Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 36. Mau balas dendam.


__ADS_3

Leonardo saat ini sedang melihat ke rekaman CCTV, ditemani Alan yang membantu Leonardo menemukan rekaman CCTV dua hari lalu, saat pertama kali mengajak Milea datang ke perusahaan.


Alan memperbesar suara rekaman CCTV itu, seketika Leonardo marah dan memukul meja.


"Tuan."


Leonardo yang memukul meja, tapi Alan yang panik bila tangan Leonardo terluka.


Beraninya mereka mencibir Mele di belakang, apa urusannya bila Mele ada hubungan dengan aku, pantas saja aku penasaran ingin melihat rekaman CCTV, ternyata ada berita yang aku lewatkan.


Leonardo menggeser kursor membuka rekaman CCTV di bagian pantry.


Duar!


Leonardo makin terkejut mendengar ada pembicaraan negatif pada Milea.


"Iya dia pembantunya, nyatanya dia membuat teh."


"Kalo aku tidak yakin, bisa saja dia wanita bayaran, karena jelek dibayar murahan."


"Cocok kalo dibayar murahan, lihatlah penampilannya jelek, bajunya juga jelek."


"Dia memang cocoknya jadi pembantu."


Hahah!


Brakk!


Leonardo kembali menggebrak meja, semakin marah dan semakin tidak terima bila Milea di hujat karyawannya sendiri.


Alan yang berdiri di samping Leonardo, mengecek tangan Leonardo, khawatir terluka, padahal Leonardo tidak peduli mau tangannya terluka, saat ini yang dirinya pedulikan adalah Milea, untuk membalas mereka yang sudah berani bergosip tentang Milea.


"Apa Tuan ada rencana sesuatu untuk mereka?" Alan bertanya, dan bila dirinya diperintahkan untuk membalas mereka, Alan akan melakukan dengan suka rela.


Setelah di pikir-pikir, Alan sudah lama tidak maki-maki orang.


"Kira-kira apa balasan yang pantas untuk mereka?"


Eh kenapa dia tidak memiliki rencana, biasanya dia yang paling pandai bila membalas dendam pada seseorang, kenapa ini bertanya, apa ini karena Nona, Alan malah membatin bukannya menjawab, yang bertanya makin kesal saat Alan diam saja.


"Hei jawab!"


"Di pecat saja Tuan, di pecat."


Hemm, Leonardo berpikir seraya menopang dagu mengunakan tangan.


Tumben kenapa Tuan sampai berpikir segala, berbalas dendam kan tidak harus terlihat keren Tuan, batin Alan lagi semakin bingung melihat sikap Leonardo.

__ADS_1


"Tidak aku tidak setuju."


Kalo tidak setuju ya cari cara sendiri, tumben Anda masih mempertahankan karyawan seperti itu setelah membuat Anda tidak suka, batin Alan lgi.


"Mele jualan roti kan, aku mau pesan roti Mele, dan dipromosikan di depan mereka setelah mereka makan roti buatan Mele, dan akan aku beritahu pada mereka bila yang membuat roti itu adalah Mele."


"Bagaimana ide aku bagus kan." Leonardo minta dipuji.


Bagus Tuan sangat bagus, tumben cara Anda berbalas dendam tidak kejam Tuan.


"Bagus Tuan, baik saya akan segera menghubungi nomor toko roti tempat Nona."


Hem. Leonardo mengibaskan tangan.


Sementara itu di toko roti Milea, saat ini telepon khusus toko berdering, Tata mengangkatnya.


"Halo dari Milea bakery." Tata bicara.


"1000 bok roti, dua hari lagi, baik-baik kami siap." Tata menjawab ucapan seseorang di seberang sambungan telepon sana.


Milea dan Nindi saling pandang saat mendengar suara Tata, yang kemudian disusul suara heboh Tata berteriak kegirangan.


"Yeee." Tata melompat-lompat.


"Ada apa si." Milea dan Nindi bicara bersamaan.


"Wah yang benar!" teriak Nindi yang juga merasa senang, Tata mengangguk.


"Siapa yang memesan?" Milea penasaran karena 1000 bok itu banyak, bila acara biasa tentu tidak mungkin.


"Armada Group perusahan besar yang baru pertama kali ini memesan lho, kita harus merayakan ini ..."


Deg!


Bersamaan Tata selesai bicara, Milea langsung merasa tubuhnya lemas, tangannya meraih kursi lalu duduk di sana.


Ke-kenapa dia memesan roti ku, apa yang mau dia perbuat, dia tidak akan macam-macam kan dengan roti aku, aku tidak mau dia merusak usaha aku.


Milea terdiam dengan segala pikiran buruknya, Milea takut Leonardo akan merusak usahanya yang tengah lama dirinya bangun, mengingat pria itu sangat usil.


Tidakkk!


"Kak Lea kenapa?" Nindi dan Tata panik memegangi bahu Milea.


"Ah, aku," ucap Milea dengan suara lemah, matanya terlihat ketakutan.


"Kak, kak Lea." Nindi dan Tata mengguncang bahu Milea, supaya sadar.

__ADS_1


"Aku mau pulang ini sudah sore, kalian juga segeralah pulng."


Setelah bicara seperti itu Milea langsung berjalan cepat keluar toko sembari menyambar tasnya, meninggalkan Nindi dan Tata yang semakin bingung.


sementara itu Leonardo dan Sekertaris Alan, saat ini juga sedang menuju untuk pulang, saat melewati loby, Leonardo menoleh ke arah mereka yang kemarin menjulid Milea.


Karyawan yang di tatap Leonardo tersenyum, tidak tahu bila saat ini Leonardo ingin mengingat wajah mereka.


Melengos menatap ke depan seraya membenahi jas nya, semua karyawan wanita menatap Leonardo sampai tidak berkedip.


"Eh, tadi Tuan Leon menatap aku, melihat aku, ahh seneng banget rasanya," ucap karyawan yang kemarin paling tajam menjulid Milea.


"Ia tidak seperti biasanya, apa Tuan menyukaimu," ucap temannya yang tadi ikut memperhatikan mata Leonardo menatap teman sebelahnya.


Sementara Leonardo yang saat ini sedang dibicarakan sudah berada dalam perjalanan menuju pulang.


Setelah menempuh tiga puluh menit, mobil yang membawa Leonardo sampai di depan gerbang.


Bersamaan itu Milea juga baru sampai. Berdiri di depan gerbang menunggu satpam membuka gerbang.


Tin.


Tin.


Milea terlonjak kaget saat mendengar suara bunyi klakson begitu dekat, menoleh kebelakang ternyata mobil Leonardo.


His! benar-benar ya kalian, siapa sih yang menyetir, Milea menajamkan matanya untuk melihat siapa di dalam, hah! Sudah pasti Sekertaris menyebalkan itu, kalian memang sama, sama-sama menyebalkan.


Milea minggir, membiarkan mobil masuk ke dalam lebih dulu, Milea berjalan dengan kaki yang di hentak-hentakkan. Satpam yang melihat cara berjalan Milea sampai geleng kepala.


Wajahnya sok ditekuk saat berdiri di depan pintu mobil Leonardo, pura-pura jutek tidak peduli saat Leonardo sudah berdiri di depannya.


Leonardo mentonyor kening Milea, gadis itu mengusap keningnya dengan bibir mengerucut tajam.


Leonardo hanya tergelak tawa, mengibaskan tangannya tanda Alan boleh pulang.


Ibu Alenta yang sudah semangat menyambut Milea pulang, senyumnya sudah melebar, seketika meredup saat melihat Milea pulang ke rumah bersama Leonardo.


Sialan! Kenapa dia pulang ke rumah tepat bersama Leonardo! bila seperti usahaku ingin mengerjai Milea jelas gagal total, batin Ibu Alenta seraya mengepalkan tangannya.


Ahirnya Ibu Alenta menyambut Leonardo dan melupakan rencananya yang sudah gagal total.


"Istirahatlah Nak, kamu pasti lelah." Ibu Alenta menepuk pelan lengan Leonardo saat pria itu berdiri di sampingnya.


"Saya Bu, tidak diucapkan, hehe." Milea yang ingin menjahili mertuanya.


Melihat Milea Ibu Alenta mendengus kesal seraya membuang muka.

__ADS_1


Wah lucu sekali mukanya masam-masam xixixixi, batin Milea cekikikan masih berusaha menoleh ke belakang untuk melihat wajah jutek Ibu Alenta sebelum ahirnya fokus berjalan ke depan menuju kamarnya berada.


__ADS_2