
Aaaa!
"Dia pikir enak apa jadi aku! disuruh-suruh! dikerjain, diputar-putar seperti mainan!" maki Milea dengan kaki di hentak-hentakkan setelah berdiri di luar gedung, seraya menatap benci ke arah jendela yang tempatnya paling tinggi, yang dikira-kira lantai tempat Leonardo berada.
Dua tangan Milea terkepal, seolah ingin merobohkan gedung tinggi itu, wajah Milea sangat marah dan kesal, tidak peduli pada siapa pun orang yang melihat ke arahnya.
Milea mengangkat tangannya membentuk pukulan ke atas. "Lihat saja aku akan membalasmu!"
Eh! memang kamu punya keberanian untuk membalasnya Lea, batin Milea setelah sadar dengan ucapannya, Milea langsung menutup mulutnya dengan tangan, matanya melihat ke depan sana ada sekuriti yang melihat ke arahnya, melirik kanan kiri, juga ada orang yang melihat ke arahnya.
Ah, aku malu sekali, bagaimana bisa aku bertindak bodoh dan memalukan seperti ini, dan bagaimana bila Tuan Leonardo mendengar, batin Milea masih menutup mulutnya, tiba-tiba rasa takut menyerangnya.
Milea mengatupkan kedua tangannya di depan dada, kepalanya mendongak ke atas melihat lantai paling tertinggi, yang dikira-kira ruang kerja Leonardo berada.
"Tuan maafkan aku." Setelah bicara Milea langsung berjalan cepat meninggalkan tempat tersebut.
Para sekuriti yang sejak tadi memperhatikan Milea hanya bisa geleng kepala melihat tingkah Milea.
Sementara Leonardo ternyata pria itu mengintip Milea dari jendela yang berada di ruang kerjanya.
Bila dari sisi kanan, arah jendela itu mengarah depan gedung Armada Group, meski tidak mendengar apa yang Milea ucapkan, tapi Leonardo tertawa melihat tingkah Milea yang mengangkat tangannya ke atas membentuk pukulan.
Jelas mengerti itu tandanya Milea kesal pada dirinya, tapi Leonardo tidak peduli, menjahili Milea sudah menjadi candu.
"Apa lain kali aku ajak dia bermain tinju, ya."
Hahah.
"Pasti sangat lucu, wajah takut-takut campur terpaksa."
Hahahah.
Entah sudah berapa kali Leonardo tertawa terus menerus setelah menyaksikan tingkah lucu Milea, pria itu bukannya sibuk kerja malah sibuk membayangkan wajah lucu Milea, saat ketakutan.
Sampai Alan masuk ke dalam ruang kerjanya, mengantar berkas yang harus Leonardo tanda tangani, pria itu masih juga tertawa, Alan sampai bergidik ngeri melihatnya, pemandangan langka yang baru dilihatnya.
Kenapa Tun Muda tertawa seperti itu ya, benar-benar terasa aneh, batin Alan yang saat ini sudah berdiri di luar pintu
__ADS_1
Ah mungkin karena aku terbiasa melihat wajahnya yang dingin, batinnya lagi yang tidak mau ambil pusing seraya berjalan melenggang pergi.
Sementara itu hal sama juga yang dirasakan seseorang yang lagi jatuh cinta, cinta yang begitu besar sampai membuatnya melakukan cara apa pun untuk mendapatkan perhatiannya.
Di sekolahan SMA, tempat Bella dan Arga sekolah, saat ini mereka sedang jam pelajaran olahraga.
Semua murid di kls mereka berada di lapangan, pagi ini semuanya harus berolah raga senam.
Arga mendapat barisan tidak jauh dari Bella, gadis itu terus menatap ke arah Arga, sampai tidak fokus dengan gerakan senam yang saat ini dilakukan.
Saat langkah berjalan ke kanan dua kali, Bela malah berjalan ke kiri dua kali, membuatnya saling membentur dengan temannya sebelah.
"Bella salah, ke kanan harusnya."
"Iya, sorry," jawab Bella tersenyum kikuk.
Sampai beberapa saat senam berlangsung, kini jam pelajaran Oalah raga selesai, berganti jam pelajaran yang lainnya.
Sebelum semua murid benar-benar bubar, Bella berjalan mendekati Arga, tiba-tiba.
Brukk.
"Bella! Bel! Bella ...."
Yang panik bukan Arga tapi Jino, pria itu langsung menghampiri Bella menepuk pelan pipi Bella, tapi Bella juga belum sadar.
Sontak saja teriakan Jino tadi mengundang perhatian banyak siswa dan siswi ingin melihat Bella yang pingsan.
Semua murid mengerubungi Bella, tapi tidak dengan Arga, anak muda itu malah pergi, tidak peduli dengan keributan yang ada, merasa bukan dirinya yang menyebabkan Bella pingsan.
Arga lebih milih berganti baju sekolah, melepas seragam olahraga.
Sementara Bella saat ini dibawa ke ruang UKS, Jino yang mengendong Bella.
Kenapa Jino sih yang menggendong aku? harusnya kan Arga, hah! sia-sia aku berakting.
Bella tidak benar-benar pingsan, hanya ingin mencari perhatian Arga, namun lagi-lagi gagal rencananya.
__ADS_1
Hah! bela-belain baju jadi kotor, badan sakit, ternyata bukan Arga yang menggendong aku, batin Bella yang menyesal.
Bella yang baru saja Jino baringkan di ranjang yang ada di ruang UKS, tiba-tiba Bella duduk saat Jino mau memanggil dokter khusus di sekolah ini.
"Bella, kamu-."
"Aku baik-baik aja Jino, aku mau keluar." Bella menurunkan kakinya ke lantai mau pergi dari ruang UKS.
"Bella, kamu lagi sakit kamu harus diperiksa." Jino menghalangi langkah Bella.
Bella menatap Jino dengan tatapan kesal. "Lepasin aku! aku tidak sakit!" bicara ketus seraya melepas tangan Jino, Bella melenggang pergi.
Jino menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung melihat tingkah Bella, yang tiba-tiba kembali sehat.
Jino jadi pusing sendiri memikirkan Bella, ahirnya ikut pergi dari ruang UKS. Bella menuju kls nya berada untuk mengambil baju seragam sekolahnya, saat tiba di ruang kls tidak melihat Arga di sana.
Bella tidak mempedulikan lagi, saat ini fokusnya harus berganti baju, setelah membawa tasnya menuju kamar mandi, Bella segera berganti, merapihkan rambut dan bajunya, kemudian kembali keluar.
Bella merasa lapar, langkah kakinya menuju kantin, dan di sinilah Bella melihat Arga berada, menatap Arga dengan pandangan yang sulit diartikan, teman Arga yang duduk di sebelahnya menyenggol lengan Arga untuk menoleh ke arah Bella.
Saat Arga menoleh ke arah Bella, gadis itu melengos, kecewa sama dirinya sendiri. Bella mengambil makanan yang ada di kantin, semangkuk mie Bella bawa ke meja tempat para murid duduk dan makan di sana.
Bella menikmati makannya hanya sendirian, saat merasa kesal selera makannya makin bertambah.
Sementara Arga tidak peduli saat temannya masih terus menyenggol lengannya.
"Arga, kamu tidak kasihan sama Bella, kamu selalu cuekin Bella," bisik teman Arga di telinganya.
"Ini lebih baik, dari pada kita pacaran dan ahirnya putus karena tidak jodoh, itu lebih menyakitkan." Selesai bicara Arga bangkit dari duduknya meninggalkan temannya itu.
"Gila si Arga sudah seperti penasehat saja ucapannya," ucap temannya seraya geleng-geleng kepala, salut dengan jawaban Arga.
Sementara itu, Bella yang menoleh kebelakang melihat sudah tidak ada lagi Arga di sana, hanya bisa menghela nafas panjang.
Bella kembali melihat mie yang masih sisa sedikit di dalam mangkuk, memakannya lagi, matanya menangis bulir bening lolos di pipi.
Bella hanya sendiri tidak miliki sahabat, karena lebih nyaman seperti ini, apa-apa lebih baik curhat sama kakaknya.
__ADS_1
Selesai makan, Bella meninggalkan kantin, rambut panjangnya yang tergerai, jatuh di pundak dengan indah.