Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 73. Itu Mele ku.


__ADS_3

Toko roti Milea.


Tata menghampiri Milea yang saat ini sedang duduk bersama Nindi lagi makan petis mangga. "Kak Lea, mau nganter jam berapa ke Panti Asuhan Mutia?"


Milea menatap Tata yang saat ini sedang menarik kursi dan ikut duduk. "Sepuluh menit lagi aku berangkat, ini nanggung," jelas Milea seraya menunjuk petis mangga yang barusan dibelinya di penjual keliling.


"Hah Kak Lea juga Nindi, kalian berdua pada suka pedas," cibir Tata seraya melihat mereka berdua yang makan dengan lahap. Nindi menyela cepat, "Kamu bukannya tidak suka, tapi asam lambung kamu akan kambuh kalo makan ini."


Hahah, Milea tertawa.


Tata menyebikkan bibirnya.


Milea mengambil satu potong kecil mangga yang sudah terbaur sambal. "Kamu yakin tidak mau mencobanya?"


Tata menggeleng.


"Dia sebenarnya mau, dia sudah susah payah nahan Kak, jangan ditawarin lagi Kak, nanti pertahanannya runtuh." Nindi ikut menimpali disertai tawa.


Milea terkekeh." Nanti aku beliin makanan yang lain ya supaya kamu bisa ikut makan." Nindi menyela cepat, "Pizza Kak."


"His, aku nawarin Tata bukan kamu." Milea memukul pelan lengan Nindi, gadis itu menyengir kuda.


Milea kemudian menyuruh Nindi untuk menghabiskan petis mangga itu, sementara dirinya saat ini akan mengantar roti ke Panti Asuhan Mutia.


Tata dan Milea sama-sama berjalan keluar.


"Kak Lea, apa tidak aku saja Kak, aku tidak enak kalo Kak Lea lelah," ucap Tata yang saat ini mereka berdua sudah di dekat mobil.


Milea tersenyum menatap Tata. "Tidak apa-apa aku saja." Milea kemudian masuk ke dalam mobil. Tersenyum lagi ke arah Tata sebelum ahirnya menutup kaca mobil dan melajukan mobilnya.


Saat ini di Panti Asuhan Mutia sedang ada acara syukuran, namun acara itu dimulai habis magrib, jadi Milea diminta untuk mengantar roti sore hari.


Saat ini baru pukul empat sore lewat lima belas menit, dan tempat Panti Asuhan Mutia dengan jarak dari toko roti Milea hanya tiga puluh menit.


Dan setelah sampai di sana, kedatangan Milea langsung disambut ibu-ibu panti yang siap mau mengambil roti yang Milea antar.

__ADS_1


Ada enam ibu-ibu panti yang mendekati Milea, satu per satu Milea kasih dua dus isi roti.


Enam ibu-ibu itu langsung membawa roti masuk ke dalam.


"Neng Lea, masuk saja dulu ke dalam," ucap Ibu Salwa ketua ibu panti tiba-tiba menyapa Milea, membuat Milea yang mau masuk ke dalam mobil jadi diurungkan.


Milea tersenyum seraya menunduk hormat. "Terimakasih banyak Ibu Salwa, tapi Lea rasa lain kali saja, supaya bisa bermain dengan anak-anak."


"Baiklah jika Neng Lea tidak mau, hati-hati di jalan," ucap Ibu Salwa yang juga tersenyum ke arah Milea.


Milea menunduk hormat lagi sebelum ahirnya masuk ke dalam mobil, membunyikan klakson tanda permisi kemudian menjalankan mobilnya.


Ibu Salwa dan Milea saling kenal, sejak satu tahun yang lalu, berawal Ibu Salwa memesan roti, sampai sekarang setiap ada acara di panti asuhan, akan memesan roti Milea.


Sementara itu Leonardo saat ini sedang ada meeting bersama klien di sebuah hotel.


Kali ini klien yang Leonardo temui mau menjual beberapa hotel miliknya pada Leonardo, obrolan mereka sudah cukup lama sejak empat puluh menit yang lalu.


Setelah mendapat harga negosiasi, Leonardo menyetujui tawaran tersebut.


Dan surat kepemilikan hotel akan diserahkan besok, pria itu akan datang ke perusahaan Armada Group.


Sementara itu Milea yang ingin menepati janjinya, saat ini sedang membeli pizza, Milea sedang menunggu pesanannya.


Sepuluh menit, pesanan pizza Milea sudah jadi, setelah membayar tagihan, Milea langsung berjalan keluar.


Leonardo yang baru keluar dari pintu ballroom hotel, mata tajamnya langsung menangkap Milea yang baru saja keluar dari restoran pizza hart yang berada di seberang jalan sana.


Leonardo melihat Milea pakai topi dan dari wajah gadis itu terlihat lelah dan keluar keringat di dahinya.


Itu mele ku, gumamnya yang tanpa pikir panjang Leonardo langsung berjalan cepat, tidak peduli kendaraan di jalan yang padat, Leonardo tetap memaksa menyebrang jalan.


Sekertaris Alan sampai terbengong campur jantung berdebar-debar melihat Leonardo nekat menyebarang jalan, Sekertaris Alan ikut berjalan ke depan seraya melihat ke arah Leonardo yang saat ini sudah di dekat mobil Milea.


"Mele."

__ADS_1


Milea yang mendengar nama itu, dan paham orang yang hanya menyebut nama itu, jantungnya langsung terpacu cepat seraya berbalik badan.


Milea langsung terkejut saat tiba-tiba Leonardo memeluknya, Milea masih terkejut hanya berdiam diri tidak membalas pelukan Leonardo.


Hening.


Seolah waktu berhenti.


Setelah cukup lama memeluk Milea, Leonardo melerainya, mengambil topi yang Milea pakai, kemudian mengambil sapu tangannya dan mengelap keringat di dahi Milea.


Posisi parkiran mobil Milea itu di dekat pinggir jalan, kendaraan yang lalu lalang, serta orang-orang yang berada di sekitar, semua melihat ke arah Leonardo dan Milea.


Mereka semua terbengong melihat pemandangan romantis itu, yang tidak mengenal Leonardo juga terkejut, tapi yang mengenal Leonardo makin lebih terkejut.


Seorang Presdir Armada Group mau diterpa debu dalam waktu lama, dan apa itu yang dilakukannya? dia mengelap keringat gadis kecil yang dari wajahnya tidak terlalu cantik tapi gadis itu manis. Begitulah kekaguman mereka yang mengenali Leonardo.


Milea merasakan banyak pasang mata yang melihat ke arahnya, Milea menghentikan gerakan tangan Leonardo yang mengelap keringat di dahinya.


"Tuanku, mengapa Anda ke sini, lihatlah ke sekitar, mereka melihat ke arah kita," ucap Milea pelan hanya Leonardo yang mampu mendengar.


Leonardo melihat ke sekeliling dan benar saja yang barusan Milea katakan, semua orang melihat kearahnya sudah seperti artis saja, bahkan yang berada di kendaraan juga melihat ke arahnya yang kebetulan ada lampu merah kendaraan pada berhenti.


Padahal setelah ini yang paling direpotkan adalah sekertaris Alan, karena sudah dapat dipastikan akan ada gosip beredar baru tentang Leonardo Presdir Armada Group bersikap romantis dengan gadis biasa.


Ayo lah Tuan segera kembali, kasihan Nona akan dijulid banyak netizen nanti, batin khawatir Sekertaris Alan yang berdiri di sebrang jalan sana.


Melihat kekacauan karena ulahnya sendiri Leonardo menghela nafas panjang, bagaimana tidak kacau saat lampu merah berganti hijau, banyak pengemudi kendaraan yang melamun.


Yang berjalan kaki juga banyak yang sampai saling tabrak berjalannya.


Leonardo memakaikan lagi topi Milea. "Besok-besok kamu harus pakai helm meski bawa mobil, supaya orang-orang tidak melihat wajah kamu."


Apa an sih! yang mereka lihat itu wajah Anda Tuan, bukan wajah jelek saya, batin Milea protes.


Namun aslinya Milea hanya mengangguk.

__ADS_1


Leonardo menangkup wajah Milea dengan gemas. "Pulanglah sampai bertemu di rumah."


Selesai bicara Leonardo langsung berjalan pergi, saat melewati sebarang jalan, ada yang mencuri-curi ambil gambar fotonya.


__ADS_2