelah berdiri di depan Ibu Alenta seraya melihat jam mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Ya, duduklah." Ibu Alenta mempersilahkan.


Kharisma menarik kursi dan duduk di sana, Ibu Alenta memanggil pelayan lagi memesan minuman untuk kharisma.


"Tante ternyata masih ingat minuman kesukaan aku," celetuk Kharisma bicara setelah pelayan pergi menyiapkan pesanan minuman.


"Bukan hal sulit untuk tetap aku ingat," ucap Ibu Alenta acuh, entah kenapa sekarang tidak bisa bersikap ramah sama Kharisma.


Setelah semalam banyak sekali yang sudah Ibu Alenta pertimbangkan mengenai Milea yang hamil yang juga Kharisma ingin merebut Leonardo, dalam hati Ibu Alenta tidak terima apa bila kelak cucunya tidak tinggal bersama kedua orang tuanya apa bila Milea dan Leonardo bercerai.


Meski dalam hati Ibu Alenta belum menerima Milea sebagai menantu, tapi ada cucu di rahim wanita itu.


Kira-kira Tante Alenta mau bicara hal penting apa ya sama aku, aku menangkap gurat kesedihan di wajahnya, batin Kharisma yang memperhatikan Ibu Alenta.


Lamunan mereka berdua terbuyarkan saat pelayan datang mengantar minuman untuk Kharisma.


Ibu Alenta menghela nafas panjang sebelum ahirnya bicara, ini adalah saatnya dirinya harus bicara dengan Kharisma sebelum gadis itu berbuat lebih dan merusak rumah tangga putranya.


"Kharisma ... Tinggalkan Leon biarkan Leon hidup bahagia bersama Milea istrinya."


Hahahah!

__ADS_1


Kharisma tertawa mendengar ucapan Ibu Alenta, sangat lucu kedengarannya yang tiba-tiba Ibu Alenta memintanya seperti itu.


Tawa Kharisma meredup seketika dan berganti aura dingin. "Tidak semudah itu Tante ... dahulu mungkin aku menuruti Tante yang memintaku pergi untuk mewujudkan impianku ... Tapi sekarang aku tidak akan menuruti Tante karena aku harus mendapatkan cintaku kembali! Aku harus mendapatkan Leon kembali!"


"Leon tidak akan kembali dengan kamu." Ibu Alenta bicara tidak kalah dingin.


Kharisma tergelak tawa sinis. "Akan aku buat kembali denganku."


"Hentikan perbuatanmu!" Ibu Alenta menyela cepat dengan nada marah.


"Tidak perlu marah-marah Tante, karena aku seperti ini juga ulah Tante! Leon tidak akan menikah dengan wanita lain apa bila Tante saat itu tidak menyuruh aku pergi!" teriak Kharisma menangis.


"Tapi aku peringatkan kamu Kharisma, aku tidak akan tinggal diam apa bila kau sampai menyakiti Milea karena dia sedang mengandung Cucuku!" ancam Ibu Alenta sebelum ahirnya pergi meninggalkan Kharisma dengan kemarahan.


Argh! Kharisma kesal mendengar ucapan Ibu Alenta apa lagi mendengar penjelasan Milea hamil, kharisma makin hancur.


"Harusnya aku yang menikah dengan kamu Leon ... Harusnya aku yang mengandung anakmu bukan dia!" teriak Kharisma yang tangisnya semakin menjadi.


Kharisma tidak peduli dengan tatapan pengunjung yang menatap aneh ke arahnya, Kharisma hanya ingin meluapkan emosinya.


Cukup lama Kharisma menangis sendirian di sana, sampai ahirnya dia memutuskan untuk pergi.


Keesokan harinya di sebuah taman wisata, Milea duduk di bawah pohon rindang, saat ini Milea sedang menunggu seseorang, Milea juga tidak tahu nama orang tersebut yang tiba-tiba mengirim pesan padanya dan memintanya harus datang di tempat ini.


Di depan sana ada sebuah danau, airnya tampak bersih dan tenang, terlihat bahwa tempat ini sangat dirawat.


Di ujung sana ada seorang ibu-ibu yang sedang menyapu di atas rerumputan hijau, di sebelah ujung lainnya ada seorang bapak-bapak yang sedang memangkas ranting pohon hias.


Tempat ini sungguh indah, apa lagi banyak pengunjung yang datang membuat teman ini jadi ramai.


Saat mata Milea menangkap seorang anak kecil usia tiga tahun tengah lari-lari kecil di kejar ibunya terlihat sangat imut.

__ADS_1


Milea sembari membayangkan bahwa nanti dirinya juga akan bermain sama anaknya seperti itu dengan Leonardo juga, Milea senyum-senyum sendiri membayangkan.


Tiba-tiba senyum Milea berganti terkejut saat merasakan ada yang memegang bahunya, Milea menoleh melihat pelakunya dan betapa terkejutnya Milea saat melihat wanita itu yang pernah dilihatnya di pesta malam itu.


"Anda-."


"Ya," jawab cepat Kharisma memotong ucapan Milea.


Kharisma kemudian duduk di sebelah Milea dengan anggun, angin siang hari ini yang bertiup sepoi-sepoi membuat rambut panjang Kharisma terlihat indah, aroma wangi semerbak dari rambut itu tercium Milea.


Milea hanya bisa menunduk tanpa tahu apa yang harus ia lakukan, karena juga tidak kenal dengan wanita di sampingnya itu.


Apa tujuan wanita cantik ini mengajak aku bertemu, hah dia begitu cantik dilihat sedekat ini apa lagi ini siang hari, batin Milea yang mengagumi kecantikan Kharisma.


Bibir Kharisma tersenyum kecil dengan pandangan lurus ke depan menatap indahnya air danau.


"Aku kekasih Leonardo."


Duarr!


Bagai tersambar petir Milea saat ini yang tanpa ada angin atau pun hujan tiba-tiba ada wanita cantik mengaku kekasih Leonardo.


"Maksudnya apa ya?" Milea tertawa masam.


Kharisma menoleh menatap Milea. "Aku adalah kekasih Leon yang pergi lima tahun yang lalu ... Dan saat ini aku sudah kembali tapi aku kecewa ternyata Leon sudah menikah dengan kamu ... Tapi cinta kita dulu sangat kuat dan besar aku yakin Leon masih juga mencintaiku ... Lepaskan Leon."


Milea mencekal kuat pinggiran bangku taman, Milea menguasai diri supaya tidak menangis meski saat ini matanya sudah terasa panas, sakit itu lah yang Milea rasakan saat ini.


Milea tersenyum seolah omongan Kharisma barusan tidak berpengaruh sama sekali baginya. "Jika Anda bisa mengambil dia dari tanganku ... Silahkan lakukan, tapi aku juga tidak akan menyerah, aku akan mempertahankan suami aku" Milea mempertahankan intonasi suaranya yang tegas meski bibirnya bergetar.


Setelah bicara seperti itu Milea bangkit dari duduknya dan beranjak pergi, saat Milea berjalan menuju mobil air matanya tumpah seketika banjir membasahi pipinya.

__ADS_1


Milea menghapusnya namun air mata itu tidak kunjung berhenti, ketakutan campur rasa khawatir yang Milea rasakan saat ini, apa lagi sedang hamil.


Sampai Milea berada di dalam mobil dan kini sudah melaju, Milea duduk di kursi belakang masih terus menangis, sopir yang mengantar Milea jadi cemas melihatnya. Dan bingung apa kah akan melapor keadaan Milea dengan Tuan Mudanya.


__ADS_2