
Pagi harinya di rumah utama, kabar mengenai Leonardo sakit terdengar kesemua para pelayan.
Leonardo sakitnya manja tidak mau ditinggal Milea walau hanya sebentar, saat ini Milea duduk di ranjang dengan kaki lurus ke depan, pahanya digunakan Leonardo sebagai bantalan, Milea mengusap-usap rambut Leonardo.
Ibu Alenta yang mendengar bahwa Leonardo sakit, segera masuk ke dalam kamar Leonardo, untuk melihat sang putra.
Sampai di dalam sana sedikit kesal melihat Leonardo bermanja dengan Milea, tapi Ibu Alenta tidak mau memarahi karena tujuannya menanyakan keadaan Leonardo.
"Leon, kamu sakit apa, Nak?" tanya Ibu Alenta yang saat ini sudah berdiri di dekat ranjang, meletakkan telapak tangannya ke kening Leonardo.
Ibu Alenta beralih menatap Milea."Sudah minum obat belum Leonardo?"
"Sudah, Bu."
Ibu Alenta kembali melihat Leonardo, hatinya sebagai Ibu sedih melihat putranya sakit, Leonardo jarang sakit, sekalinya sakit Ibu Alenta jadi khawatir.
"Leon, Ibu buatkan bubur ya, buat kamu sarapan."
Leonardo tidak menjawab ucapan ibunya, kepalanya terasa pusing, Ibu Alenta segera pergi ke dapur untuk membuat bubur.
Dokter Arman baru saja tiba, pagi-pagi sekali tadi Pak Ahmad sudah menelponnya, mengabari bila Leonardo sakit.
Pak Ahmad mendekati Dokter Arman yang baru datang itu, kemudian keduanya bersama-sama masuk ke dalam.
Saat tiba di ruang keluarga bertemu Ibu Alenta, Dokter Arman menunduk hormat pada Ibu Alenta, kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar Leonardo berada.
Saat tiba di depan pintu kamar Leonardo, Dokter Arman menghela nafas panjang, Pak Ahmad sudah membuka pintu kamar itu, Milea yang berada di dalam seketika bisa melihat siapa yang sedang datang.
Mata Milea bertemu dengan mata Dokter Arman.
Hah malu sekali aku, batin Milea kemudian mengalihkan pandangannya.
Idih dia manja amat sakit gitu aja minta kepalanya dielus-elus kaya bayi, hah aku curiga? dia beneran sakit atau hanya akting, batin Dokter Arman seraya berjalan mendekati ranjang.
"Sudah berapa lama?" tanya Dokter Arman supaya terlihat peduli, padahal dalam hatinya sedang tidak peduli, masih curiga sama Leonardo.
Setelah mengeluarkan alat untuk memeriksa Leonardo, dokter Arman langsung terkejut bahwa Leonardo beneran sakit.
Manusia belagu ini bisa sakit juga, batin dokter Arman sedikit menertawai.
Dokter Arman geleng-geleng kepala saat melihat Leonardo yang habis diperiksa kembali tiduran di pangkuan Milea.
Milea sendiri jadi senyum malu-malu.
Dokter Arman kembali menyimpan alatnya ke dalam tas yang ia bawa.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya Dokter?" tanya Milea saat melihat Dokter Arman mengambil beberapa resep obat.
"Hanya sakit biasa, sebentar lagi juga sembuh," bicara lembut dan tersenyum ke arah Milea.
Leonardo langsung berdehhem keras.
Apa sih haha dia cemburu, batin Dokter Arman mendengar dehheman keras Leonardo.
Kode keras! jangan bicara sok lembut dengan istriku, begitulah arti yang dokter Arman tangkap dari dehheman keras Leonardo.
Dokter Arman jadi ingin mengerjai Leonardo, dokter Arman sengaja mendekati Milea seraya memberikan obat ke tangan Milea.
"Simpan ini berikan ke dia setelah habis makan."
Obat itu sudah berada di tangan Milea, Dokter Arman mengambil lagi yang bungkus beda seraya menunjukkan ke Milea. "Yang ini khusus malam."
"Iya," jawab ramah Milea disertai senyum.
Leonardo kembali berdehhem keras seraya melempar guling ke arah dokter Arman, Milea jadi kebingungan karena tidak mengerti semuanya.
Dokter Arman tertawa seraya menangkap guling itu.
Setelah tidak ada lagi urusan, dokter Arman ijin pergi, hanya Milea yang menjawab, sementara Leonardo menahan kesal.
Dokter Arman keluar kamar masih disertai tawa, saat sudah sampai di lantai satu, kembali bertemu Ibu Alenta.
"Bagaimana keadaan Leon? apa dia baik-baik saja?" tanya Ibu Alenta yang saat ini membawa nampan berisi mangkuk bubur.
"Baik, Nyonya. tidak ada penyakit yang mengkhawatirkan."
Ibu Alenta manggut-manggut. "Baiklah, oh ya kamu mau pulang sekarang?"
Ya pulang sekarang lah masak iya pulang nanti, mau suruh liatin anakmu yang bermesraan itu, hih ogah, batin Dokter Arman seraya mengangguk.
Ibu Alenta kemudian berjalan lagi menuju kamar Leonardo.
Dokter Arman langsung pergi dari rumah utama, kembali ke rumah sakit.
Ibu Alenta yang sudah berada di dalam kamar Leonardo, meletakkan bubur buatannya di meja, meminta Milea untuk menyingkir, gantian Ibu Alenta yang duduk di posisi Milea tadi.
"Leon, kamu harus sarapan biar kamu cepat sembuh," ucap Ibu Alenta dengan lembut.
Milea yang masih berdiri di tempat tersebut sampai terkejut, berpikir Ibu Alenta ternyata bisa lembut juga, hati Milea malah tertawa.
Leonardo mau menurut, karena tidak mau sakit lebih lama, dengan kepala menahan pusing, Leonardo memaksa untuk duduk.
__ADS_1
Ibu Alenta mengambil mangkuk bubur kemudian mulai menyuapi Leonardo.
Karena itu adalah bubur jadi tidak Leonardo kunyah. "Bu, rasanya tidak enak," celetuk Leonardo mengomentari.
Bibir Milea kedut-kedut menahan tawa mendengar ucapan Leonardo, apa lagi melihat ekspresi wajah Leonardo saat makan bubur itu.
Ibu Alenta menghela nafas panjang. "Karena kamu lagi sakit Leon," ucap Ibu Alenta yang kembali mau menyuapi Leonardo.
Leonardo menggeleng tidak mau membuka mulut, gemesin seperti anak kecil di mata Milea.
"Ini asin, Bu. Coba Ibu cicipi," ucap Leonardo seraya mendengus kesal.
"Apa!" Ibu Alenta tidak percaya bila dibilang asin bubur buatannya, dan segera mencicipi.
Pih, bibir Ibu Alenta langsung menyebik merasakan buburnya tidak enak.
Tawa Milea yang sedari tadi ditahan kini langsung meledak.
Hahahah.
Mendengar Milea tertawa, Ibu Alenta menatap tajam.
Dasar wanita sialan! dia malah menertawai aku, batin Ibu Alenta kesal.
Milea yang sadar akan sikapnya barusan langsung buru-buru menutup mulutnya, namun masih tertawa cekikikan di balik tangannya yang menutup mulut.
Ibu Alenta kemudian pergi dari kamar, namun saat mau berjalan keluar, Ibu Alenta menyenggol lengan Milea.
Milea hanya bisa menertawai sikap Ibu Alenta.
Tapi setelah semua pergi dan tinggal dirinya sendiri di kamar ini, Milea jadi pusing mikirin Leonardo yang sakit, Milea kembali mendekati Leonardo, pria itu saat ini sudah kembali berbaring, Milea memijit kepala Leonardo pelan-pelan.
Sementara Ibu Alenta terus ngedumel karena masakannya tidak enak, dan Milea yang tadi malah menertawai.
Di dapur bertemu pelayan yang lain, Ibu Alenta menyerahkan bubur itu, kemudian berjalan pergi.
Hah semua ini pasti karena Milea, dulu juga Leonardo menyukai bubur buatan aku, masih ngedumel menyalahkan Milea.
Pelayan yang mendengar ocehan Ibu Alenta, membenarkan Milea.
Karena dulu Tuan Muda terpaksa Nyonya, jika Nyonya tahu masakan buatan Nyonya itu dari dulu asin, ingin sekali pelayan itu menjawab seperti itu namun tidak miliki keberanian.
Di dalam kamar utama, Leonardo ahirnya tidur setelah Milea pijit kepalanya.
Milea menyelimuti tubuh Leonardo, wajah pria itu terlihat pucat, bibir yang biasanya tampak merah alami kini bewarna putih.
__ADS_1
Milea terus menatapi wajah Leonardo seraya mengusap kepala Leonardo.
Cepet sembuh ya supaya aku ada teman kejahilannya, saat kamu sakit ternyata aku rindu saat kamu jahil, batin Milea yang merasa aneh pada dirinya sendiri, Milea terkekeh, lucu aja kalo dipikirin.